Jelajah Melbourne

Mengubah Tanah Menjadi Ladang Uang Ala Petani Australia

Hilman Haris    •    Rabu, 05 Oct 2016 15:51 WIB
wisata australia
Mengubah Tanah Menjadi Ladang Uang Ala Petani Australia
Paul kini menjabat sebagai Managing Director di Perkebunan Tesselaar (MTVN - Hilman)

Metrotvnews.com, Melbourne: Banyak cara menuju Roma. Pepatah itu rasanya tepat untuk menggambarkan kisah hidup Paul Tesselaar. Pria yang notabene pemilik perkebunan bunga tulip di Silvan, Victoria, Australia.  

Sama seperti anak muda lainnya, Paul juga memiliki beragam pilihan untuk meraih kesuksesan. Namun, ia memilih untuk meneruskan usaha keluarga dengan menjadi petani. 

Mendapat warisan berupa tanah seluas 25 hektar terlihat mengasyikkan. Namun jika tak pandai mengelolanya, tanah seluas itu hanya akan jadi barang terbengkalai. 

Mengikuti jejak pendahulunya, Paul tetap menjadikan tanah di daerah Silvan untuk ditanam bunga tulip. Dari situ, ia bisa menciptakan taman tulip yang nantinya dapat dikomersilkan.

“Perkebunan ini sudah menggelar 63 kali Tesselaar Tulip Festival. Ada sekitar 150 jenis tulip ditanam di perkebunan ini. Rata-rata ada 100 ribu pengunjung berdatangan setiap tahunnya,” ungkap Paul saat berbincang-bincang dengan Metrotvnews.com di Perkebunan Tulip Tesselaar beberapa waktu lalu.



Memastikan 100 pengunjung datang tiap tahun ke Perkebunan Tesselaar bukan perkara gampang.  Setiap tahun, Paul beserta timnya harus bekerja keras menciptakan inovasi supaya Perkebunan Tesselaar  bisa terus menarik bagi pengunjung. Salah satu cara yang mereka tempuh adalah dengan menciptakan varietas bunga baru hasil persilangan.


(Salah satu tulip hasil persilangan)

“Pengunjung selalu ingin tahu hal-hal baru. Oleh karena itu, kami tidak bisa menyakikan jenis tulip yang sama setiap tahunnya. Saya dan seluruh tim terus bekerja keras untuk menciptakan jenis baru. Kadang butuh waktu hingga tiga tahun untuk mendapatkan hasil yang memuaskan,” cerita Paul.

Kerja keras Paul beserta timnya selama bertahun-tahun berbuah hasil maksimal. Dari Tesselaar Tulip Festival, Paul bisa meraup omzet 1-1,5juta dollar Australia (Rp9,9 miliar-Rp14 miliar) per tahun.

“Jika cuaca mendukung, omzet saya bisa mencapai 1,5 juta dollar Australia. Sedangkan untuk modal mengadakan acara ini kira-kira 300 ribu dollar Australia per tahun,” ungkapnya.

(Baca juga: Tak Perlu ke Belanda, Keindahan Bunga Tulip Juga Bisa Dilihat di Australia)

Toh, Paul tidak hanya mengandalkan festival bunga tulip untuk mendapat pemasukan. Ia sadar pemasukan dari festival itu tidak bisa berlangsung secara kontinyu sepanjang tahun karena bunga tulip hanya mekar selama satu bulan. Oleh karena itu, saat tulip kebanggaan sedang tidak mekar Paul menanfaatkan lahan yang ada untuk menanam aneka bunga hias lainnya.

“Bedanya, bunga-bunga itu langsung saya jual ketika sudah mekar. Bukan untuk dipamerkan seperti bunga tulip. Pemasukan dari menjual bunga hias juga tak kalah besar dari festival bunga tulip,” ungkap Paul.
Paul sudah membuktikan bahwa pepatah “Banyak jalan menuju Roma” benar adanya. Buktinya, pekerjaan sebagai petani tetap bisa membawa pria yang kini menjabat sebagai Managing Director di Perkebunan Tesselaar itu ke arah kesuksesan. 

“Saya yakin petani di Indonesia juga bisa meraup uang yang besar hasil dari bertani. Intinya, mereka harus cermat dalam melihat peluang serta mampu memaksimalkan kondisi tanah dan cuaca setempat,” saran Paul menutup pembicaraan dengan Metrotvnews.com.

(Liputan ini adalah kerja sama antara Metrotvnews.com dengan ABC International)
 


(HIL)