Jelajah Melbourne

Kegelisahan Muslim Asal Indonesia di Melbourne

Hilman Haris    •    Selasa, 20 Sep 2016 19:05 WIB
wisata australia
Kegelisahan Muslim Asal Indonesia di Melbourne
Association of Islamic Dakwah Australia (AIDA), untuk kawasan Utara Altona, Victoria

Metrotvnews.com, Melbourne: Umat Islam di Indonesia yang memutuskan untuk menimba ilmu di negera tetangga sangat banyak. Termasuk di Australia. Jumlahnya dikabarkan bisa sampai ribuan. Bahkan, menurut data dari Association of Islamic Dakwah Australia (AIDA), untuk kawasan Utara Altona, Victoria saja, pemeluk agama Islam asal Tanah Air mencapai 130 orang.

Mirisnya, pemerintah Indonesia seperti tutup mata dengan kondisi ini. Buktinya masyarakat Indonesia yang berada di Australia, khususnya Victoria, Melbourne kesulitan mendapatkan dana dari pemerintah tiap kali ada rencana membangun Masjid.

Alhasil, dana pembangunan Masjid di Victoria, Melbourne berasal dari iuran para orang-orang berpaspor Indonesia. Cara itu juga dilakukan oleh AIDA ketika memutuskan untuk membeli lahan seluas hampir 1 hektar meter persegi untuk membangun Masjid di daerah Altona Utara, Victoria.

"Semuanya berasal dari uang kami. Anggota mengumpulkan dana dari hari ke hari untuk membangun Masjid. Sejauh ini masih lahan kosong. Kami masih menggunakan Masjid yang lama. Masjid ini juga dibangun hasil dari iuran para anggota," ujar Wiraguna Sunan selaku Ketua AIDA Victoria saat ditemui Metrotvnews.com.

Pendanaan dan ketidakingitahuan pemerintah Indonesia bukan satu-satunya kerikil yang dihadapi AIDA ketika ingin membangun Masjid. Jauh sebelum itu, mereka juga sudah lebih dulu dihadapkan dengan aturan ketat yang diterapkan oleh pemerintah Australia.


(AIDA membangun masjid dengan uang dari iuran anggota)

"Tanah ini sebetulnya sudah milik kami. Namun, kami tidak bisa seenaknya saja untuk mendirikan bangunan. Tetap ada prosedur panjang yang harus dilewati. Pemerintah Australia punya penilaian ketat soal pendirian bangunan. Prosesnya sangat panjang dan lama," kisah Sunan.

Toh, semua tantangan itu bisa dilewati oleh para anggota AIDA dengan baik. Bahkan, perkumpulan mereka kini menjadi percontohan bagi Asosiasi-asosiasi Islam dari negara lain.

"Banyak orang-orang Turki kaget ketika datang ke AIDA. Mereka tidak mengira bahwa anak-anak muda asal Indonesia sudah mau bekerja membangun Masjid dan menjadi Imam ketika beribadah," tutup Sunan.

Terlepas dari itu, sudah saatnya bagi pemerintah memperhatikan orang Indonesia perantauan. Tak perlu muluk. Cukup memberikan bantuan kepada mereka yang berusaha mendirikan tempat beribadah di belahan dunia lainnya.


(HIL)