Kayaking, Gaya Traveling Antimainstream

   •    Senin, 12 Mar 2018 19:33 WIB
wisata jawa barat
Kayaking, Gaya Traveling Antimainstream
Dalam kayaking kekuatan fisik bukanlah segalanya. Yang terpenting ialah fleksibilitas dan kontinuitas antargerakan serta interaksi kelompok yang saling mendukung. (Foto: Dok. Haryo Prasetyo)

Jakarta: BOSAN dengan kegiatan traveling yang mainstream dan itu-itu saja? Bila itu yang Anda alami, tidak ada salahnya Anda mencoba wisata kayaking. Meskipun sama-sama dilakukan di sungai berarus deras, kayaking jauh berbeda dengan rafting.   

Anda juga tidak perlu khawatir kesulitan melakukannya, karena ada cara dan teknik baru yang membuat Anda cepat belajar dan sekaligus juga cepat menikmati kegiatan yang di zaman old hanya dilakukan oleh laki-laki terutama mereka yang muda secara kronologis, memiliki kekuatan fisik, dan juga nyali tebal.

Di era media sosial seperti zaman now, kayaking mulai dilakukan siapa saja, mulai anak-anak, remaja, dewasa secara lintas generasi, gender, maupun profesi. 

Di era old, tentu tidak terbayangkan, bila ada sekelompok ibu-ibu rumah tangga berani bermain kayak di sungai berarus deras, menguasai dalam tempo singkat teknik terbalik saat melaju dengan kayak atau popular disebut eskimo roll. Karena di era old, kaum laki-laki pun baru dapat menguasai teknik itu setelah berlatih keras terlebih dahulu selama berminggu-minggu.


(Berlatih dengan teknik taichi roll membuat seorang ibu rumah tangga dengan cepat membalikkan kembali kayak yang terbalik. Foto: Dok. Haryo Prasetyo)?

Kayaking ala Mahmud Era Zaman Now

Nyatanya, Zaira Adilla, Nia Sarah, dan Tiffin Silitonga melakukan kegiatan traveling antimainstream itu di Sungai Cianten, Bogor, pada Sabtu, 10 Maret 2018 dan Minggu, 11 Maret 2018.   

Tiga ‘mahmud’ alias mamah muda itu terlihat bersemangat mengikuti kegiatan wisata yang dikemas dalam pelatihan bertema introduction to kayaking yang digelar oleh Kracak Kayak, sebuah organisasi yang bergerak di bidang pengembangan kegiatan rekreasi kayaking.

Mereka pun melakukannya tanpa harus mati gaya. Mereka terus dapat melakukan swafoto di sana-sini di sela-sela kegiatan wisata yang sebenarnya cukup mendebarkan.  

Sebelum bergiat dua hari di sungai yang mengalir di Kampung Batu Beulah, Desa Situ Udik, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, peserta kegiatan mengikuti terlebih dahulu pool session, sesi pra pelatihan yang digelar di kolam renang.

Setelah mengenali prinsip teknik dasar eskimo roll, peserta pun dengan jadwal yang ditetapkan kemudian mengikuti sesi kegiatan sungai di sungai Cianten.

Untuk mencapai Desa Situ Udik, ada dua jalur yang dapat ditempuh dari Jakarta. Pertama ialah melalui jalan Tol Jagorawi dilanjutkan ke kawasan Dramaga terus ke arah selatan hingga mencapai wilayah Ciomas dan Leuwiliang. Dari Leuwiliang, akan ada petunjuk arah yang menuju sebuah tempat yang disebut Wisata Alam Situ Udik, sebuah tempat peristirahatan yang terletak di kaki Gunung Salak.  

Jalur kedua relatif lebih terbebas dari kemacetan. Yakni dari Jakarta melewati Lebak Bulus-Ciputat-Pamulang-Sawangan-Parung-Ciomas-Leuwiliang. Jalur ini memotong kemacetan yang cukup masif di wilayah Dramaga.  

(Baca juga: Menjajal Nyali di Atas Derasnya Sungai Ayung)


(Dalam kayaking kekuatan fisik bukanlah segalanya. Yang terpenting ialah fleksibilitas dan kontinuitas antargerakan serta interaksi kelompok yang saling mendukung. Foto: Dok. Haryo Prasetyo)

Kegiatan yang Menantang

Kayaking memang memenuhi banyak kualitas untuk dikategorikan sebagai kegiatan traveling yang masih antimainstream. Secara lokasi, kegiatan tersebut dilakukan di spot-spot yang cukup terpencil dan sekaligus juga sangat instagramable. 

