GIPI Siap Bermitra dengan Pemerintah untuk Capai Target 20 Juta Wisman di Tahun 2019

Yatin Suleha    •    Kamis, 01 Nov 2018 18:49 WIB
pariwisata
GIPI Siap Bermitra dengan Pemerintah untuk Capai Target 20 Juta Wisman di Tahun 2019
Media gathering GIPI dalam paparan "Posisi Pariwisata Terkini dan Peran GIPI untuk Mencapai Target 20 Juta Kunjungan Wisman di tahun 2019 melalui Geopolitik Baru Pariwisata Indonesia." (Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)

Jakarta: Presiden Joko Widodo menargetkan wisatawan mancanegara 20 juta di tahun 2019. Dan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) yang berfungsi sebagai mitra kerja pemerintah siap untuk bekerja sama.

GIPI yang juga sekaligus sebagai wadah komunikasi dan konsultasi para anggotanya dalam menyelenggarakan dan pembangunan kepariwisataan menyatakan siap untuk bermitra dengan pemerintah untuk mencapai target 20 juta wisman di tahun 2019.

GIPI yang bersifat mandiri dalam melakukan kegiatannya serta bersifat nirlaba ini mengakui bahwa harus ada kerja sama yang terjalin antar berbagai pihak. Didien Junaedy, selaku ketua GIPI menyatakan bahwa GIPI mengharapkan adanya kolaborasi pentahelix.

"Kolaborasi pentahelix yaitu adanya kerjasama akademisi, pengusaha (usahawan), pemerintah, asosiasi-asosiasi atau komunitas, dan kelima adalah pers (media) yang saling bekerjasama," ucap Didien dalam acara "Posisi Pariwisata Terkini dan Peran GIPI untuk Mencapai Target 20 Juta Kunjungan Wisman di tahun 2019 melalui Geopolitik Baru Pariwisata Indonesia."


(Didien Junaedy, selaku ketua GIPI menyatakan bahwa GIPI mengharapkan adanya kolaborasi pentahelix. Kolaborasi pentahelix yaitu adanya kerjasama akademisi, pengusaha (usahawan), pemerintah, asosiasi-asosiasi atau komunitas, dan kelima adalah pers (media) yang saling bekerjasama. Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)

Pariwisata jadi core economy

Didien juga mengatakan bahwa ia mengharapkan dalam mengembangkan pariwisata atau mencapai target itu dari 5 kolaborasi pentahelix tersebut harus terjalin.

Keanggotaan GIPI berdasarkan UU nomor 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan sendiri terdiri dari Asosiasi Usaha Pariwisata, Asosiasi Profesi pariwisata, Pengusaha Pariwisata, dan Lembaga-lembaga terkait dengan kepariwisataan.

"GIPI mempunyai tanggung jawab yang besar. Dan pemerintah berhasil menghimpun dan menggerakkan pentahelix yang tujuannya yaitu pariwisata akan dijadikan core ecomony Indonesia mendatang," ujar Didien.

Senada dengan Didien, Hiramsyah S. Thaib selaku Tenaga Ahli Menteri Pariwisata dan Ketua Pokja Bidang Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas, Kementerian Pariwisata Indonesia dalam acara yang sama juga mengatakan bahwa sektor unggulan pembangunan Rencana Kerja Pembangunan (RKP) Tahun 2018 antara lain yaitu pertanian, pariwisata, serta perikanan.

Dalam paparannya yang berjudul "Pengembangan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (10 Bali Baru 2015-2018)" Hiramsyah mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo telah mengatakan bahwa pariwisata telah ditetapkan sebagai leading sector. Dan seluruh kementerian lainnya wajib mendukung yang telah disampaikan dalam rapat terbatas.

"Sektor pariwisata Indonesia masuk sebagai sektor pariwisata tercepat di dunia nomor 9. Data ini didapat dari The World Travel & Tourism Council (WTTC)," ucap Hiramsyah. Ia menambahkan bahwa prestasi ini bukan hanya prestasi pemerintah melainkan juga prestasi pentahelix.

(Baca juga: Kementerian Pariwisata Launching Branding Baru 10 Destinasi Pariwisata)

"Selama ini Pak Arief Yahya selalu mengingatkan kita untuk selalu bekerja dalam filosofi pentahelix. ABGCM yaitu Akademisi/Academics, Bisnis/Business, Government pusat dan daerah, Komunitas/Community, dan Media. Karena selama ini sering sekali kita kerja sendiri-sendiri. Sudah saatnya kita kolaborasi," ujar Hiramsyah.

Ia juga mengatakan bahwa sektor pariwisata menjadi sektor paling mudah, murah, dan paling cepat untuk menyejahterakan masyarakat.

"Sektor pariwisata seperti yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo adalah core enomony bangsa. Sektor yang betul-betul mempunyai keunggulan komparatif dibandingan dengan negara-negara lain. Tidak ada negara lain yang mempunyai keunggulan keragaman budaya dan alam seperti di Indonesia. Dan ini modal utama kita," jelas Hiramsyah.


(Hiramsyah S. Thaib selaku Tenaga Ahli Menteri Pariwisata dan Ketua Pokja Bidang Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas, Kementerian Pariwisata Indonesia bersama Didien Junaedy dalam acara yang sama juga mengatakan bahwa sektor unggulan pembangunan Rencana Kerja Pembangunan (RKP) Tahun 2018 antara lain yaitu pertanian, pariwisata, serta perikanan. Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)

Pengembangan 10 Bali Baru 2015-2018

Borobudur, Labuan Bajo, Danau Toba, Tanjung Kelayang, Morotai, Mandalika, Tanjung Lesung, Wakatobi, Bromo Tengger Semeru, dan Kepulauan seribu dan Kota Tua telah ditetapkan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menjadi 10 destinasi pariwisata prioritas untuk dijadikan "Bali Baru" sejak 2016 lalu.

Kebijakan tentang 10 destinasi Bali baru berubah pada November 2017. Pemerintah sepakat untuk berfokus kepada percepatan pengembangan 4 destinasi dari 10 "Bali baru" tersebut. Keempatnya yang disebut sebagai super prioritas adalah Danau Toba, Borobudur, Mandalika dan Labuan Bajo.

"Empat ini yang didukung secara penuh dan cepat oleh pemerintah terutama dari sisi aspek dukungan infrastruktur, karena kita sama-sama tahu bahwa aksesibilitas menjadi isu besar kita," ucap Hiramsyah.

Ia juga mengharapkan bahwa biaya promosi ditambah, "Karena kita sudah bagus. Branding Wonderful Indonesia telah menempati nomor 47 di dunia. Kemudian Wonderful Indonesia sudah dikenal di mana-mana, tapi untuk mengejar target 17 juta wisman dan 20 juta wisman di tahun depan itu memang kita membutuhkan biaya promosi yang lebih besar."

"Dan biaya promosi ini memang tidak bisa digantikan atau dialihkan ke kementerian-kementerian lainnya. Betul-betul dukungan anggaran yang dibutuhkan oleh Kementerian Pariwisata," tutup Hiramsyah.




(TIN)