Meneropong Jajanan Lokal lewat Mata Luke Nguyen

Media Indonesia    •    Rabu, 07 Sep 2016 10:39 WIB
kuliner jabodetabek
Meneropong Jajanan Lokal lewat Mata Luke Nguyen
(Foto: Dok. TLC)

Metrotvnews.com, Jakarta: Makanan jalanan (street food) bisa mewakili kultur suatu negara. Makanan itu bisa berupa hidangan tradisional khas, atau yang sudah terakulturasi dengan budaya lain.

Seporsi gado-gado tersaji di hadapan kami. Sayurannya yang sudah direbus masih tampak segar, tanda perebusannya cukup, tidak berlebih. Dibalut sambal kacang pedas, gado-gado tersebut terasa menyegarkan.

Bagi Anda yang tinggal di Indonesia terutama di Pulau Jawa, gado-gado tentu menjadi penganan yang biasa. Jajanan ini memang mudah ditemukan di pinggir jalan. Namun, di mata Luke Nguyen, sepiring gado-gado tampak istimewa. "Saya suka melihat makanan di jalanan diolah, bagi saya itu seperti pertunjukan seni," aku Luke Nguyen ketika diwawancarai via Skype, Senin (15/8) pagi.

Chef pembawa acara makanan dan memasak di televisi yang dikenal sebagai ahlinya makanan jalanan alias street food itu, baru-baru ini, mengunjungi Indonesia untuk syuting program terbarunya di TLC. Program Luke Nguyen's Street Food Asia tayang setiap Senin mulai 22 Agustus. (Baca juga: Wisata Kuliner di Restoran Berusia 3 Abad)

Baginya, memakan makanan di jalan atau hidangan tradisional ialah salah satu gerbang untuk memahami kultur setiap negara. Memang hidangan tradisional biasanya bisa ditemukan di restoran hotel juga. Namun, menurutnya, ada banyak yang dilewatkan bila seorang pelancong memilih menikmati hidangan di hotel.

"Interaksi dengan orang lokal itu bisa didapatkan di warung dan jajanan jalanan," cetusnya. Banyak turis mengkhawatirkan tingkat kebersihan dan kehigienisan makanan kaki lima dan street food. Itu justru tidak dikhawatirkan lelaki yang lahir di kamp pengungsian di Thailand dan dibawa orangtuanya melarikan diri ke Vietnam, lalu pindah ke Australia, itu. "Caranya mudah saja, di street food itu kita bisa lihat apakah bahan bakunya segar atau tidak, jika tidak, tidak perlu beli di sana," sarannya.

Luke biasanya memilih jajanan yang letaknya tak jauh dari pasar. "Karena lokasinya dekat bahan baku, mereka cenderung pakai bahan-bahan yang segar, kalau habis tinggal beli lagi di pasar," pikirnya.

Media Indonesia berkesempatan menyusuri beberapa makanan yang dicicipi Luke Nguyen di Jakarta dan baru akan tayang Oktober mendatang. Berikut ini beberapa di antaranya.

Soto betawi afung


Soto betawi Afung (Foto: Dok.MI/Hera Khaerani)

Soto yang satu ini terbilang unik lantaran letaknya di kawasan pecinan di Jalan Pancoran, Gang Gloria, Glodok. Afung ialah nama pemiliknya. Ia keturunan Tionghoa. "Afung itu asnawi, alias asli Tionghoa Betawi," ujar Siti, salah seorang pelayan di restoran itu.

Hadirnya soto betawi afung di kawasan pecinan itu ibarat oase bagi orang muslim pecinta kuliner. Sotonya dijamin halal. Seporsi soto dihargai Rp35 ribu dan ditambah Rp5.000 jika ingin nasi tambahan. Kendati kuahnya menggunakan santan, rasanya tidak terlalu berat, lantaran mereka mencampur tulang sumsum ke kuah santannya.

Soto betawi afung menggambarkan betul apa yang disebut Luke Nguyen sebagai pembelajaran budaya. Lewat makanan, kita bisa mengetahui kuliner di Indonesia mengalami banyak akulturasi budaya.

Gado-gado


Gado-gado (Foto: Dok.MI/Hera Khaerani)

Di antara sekian banyak pedagang gado-gado, Luke memilih yang berjualan di Jalan Karet Pasar Baru Timur 5, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Lokasinya persis di samping Citywalk. Selain rebusan sayuran yang biasa digunakan dalam gado-gado, mereka menambahkan butiran jagung rebus. Seporsi gado-gado pedas cukup menyegarkan disantap saat siang.



Soto ceker



Soto ceker(Foto: Dok.MI/Hera Khaerani)


Masih di lokasi yang sama, kami menikmati soto ceker madura. Seporsinya dihargai Rp13 ribu. Syamsul Muhari mengaku menjual soto dan gulai di kawasan itu sejak 2007. Biasanya dia menjualnya sejak pukul 07.30 hingga jelang magrib. Memang ada banyak makanan di kaki lima yang rasanya enak, tapi tantangannya mereka tak selalu ada. Syamsul mengaku kadang mereka kejar-kejaran dengan petugas Satpol PP sehingga kadang tak berjualan. (M-4)





(DEV)