Hutan Mangrove di Mamuju Jadi Tujuan Wisata

Anggi Tondi Martaon    •    Jumat, 04 Aug 2017 12:08 WIB
berita dpr
Hutan Mangrove di Mamuju Jadi Tujuan Wisata
Anggota Komisi IV DPR melihat dari dekat kondisi hutan mangrove di Dusun Saluleang. Foto: dok DPR

Metrotvnews.com, Jakarta: Kondisi hutan mangrove di Dusun Saluleang, Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar), terawat baik. Konservasi dan penataannya sangat rapi dengan hiasan kata-kata di sudut-sudut hutan.
 
Anggota Komisi IV DPR melihat dari dekat kondisi hutan mangrove dalam rangkaian kunjungan kerja ke Sulbar. Anggota Komisi IV Kasriyah mengapresiasi kondisi hutan mangrove di Dusun Saluleang.

"Saya melihat konservasi mangrove di sini baik, dilihat dari penataanya yang rapi dengan simbol kata-kata yang menarik yang dipasang di kawasan hutan," kata Kasriyah dalam keterangan tertulis, Jumat 4 Agustus 2017.

Politikus Partai Persatuan Pembangungn itu mengungkapkan, keberadaan hutan mangrove sangat penting untuk menahan abrasi. Apalagi, banyak nelayan tinggal di bantaran laut.

Dia mengimbau para nelayan agar ikut melestarikan mangrove. Selain bermanfaat untuk kelestarian lingkungan, hutan mangrove di Mamuju sudah menjadi destinasi wisata.
 
"Saya mengharapkan para aktivis lingkungan yang menciptakan wisata mangrove ini tidak hanya membudidayakan saja, namun bisa menjadi sumber pendapatan bagi kesejahteraan masyarakat di sini. Saya lihat ini baik dan positif," ungkap Kasriyah.

Klik: Jokowi Minta Akselerasi Pengembangan 10 Destinasi Pariwisata

Meski hutan mangrove di Dusun Saluleang sudah tertata dengan baik, namun masih memiliki kekurangan infrastruktur pendukung. Seperti jalan masih kecil dan kurang bagus.

Kasriyah meminta kepada pemerintah, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum, membantu membangun akses jalan yang memadai menuju objek wisata mangrove.

Ketua Kelompok Bunga Karang Munajib yang melestarikan hutan mangrove menjadi desinasi wisata mengakui, awalnya ia bekerja sendiri melestarikan hutan sebelum akhirnya dibantu teman-temannya.
 
Munajib mengatakan, pengelolaan lokasi wisata mangrove Saluleang ini dikerjasamakan dengan pemerintah daerah dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Luas lahan hutan mangrove yang dijadikan objek wisata ini sekitar 30 hektare. 75 hektare lainnya tergolong masih produktif. "Memang ada yang mati, jadi yang masih ada itu sekitar 75 hektare," terang dia.
 
Kelompok Bunga Karang, lanjut Munajib, telah menerima bantuan dari program Kebun Bibit Rakyat (KBR). Lewat program ini, Kelompok Bunga Karang mendapat sekitar 50 ribu batang mangrove untuk ditanam di lahan seluas 35 hektare.

"Jadi 35 hektare lewat swadaya masyarakat baik lembaga ataupun yang lain, dan kami juga dibantu oleh bakti sosial dan TNI," jelas Munajib.

Munajib menilai hutan konservasi di Bebanga memang punya potensi menjadi lokasi wisata mangrove. Sejak awal, ia yakin wisata mangrove mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

 


(TRK)