Berenang di Hawaii Malah Kangen Berat Sama Pulau Seribu

Fitra Iskandar    •    Kamis, 29 Mar 2018 15:09 WIB
wisata pantaiwisata
Berenang di Hawaii Malah Kangen Berat Sama Pulau Seribu
Saat peserta wisata menaiki Four Winds II. (Foto: MEDCOM)

Hawaii.  Seperti Bali, saya langsung membayangkan pantai, jika mendengarnya. Mungkin Anda juga begitu. Maklum,  stasiun televisi, majalah atau buku kerap memasang  gambar pemandangan  pantai, ketika membahas Hawaii.

Potensi wisata baharinya begitu kondang ke seantero dunia.  Tetapi apa sih istimewanya?  Saya tidak sempat melihat ada sesuatu yang membuat Hawaii lebih spesial dari pulau-pulau di Indonesia.  Pulau Seribu,  menurut saya  lebih menarik.

Keunggulan Pulau Seribu paling menonjol dibanding kepulauan Hawaii adalah tempat makannya. Banyak yang jual  ikan bakar plus bumbu kecap dan cabe, tempe dan sambel  goreng. Belum lagi puk cue, panganan mirip pek mpek,  yang enak banget. Di Hawaii mana  ada!  :-p

Akhir tahun lalu saya berkesempatan mengunjungi negara bagian ke 50 Amerika Serikat itu.  Saya akhirnya bisa merasakan air lautnya. Tidak lagi hanya menatap dari buku atau melaui film.

Saya ke  Pulau Maui, Hawaii untuk meliput acara  Qualcomm Snapdragon Tech Summit 2017, akhir tahun lalu. Selama tiga hari, aktivitas lebih banyak di auditorium dan kamar hotel.  Beruntung,  di hari kedua ada jeda. Kami  diajak berenang di laut.  Merapatlah kami ke Maalaea Harbour.

Kesempatan yang super langka.   Terima kasih untuk kantor saya,  dan Qualcomm tentunya, yang bela- mengundang  wartawan  dari seluruh dunia ke negeri “Aloha”. Ngapain ke Hawaii?  Di sana Qualcomm mengadakan Qualcom Tech Summit 2017 sekalian memperkenalkan  system on chip (SoC) terbarunya, Snapdragon 845.

Pihak Qualcomm memang memperlakukan SoC  terkininya itu dengan istimewa. Maklum, meski barangnya tidak lebih besar dari simcard mikro,  Snapdragon 845 disebut-sebut bakal mengerek kemajuan teknologi  ke level  lebih tinggi.

Kecanggihan SoC Snapdragon 845 ini diklaim dapat mendorong  kelahiran aplikasi-aplikasi baru yang belum terbayangkan sebelumnya.  Seperti waktu zaman telepon genggam hanya bisa SMS, kita tidak  terbayang  ada  aplikasi ojek atau taksi online seperti sekarang.  Atau aplikasi  video call, yang  di era  handphone  jadul, kita baru bisa lihat di film-film sains fiksi.  Semacam-semacam itulah.

Kecanggihan itu berkat  ponsel  sekarang sudah memiliki otak (prosesor) yang lebih cerdas yang mendukung koneksi  jaringan 3G dan berkembang menjadi 4G.  Sebentar lagi, teknologi digital memasuki era 5G dengan dukungan  SoC sekelas Snapdragon 845 ini.

Oke….  

Tadi kita sudah sampai  di Maalaea Harbour.  Ini pelabuhan kecil di Maui. Ada sejumlah boat untuk wisata terparkir di sepanjang dermaga, yang  panjangnya setengah jalan Jatibaru, Tanah Abang.  Bedanya, di Maalaea  Harbour, ‘lapak’ didominasi kapal putih, bukan terpal merah pedagang kaki lima.

Kami  menumpak boat Four Winds II.  Boat bisa menampung  149 orang. Tapi rombongan kami  tidak lebih dari setengahnya. Di dalam boat ada mini bar. Mereka menyediakan keju, salad, minuman soda, dan bir. Kue-kue kecil dan keripik juga mereka sediakan.  Semuanya gratis. Tinggal comot.

Kami dibawa menuju ke satu titik bernama Coral gardens untuk berenang-renang dan snorkeling.  Kapal melaju sedang.  11-12 lah kecepatannya dengan kapalpenumpang  dari Muara Angke ke Pulau Seribu.



Kapal hanya bergerak menyusuri sisi pulau. Tidak menjauhi daratan. Sisi kanan daratan, sisi kiri laut luas.  Sisi daratan, berbukit,  dengan pemandangan seperti di  Pulau Komodo. Ada juga kincir angin putih berbaris.

Sekitar  20 menit kami akhirnya berhenti.  Awak kapal mempersilakan kami  menceburkan diri ke laut. Penasaran juga.  Seperti apa di dasar laut Hawaii. Satu sisi mau tahu, tapi terbayang juga  film dokumenter  tentang kisah  turis yang diserang hiu. Ih ngeri.

Belasan orang sudah menceburkan diri dengan atau tanpa pelampung. Mana ada hiu? Ini laut tenang dan tidak lepas-lepas amat. Coral gardens tidak langsung menghadap samudera luas kok. Di kejauhan masih terlihat pulau. Berarti masih aman. Hibur saya dalam hati. 

Coral  Gardens  memang di perairan bagian dalam pulau.  Masih  ada pulau Kahoolawe, Lanai dan Molokai, yang menutupinya dari laut lepas, Samudra Pasifik.  Maui, bentuknya nyaris sama seperti Pulau Papua, atau biji bekel.  Coral gardens ada di bagian mirip leher (kalau diibaratkan Pulau Papua) . Bagian tengkuk Pulau Maui lah yang menghadap Samudra Pasifik.



