Idenesia: Horas Toba

Anggitondi Martaon    •    Rabu, 21 Sep 2016 20:06 WIB
galeriindonesiakaya
Idenesia: Horas Toba
Pertunjukan Sigale-gale (Foto:Antara/Irsan Mulyadi)

Metrotvnews.com, Jakarta: Indonesia memiliki keindahan alam yang tak ternilai harganya. Di berbagai kawasan, selalu ada potensi keindahan alam yang selalu menarik minat wisatawan untuk datang berkunjung.

Hal itu membuat pemerintah melalui Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menetapkan 10 destinasi wisata Indonesia. Salah satunya Danau Toba, Sumatera Utara.

Untuk menarik minat wisatawan, baru-baru ini diadakan Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba 2016. Tak tanggung-tanggung, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) hadir langsung melihat keindahan Danau terbesar di Indonesia tersebut.

Tak hanya Presiden Jokowi, Yovie Widianto pun tertarik untuk melihat bagaimana keindahan Danau Toba yang menjadi buah bibir saat ini. Dalam perjalanannya mengeksplorasi keindahan Danau Toba, Yovie ditemani oleh Budayawan Batak Thomson Hutasoit.

Thomson mengatakan, tak mengherankan kenapa Danau Toba ditetapkan sebagai salah satu andalan pemerintah untuk menarik wisatawan. Sebab, Danau Toba tidak hanya menyajikan keindahan alam, tapi juga budaya.

"Disini sangat kaya, kulturnya itu kaya. Ada Batak Toba, Batak Simmalungun, Batak Karo. Masing-masing  punya perbedaan," kata Thomson kepada Yovie dalam program Idenesia dengan tema Horas Toba yang tayang di Metro TV.

Dengan berbagai keindahan yang memanjakan mata, hati dan pikiran, pertanyaan yang timbul dibenak Yovie apa yang harus dilakukan untuk memajukan potensi alam Danau Toba ini. Thomson pun menjawab, koordinasi pemerintah daerah, terutama tingkat Kabupaten.

Sebab, danau yang memiliki luas 1.130 kilometer itu dikelilingi oleh tujuh kepemerintahan Kabupaten, yaitu Samosir, Karo, Tapanuli Utara, Toba Samosir, Simalungun, Humbang Hasundutan dan Dairi.

"Semenjak tahun 70an sebenarnya sudah menjadi tujuan wisata dan beberapa titik yang lain. Saya kira koordinasi tujuh kabupaten ini yang kita harapkan," ungkap dia.

Selain menikmati perjalanan diatas sebuah kapal mengitari Danau Toba, Yovie juga mendapatkan pengetahuan tentang sejarah Pulau Samosir. Seperti yang kita tahu, bicara Danau Toba tentu tak lepas dari Pulau Samosir.

Thomson menjelaskan, berdasarkan sejarah, salah satu sisi Pulau Samosir pada awalnya terhubungan dengan daratan. ‎Tidak seperti saat sekarang ini yang benar-terpisah membentuk sebuah pulau.

"Pulau samosir yang ada sekarang bukan pulau sebenarnya dulu. Jadi pada zaman Belanda di Tanjung Bunga di keruk oleh Belanda. Dulu satu dengan daratan Sumatera," terang dia.

Terlepas dari sejarah terbentuknya, Thomson menjelaskan bahwa masyarakat sekitar menganggap ‎Pulau Samosir merupakan tempat turunnya nenek moyang orang Batak. Desa pertama yang dibentuk yaitu Sianjur Mula Mula.

"‎Kemudian menyebar ke Barat, Timur, dan ke berbagai arah sampai keluar Danau Toba. Jadi Pulau Samosir sangat akrab sebagai awal mitos orang Batak Pungkas dia.

Setelah puas naik kapal menikmati keindahan Danau Toba, Yovie pun tertarik melihat kekayaan budaya disekitar, yaitu Tari Tor Tor yang diiringi oleh musik khas batak.

Namun ada satu hal yang menarik perhatian Yovie saat menikmati Tari Tor Tor‎, yaitu Patung Sigale-gale. Tak hanya penari, patung itu juga ikut menari mengikuti alunan musik.

Berdasarkan keterangan pemuka adat‎, sejarah awal patung Sigale-gale yaitu berasal dari kisah seorang Raja yang bernama Ahad yang kehilangan anak tunggalnya saat berperang. Nama anak tersebut Sigale-gale.

Sigale-gale hilang setelah ayahnya memutuskan untuk membawanya ke medan perang. Saat akan berperang, tak satupun orang termasuk raja mengetahui keberadaan Sigale-gale.

"Apakah terbunuh oleh musuh, atau dimakan binatang buas, tidak tahu. Setelah balik semuanya ke kampung, ternyata Sigale-gale tidak kelihatan," kata tetua adat tersebut.

Karena putus asa, raja kemudian memanggil seorang dukun bernama Datuk Panggana. Kemudian‎ sang dukun membuat patung Sigale-gale.‎ "Konon katanya, patung yang dibuat sama persis dengan rupa Sigale-gale," pungkas pemuka adat tersebut.

Selain Tari Tor Tor dan Sigale-gale, salah satu identitas lain orang Batak yaitu Ulos (kain) Mangiring. Jika diingat-ingat, saat Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba 2016 yang lalu, pemuka adat suku Batak berkesempatan mengenakan Ulos Mangiring kepada Presiden Jokowi.

Ternyata, pemberian Ulos Mangiring tidak hanya sekadar simbol seremonial belaka. ‎Ada makna di balik pemberian Ulos Mangiring kepada orang nomor satu di Indonesia tersebut.

"Dalam bahasa batak, artinya mengawasi anak-anaknya. ‎Oleh karena itu, kita kasih Ulos Mangiring kepada Presiden Jokowi agar bisa mengawasi kita semua bangsa Indonesia," kata pemuka adat tersebut.

Selain itu, dalam eksplorasi kekayaan alam dan budayanya, Yovie juga menyempatkan mampir ke daerah lain disektaran Danau Toba itu. Tepatnya ‎ke daerah Simalungun.

Di sana, Yovie disambut bagaikan tamu kehormatan dan dipasang kain ulos sebagai tanda bagian dari masyarakat Simalungun. ‎Di Simalungun, ‎Yovie tertarik dengan rumah adat Rumah Bolon Simalungun yang sangat unik.

Penasaran bagaimana keunikan Rumah Bolon Simalungun serta perjalanan Yovie menyusui keindahan alam dan budaya Danau Toba? Saksikan IDEnesia di Metro TV pada Kamis(22/9/2016) pukul 22.30 WIB.

Jangan lupa, ikuti kuis IDEnesia dan Galeri Indonesia Kaya dengan follow twitter @IDEnesiaTwit atau @IndonesiaKaya.


(ROS)