Minum Jamu dengan Cara yang Menyenangkan

Yatin Suleha    •    Kamis, 04 Oct 2018 15:23 WIB
minum jamu
Minum Jamu dengan Cara yang Menyenangkan
Pemanfaatan jamu diyakini telah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun sejak periode kerajaan Hindu-Jawa. (Foto: Dok. Acaraki/@acaraki.jamu)

Jakarta: Banyak orang sudah mengetahui jamu. Bahkan jamu telah dikenal sejak zaman nenek moyang sebelum farmakologi modern masuk ke Indonesia.

Namun generasi milenial (generasi Y) yang lahir tahun 1980-an hingga 1997 dan generasi Z yang lahir dari 1995 hingga 2014 mungkin lebih lekat dengan bayangan jamu yang kental dan terasa pahit.

Seiring perkembangan zaman, layaknya kopi dan teh perkembangan jamu juga sekarang tak kalah bersaing. Salah satu contohnya adalah Acaraki sebuah tempat yang menyajikan jamu dengan berbagai peralatan kopi. 

Misalnya dengan mesin roaster, coffee grinder, press/plunger/coffee maker, manual espresso maker, ditamper, diseduh dengan metode v60 dripper, ditambah susu dan krimer, dengan cold dripper, atau disajikan dengan wadah shot glass dan es. Lebih kekinian dan tentunya modern.

(Baca juga: Pekalongan Gelar Festival Jamu dan Kuliner Tradisional)


(Seiring perkembangan zaman, layaknya kopi dan teh perkembangan jamu juga sekarang tak kalah bersaing. Salah satunya pembuatan jamu dengan alat Rok Presso-alat yang sama untuk membuat kopi espresso. Foto: Dok. Acaraki/@acaraki.jamu)

Fushion Jamu 
Berdiri setelah Lebaran 2018 lalu, Acaraki menawarkan cara baru dalam menikmati jamu. Konsep besar dari ide mendirikan Acaraki diyakini oleh Jony Yuwono, selaku owner adalah jika kopi saja bisa dinikmati begitu juga dengan jamu. "Jadi, kenapa tidak?" pungkas lelaki yang pernah tergabung dalam Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia (GPJI) ini.

Empat tahun lamanya Jony mengembangkan serta mencoba aneka cara untuk menyajikan jamu yang dapat dinikmati oleh semua kalangan tanpa membuat peminumnya meringis karena kepahitan tersebut pun berbuah manis.

Beberapa menu yang disajikan antara lain seperti beras kencur dan kunyit asam yang tersaji dengan rasa ringan sampai pekat sesuai selera pelanggan juga tersedia. 

"Kami menyajikan beras kencur yang asli diracik dari bahan beras dan kencur lalu diolah di depan pelanggan kemudian dibuat dan disajikan langsung di depan pelanggan kami," ucap Jony yang menerangkan asal mula nama Acaraki diambil dari Prasasti Madhawapura.

Ia menambahkan berbagai bahan seperti kencur dari Magelang atau Lampung, asam dari Solo, kunyit dari Sidoarjo, beras, dan bahan lainnya didapat dari petaninya langsung di beberapa daerah di Indonesia. 

Fushion jamu yang masuk era kekinian kini bukan lagi sesuatu yang horor. Misalnya saja campuran beras kencur dengan krimer, gula, serta susu. Khasiat jamunya bercampur dengan susu menimbulkan rasa unik seperti menikmati minuman segar yang after taste-nya malah lebih terasa seperti kacang almond. 

Beras kencur espresso yang sempat dicoba oleh tim Medcom.id juga rasanya segar, diperas langsung dengan coffee maker lalu disajikan. "Jika Anda suka sedikit manis, bisa menambah simple syrup (gula cair) yang disediakan," pesan Jony.

Espresso Beras Kencur dengan soda juga salah satu yang unik di tempat yang bernuansa vintage ini. Cocok dinikmati di hari yang panas, seperti Anda menengguk lemonade di siang hari. Jony juga menjanjikan bahwa ke depannya akan mengembangkan minuman lainnya layaknya variasi yang telah dimiliki oleh kopi.


(Beras kencur, krimer, susu, dan gula merupakan salah satu perpaduan yang menciptakan rasa yang unik dari penyajian jamu. Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)

Jamu Jangan Sampai Hilang
Meminum secangkir jamu yang berarti "Jampi" (doa) dan "Usodo" (penyembuhan dengan ramuan) seperti menilik arti lebih dalam yaitu menengguk secangkir ramuan disertai sebait doa. 

Jony menerangkan bahwa dalam arti khusus filosofi memimum jamu tak hanya sekedar meminum, namun secara body, mind, spirit memiliki keyakinan bahwa ramuan yang telah diturunkan oleh nenek moyang kita tersebut bisa menjaga kesehatan.

"Secangkir ramuan berbalut doa dan harapan (supaya tetap sehat)," papar lelaki yang ramah tersebut.

Jadi, benar kata pepatah tak kenal maka tak sayang, jadi kalau bukan kita yang meneruskan lalu siapa lagi. Karena jamu yang kini justru banyak dinikmati orang Barat-sebut saja seperti turmeric latte-juga tak kalah keren sekaligus juga menyehatkan.


(Ada ratusan bahan ramu-ramuan jamu. Dan eksplorasi jamu masih bisa dilakukan lagi. Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)

Fun Fact Seputar Jamu
- Pemanfaatan jamu diyakini telah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun sejak periode kerajaan Hindu-Jawa. 

- Relief candi Borobudur yang dibuat pada Kerajaan Hindu-Budha tahun 772 M menggambarkan kebiasaan meracik dan meminum jamu untuk memelihara kesehatan. 

- Bukti sejarah lainnya yaitu penemuan Prasasti Madhawapura dari peninggalan kerajaan Hindu-Majapahit yang menyebut adanya profesi "tukang meracik jamu" yang disebut Acaraki. 

- Di Acaraki sendiri harga yang ditawarkan cukup terjangkau, berkisar dari Rp18 ribu hingga Rp30 ribu. 




(TIN)