Jelajah Melbourne

Belajar dari Australia Soal Solidaritas Antar Umat Beragama

Hilman Haris    •    Senin, 03 Oct 2016 11:30 WIB
wisata australia
Belajar dari Australia Soal Solidaritas Antar Umat Beragama
Dubes Indonesia untuk Australia, Nadjib Riphat Kesoema (Batik coklat) mendatangi acara Indonesian Islamic Convention pertama di Melbourne

Metrotvnews.com, Melbourne: Tak ada tempat sebaik Kota Melbourne, Australia. Begitu hasil riset lembaga The Economist Intelligence Unit (EIU). Menurut survei tersebut, Melbourne dianggap sebagai kota paling layak huni di dunia.

Prestasi ini bukan barang baru bagi Melbourne. Sebelumnya, tuan rumah Formula 1 Seri Australia tersebut juga meraih predikat serupa pada 2011 hingga 2015. Melbourne memenangkan penghargaan tersebut usai meraih nilai tertinggi untuk stabilitas, pelayanan kesehatan, budaya, lingkungan, pendidikan, dan, infrastruktur, layanan kesehatan, dan pendidikan.

Sebuah predikat yang rasanya tidak mengada-ada. Menurut pantauan Metrotvnews.com, Melbourne memang terintegrasi dengan sangat baik di setiap sudut kota. Transportasi bisa mencakup ke setiap pelosok. Selain itu, pedestrian serta pemilik kendaraan nonbermotor juga memiliki area yang diistimewakan.

Dari semua nilai positif yang ada, kota berpendudukan 4,5 juta itu paling menonjol dalam hal solidaritas antarumat beragama. Di sini, Anda akan menemukan ratusan tempat ibadah untuk berbagai agama dan keyakinan. Keberadaan Kuil, Masjid, Gereja, dan Sinagoga yang berdiri di wilayah yang sangat dekat makin memperlihatkan harmonisasi di Kota Melbourne.


(Tempat ibadah berdiri secara berdekatan di wilayah Dandenong, Melbourne)


Roma tidak dibangun dalam satu malam. Begitu juga Kota Melbourne. Mereka butuh waktu yang tidak sebentar untuk mendapatkan citra seperti itu. 

Melbourne serta kota-kota di Australia lainnya bangkit dari era kegelapan usai dikucilkan akibat aksi rasialis dan anti-Imigran dari Partai Pertama Australia (Australia First Party). Anggota parlemen, Pauline Hanson, memperkeruh suasana setelah secara terbuka menentang keberadaan imigran asal Asia.

Kini, cara berpikir orang-orang di Melbourne sudah tidak sekolot itu. Justru, Melbourne bisa menjadi contoh paling konkret soal harmonisasi antarumat beragama.

"Australia memang tidak memiliki Menteri Agama seperti di Indonesia. Namun warga Australia, terutama di Melbourne sangat menghargai agama masing-masing individu. Bahkan, mereka tidak mempermasalahkan jika ada Muslim yang beribadah di taman kota," ujar Ketua Association of Islamic Dakwah Australia (AIDA), Wiraguna Soenan.

BOM BALI
Sempat ada kekhawatiran masyarakat Australia masih belum memaafkan bangsa Indonesia atas tragedi bom bunuh diri di Bali pada 12 Oktober 2012. Namun yang Metrotvnews.com temukan ternyata tidak demikian. Masyarakat Australia, khususnya di Melbourne memang masih berkabung. Namun, hal itu bukan berarti Australia masih memandang sinis bangsa Indonesia.

"Kami tahu kejadian mengenaskan itu tidak merepresentasikan Indonesia. Pelaku hanya orang gila yang mau merusak kedamaian di Indonesia. Kami tidak pernah menyalahkan apalagi memandang sinis masyarakat Indonesia. Muslim Indonesia yang ada di sini tetap kita terima dengan tangan terbuka," kata Pastur Anglican Diocese of Newcastle, Victoria, Melbourne, Rod Bower kepada Metrotvnews.com.


(Pemuka agama di Melbourne sering mengadakan diskusi)

Hebatnya, para pemangku kebijakan di Australia juga berusaha menanamkan cara berpikir seperti itu kepada generasi penerus. Caranya, dengan memberi pengertian kepada anak-anak di Sekolah Dasar soal keberagamaan agama serta hal-hal yang berkaitan dengan kerukunan antarumat.

"Anak-anak juga harus diberi tahu soal keadaan yang sebenarnya. Oleh karena itu, mereka sudah diajarkan untuk menerima perbedaan sejak dini. Mereka diajarkan untuk tidak memperlakukan non-Australia bukan sebagai orang asing. Apalagi memandang mereka sebagai penjahat," beber Executive Director Islam Council of Victoria, Nail Aykan.

Bangsa Indonesia harus melihat dan belajar dari masyarakat di Melbourne mengenai kerukunan antarumat beragama. Mereka sudah bisa membuktikan bisa akur walau hidup berdampingan dengan orang-orang dengan latar belakang agama yang berbeda. 

(Liputan ini adalah kerja sama antara Metrotvnews.com dengan ABC International)


(HIL)