Secara aktivitas, yang dilakukan dalam kayaking pun bukan kegiatan ‘orang kebanyakan.’ 

Menurut Zaira, yang juga seorang guru di Mentari Intercultural School Jakarta, Cipete, Jakarta Selatan ini kayaking merupakan kegiatan menantang dan cocok dengan dirinya, karena pada dasarnya ia memang menyukai tantangan.

“Awalnya, saya kira ini hanya seperti mendayung biasa. Namun, ternyata di dalamnya ada teknik-teknik khusus yang kita pelajari dan setelah kita kuasai membuat kita lebih confidence,” kata perempuan yang akrab disapa Ira. Status Ira sebagai ibu dari seorang putra berusia 12 tahun tidak menghalanginya niatnya untuk terus melakukan kayaking.

Senada dengan Ira, Tiffin mengikuti pelatihan kayaking dengan niat mencoba. Setelah beberapa kali berlatih di kolam, ia pun menyadari bahwa untuk menguasai kayaking kekuatan fisik bukanlah segalanya.

“Awalnya ragu, tetapi setelah mencoba beberapa kali ternyata bisa eskimo roll di sesi kolam,” kata ibu dua orang anak berusia 8 dan 7 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai visual merchandiser di sebuah perusahaan retail tersebut.

Sedangkan bagi Nia Sarah, kayaking lebih menjanjikan tantangan daripada kegiatan rafting. Oleh karena itu ia pun mencobanya. “Kalau rafting kan bersama-sama, ada teman. Kalau kayaking semua harus kita atasi sendiri jadi kita harus menguasai sendiri. Ada ketakutan tapi kepuasaannya lebih dari rafting,” kata Nia, yang seperti Ira, juga pengajar pada Mentari Intercultural School Jakarta, Cipete, Jakarta Selatan.

Setelah mengikuti pelatihan tersebut dan menguasai dengan baik, eskimo roll di kolam renang maupun sungai, serta teknik-teknik lainnya, Nia yakin seperti dirinya, setiap orang termasuk anak-anak dapat menguasai teknik kayaking dan melakukan kegiatan penjelajahan di sungai berarus deras.

Dalam seluruh sesi, terlihat ketiganya bersemangat dan selalu mengambil kesempatan untuk melakukan swafoto di sela-sela kegiatan tersebut. 


(Berpose sejenak di sela kegiatan dengan spot yang instagramable. Foto: Dok. Haryo Prasetyo)

Penguasaan Teknik Kayaking

Instruktur Kracak Kayak, Toto Triwindarto menjelaskan menguasai teknik kayaking khususnya eskimo roll pada masa lalu memang membutuhkan waktu yang cukup lama. Hal itu karena pendekatan di masa lalu ditekankan kepada kekuatan besar daneksplosif untuk membalikkan kayak yang terbalik.

“Di zaman sekarang, sekolah kami mengembangkan apa yang disebut taichi roll. Kuncinya bukan pada kekuatan eksplosif yang besar yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja, tapi pada kelenturan kontinyu sehingga untuk menguasainya tidak dibutuhkan tenaga besar."

"Siapa pun mulai dari anak-anak hingga ibu-ibu rumah tangga seperti ibu-ibu ini, dapat dengan mudah menguasainya,” kata Toto yang memiliki sertifikat instruktur kayaking dari Selandia Baru dan British Columbia, Kanada.

Dengan teknik tutorial tersebut, tambah Toto, kegiatan kayaking pun dapat dengan cepat dikuasai oleh semua orang, tanpa harus kehilangan momentum untuk mengekspresikan diri melalui media sosial.   

"Sekarang eranya media sosial, orang ingin cepat memosting foto dan video dari kegiatannya. Teknik taichi roll membuat siapa pun cepat menguasai eskimo roll sehingga dengan demikian orang pun segera dapat mengekspresikan kepiawaian yang baru dikuasainya itu melalui media sosial sesuai kebutuhan zamannya."



Haryo Prasetyo








(TIN)