Nakhoda memegang mikrofon. Sekali-kali bergurau. Katanya nanti Anda bisa melihat kura-kura, jika berenang.  Dia berpesan agar jangan menganggu mereka.  Akhirnya saya ikut mencebur. Pakai sepatu katak, snorkel, dan tak lupa sabuk pelampung kuning. 


Pelampung kuning ini menurut saya praktis. Saya belum pernah lihat di Indonesia. Untuk pelampung biasanya, di Indonesia yang umum berbentuk rompi. Pelampung kuning itu seperti sabuk yang lebarnya 6 sentimeter dan tebal 3 sentimeter. Kuning-kuning empuk. Bahannya terbuat dari  busa lembut yang dilapisi vinil.

Berenang dan Mana Kura-Kuranya?

Cuaca di Hawaii kebetulan sangat bersahabat. Hangat, tapi tidak menyengat. Air lautnya dingin. Saya mulai mengarahkan pandangan ke dasar laut. Ah,  cuma pasir. Tidak ada koral indah, seperti di Wakatobi, atau di Pulau Lengkuas di Belitung.   Dasar laut di Pulau Seribu malah lebih berwarna-warni. Banyak ikan pula.

Kapal sebenarnya punya bagian lantai yang transparan sehingga penumpang bisa melihat bagian dalam laut seperti halnya akuarium. Gambarnya di brosur sangat menarik.  Anak-anak melihat ikan warna-warni di dalam laut dari lantai ini. Tetapi kenyataannya ya tidak begitu juga.

Di Coral gardens,  pemandangannya datar. Cuma pasir putih tok. Ikannya juga cuma satu macam, warna hitam. Kura-kura tidak terlihat.  Tetapi biasanya ada, kata nakhoda boat.


Mungkin kalau saya mau eksplorasi lagi  menjauh dari boat, akan ada pemandangan yang lebih indah.  Saya memang hanya berenang-renang di area  sebesar dua kali lapangan futsal di samping kanan kapal. Takut jauh-jauh. Sekitar satu jam saya memutuskan naik ke kapal.



Lapar, saya ke tempat makanan. Saya ambil udang mentah segar dan kripik kentang serta minuman cola. Lumayan biar enggak masuk angin.

Yang menyenangkan meski tidak bilas air tawar, badan saya tidak terasa lengket. Seperti habis berenang di kolam biasa saja.  Asyik juga.



Di perjalanan pulang,  nakhoda melalui pengeras suara bilang Akan ada paus muncul . Ternyata benar. Setelah kapal  berhenti,  seekor paus hitam terlihat di permukaan antara pulau dan boat kami.  Boat dan pausnya berjarak ratusan meter. 


Foto: Maftuh

Dua kali mahluk raksasa itu muncul kepermukaan. Kemudian menghilang. Boat pun akhirnya kembali ke Dermaga Maalaea.   Sebelum merapat, seorang perempuan cantik berkaca mata dengan bikini hitam dua helai berkeliling. Dia membawa ember. Penumpang  diminta membuang minuman kaleng ke dalam embernya. Dia tidak peduli meski kaleng itu masih berisi penuh.


Foto: Maftuh

 Mereka yang lagi asyik menikmati bir, baru membuka tutup kaleng,  harus kecewa.  “ Hah, harus dibuang?! Masih penuh nih,” kata seorang penumpang  dari Brasil.  ”Tenggak habis saja,” seru perempuan awak kapal,  itu enteng. Gaya Amerika. Enggak ada sungkan-sungkannya.  Dia bilang alkohol tidak boleh ada di dermaga. Kalau minum di tengah laut, oke.

 Mungkin setelah badan dingin  berendam di laut, minum bir buat teman dari Brasil itu jadi penutup acara yang  mantap.  Kalau saya, yang  saya bayangkan  mi instant kuah, dan ikan condro bakar, seperti  yang pernah saya santap waktu ke Pulau Seribu.  

Kesimpulannya, soal tempat wisata ini,  Coral gardens, bukan tempat yang istimewa, menurut saya. Tetapi dapat menikmatinya tentu tetap jadi pengalaman yang menyenangkan. Di  lokasi lain Pulau Hawaii, sangat mungkin ada tempat yang memang indah.  Hawaii toh bukan cuma Coral gardens. 

Pantai yang jadi lokasi wisata di Hawaii berserakan di setiap sudut pulau.  Tetapi, saya  tidak penasaran untuk mengunjunginya.  Melihat laut di  Hawaii, saya justru kangen pantai di Indonesia. Ada perasaan bangga  yang baru muncul;  saya merasa pesona pantai-pantai Nusantara lebih kaya ketimbang Hawaii.

Salah satu teman saya yang juga dari Indonesia nampaknya juga datar saja. Dia ngoceh pemandangan alam di Coral Gardens  juga ada di Indonesia.  Jadi dia tidak takjub. Pun begitu saat dia mencoba mengintip dasar laut dengan snorkling. Dia biasa-biasa saja.

Tetapi, saat  turun dari kapal, ada pemandangan yang membuat dia terpesona sehingga meleng. Ia lengah dan tidak bisa melangkah dengan benar. Akhirnya  jatuh terjerembab. Rupanya kawan kita ini tidak kuasa melepaskan pandangannya dari kru kapal yang cantik tadi.

Ya, mungkin kali ini dia harus mengakui Pesona Hawaii yang satu itu. Yah, memang yang begini enggak ada di Pulau Seribu :-).


(FIT)