Pengalaman Menginjakkan Kaki di Anak Krakatau

Nia Deviyana    •    Minggu, 28 Aug 2016 17:06 WIB
gunung berapi
Pengalaman Menginjakkan Kaki di Anak Krakatau
(Foto: Metrotvnews.com/Nia Deviyana)

Metrotvnews.com, Bandar Lampung: Kurang dari 40 tahun sejak meletusnya Krakatau, kegiatan vulkanik di bawah laut terus berlangsung. Kemudian, muncul gunung api yang disebut Anak Krakatau, yang mana kecepatan pertumbuhannya sekitar 0,5 meter per bulan.

"Setiap habis mengeluarkan material, pasti tingginya bertambah. Saat ini tingginya sudah 300 meter lebih di atas permukaan laut," terang Rusmaidi, polisi hutan yang berjaga kawasan tersebut.


Puncak pertama anak krakatau yang berketinggian 200 mdpl (Foto: Metrotvnews.com/Nia Deviyana)

Gunung Krakatau sendiri kala meletus memiliki ketinggian 813 di atas permukaan laut. Hingga saat ini, ahli geologi terus melakukan pemantauan terhadap gunung yang kini berstatus Waspada level II tersebut.

Metrotvnews.com berkesempatan mendaki anak Krakatau hingga puncak pertama berketinggian 200 meter di atas permukaan laut. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian acara Krakatau Festival 2016 yang digagas untuk mengingat kembali sejarah meletusnya Krakatau.

Sebelum sampai selat Sunda, rombongan berangkat dari Pantai Sari Ringgung, Lampung, menggunakan perahu nelayan. Berlayar hingga jarak 400 meter, kami transit dan berganti kapal feri.



(Foto: Metrotvnews.com/Nia Deviyana)


Perjalanan dengan kapal feri memakan waktu 2,5-3 jam menuju selat sunda. Perjalanan sudah dekat ditandai dengan terlihatnya sebuah pulau bernama Sebesi.


(Foto: Metrotvnews.com/Nia Deviyana)

Sesampainya di Anak Krakatau , kami langsung diberi masker dan instruksi terkait keamanan trekking. Perjalanan dimulai selagi jam menunjukkan pukul 14.00 WIB.

Medan yang dilalui cukup berdebu dan panas. Itu sebabnya, kami harus mengenakan masker.


(Foto: Metrotvnews.com/Nia Deviyana)

Anak Krakatau kini menjadi daerah konservasi dimana kini telah tumbuh banyak pohon beringin, paku-pakuan, rumput, tanaman bunga, dan alang-alang. Aneka spesies kupu-kupu juga kerap muncul pada musim-musim tertentu.

Tidak semua orang bisa berkunjung ke anak Krakatau terkait status cagar alam ini.

"Kalau untuk penelitian, kami mengizinkan, itu pun harus didampingi. Kalau untuk wisata, saat ini masih belum (bisa)," pungkas Rusmaidi.

Gunung Krakatau pernah menorehkan sejarah kelam bagi Indonesia dan beberapa negara di dunia lewat letusan dahsyat pada 26-27 Agustus 1883.

Letusan tersebut mengakibatkan perubahan iklim global. Debu vulkanis yang menutupi atmosfer membuat matahari tak bersinar. Hamburan debu bahkan sampai di langit Norwegia hingga New York. Musibah tersebut, menewaskan sekitar 36 ribu jiwa akibat awan panas dan tsunami yang ditimbulkannya.

Menurut Simon Winchester, ahli geologi lulusan Universitas Oxford Inggris yang juga penulis National Geographic mengatakan, ledakan Krakatau adalah yang paling besar dalam sejarah manusia modern.

Suara letusannya terdengar sampai 4.600 km dari pusat letusan, dan didengar oleh 1/8 penduduk bumi saat itu.

Menurut para peneliti di University of North Dakota, ledakan Krakatau bersama ledakan Tambora (1815) mencatatkan nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. The Guiness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam dalam sejarah.

Ledakan Krakatau telah melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan debu vulkanisnya mencapai 80 km. Benda-benda keras yang berhamburan ke udara itu tak hanya jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatera, tetapi juga ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia dan Selandia Baru.
 


(DEV)