Merawat Indonesia dengan Kuliner Nusantara

Yatin Suleha    •    Sabtu, 25 Aug 2018 12:11 WIB
kuliner nusantara
Merawat Indonesia dengan Kuliner Nusantara
Menikmati sajian kuliner khas Indonesia yang otentik dan lezat dengan nuansa perjuangan Indonesia di Kedai Havelaar. (Foto: Dok. Kedai Havelaar)

Jakarta: Ada berapa banyak generasi milenial yang mengenal dan pernah mencoba makanan khas nusantara seperti Brongkos? Mungkin jawabannya tak banyak. Tim Medcom.id sempat menanyakan pada 10 anak generasi milenial, rata-rata mereka pernah mendengar nama tersebut namun belum pernah mencobanya sama sekali.

Salah satu yang menyajikan masakan khas Nusantara yaitu Kedai Havelaar. Kedai milik Yusephine DS ini menyajikan aneka masakan khas Indonesia dengan sentuhan latar belakang kebangsaan.

Kedai yang terletak di Boulevard Raya, Kelapa Gading ini menyajikan beragam makanan khas Indonesia yang otentik. Sebut saja seperti brongkos, tongseng kambing, daun pepaya, sate kambing, sayur lodeh, terong pedas, nasi rawon, gulai kambing, dan masih banyak lagi yang lainnya.


(Nasi brongkos yang menjadi salah satu menu favorit di Kedai Havelaar. Foto: Dok Kedai Havelaar)

"Kami memang sengaja mengusung tema seperti ini dengan makanan khas Indonesia, terutama masih banyak dari Jawa Tengah karena kami berasal dari Yogyakarta," ucap pemilik kedai yang disapa dengan mba Lies ini.

Saat tim Medcom.id mencoba brongkos salah satu menu yang juga merupakan favorit di kedai ini Lies mengakui bahwa sebagai bagian dari mencintai budaya salah satunya lewat kuliner ini, harus ada tindakan nyata dalam merawat Indonesia.

"Mungkin yang kami lakukan ini sedikit atau kecil, namun siapa lagi yang akan melestarikan budaya dan kuliner kita sendiri kalau bukan kita," ucap Lies bangga.

(Baca juga: Semangkuk Panas Kuah Shabu-shabu Asal Taiwan, Segarkan Kembali Tubuh Anda)

Salah satu bukti nyata bahwa tak kenal maka tak sayang adalah satu remaja bersama keluarga yang Lies ceritakan. Saat disarankan untuk mencoba menu nasi brongkos, sang remaja malah mengatakan bahwa ini rawon.

"Nah itu dia, banyak yang berpikir antara rawon dengan brongkos adalah menu yang sama. Padahal mereka berbeda, yang sama hanya penampilannya saja. Sama-sama berkuah hitam," papar Lies.

Untuk itu Lies beserta dengan suami meyakinkan diri bahwa sajian cinta Indonesia melalui piring dan masuk ke dalam perut merupakan langkah kecil yang nyata dalam merawat kekayaan budaya Indonesia. 


(Selain kuliner khas, Kedai Havelaar juga menyajikan aneka teh dan kopi asli Indonesia. Foto: Dok Kedai Havelaar)

Di balik nama Kedai Havelaar
Kata Havelaar sendiri terinspirasi dari novel legendaris Max Havelaar karangan Douwes Dekker alias Multatuli. Duduk di bangkunya, Anda akan disajikan selembar koran di era kolonial yang terdapat artikel-artikel zaman dulu, yang mungkin jadi bacaan untuk menunggu pesanan Anda datang. 

Pengunjung bisa membaca mengenai pergerakan perusahaan VOC dan pergerakan pahlawan-pahlawan kita dalam merebut kemenangan. Ambience perjuangan Indonesia akan sangat terasa karena Anda akan melihat banyak sekali foto-foto pejuang nasional tertempel di dinding di sebelah kiri-kanan kedai.

Lies mengatakan bahwa setiap pengunjung di sini akan disajikan nilai tambah, yaitu mengenal kuliner asli Indonesia serta paham akan para pejuang serta perjuangan mereka untuk Indonesia. Jadi Anda bisa sambil menikmati kuliner khas Indonesia yang lezat dengan rasa yang otentik dan lebih mengenal sejarah Indonesia. 




(TIN)