Culinary dan Healing di Kultura

Arthurio Oktavianus Arthadiputra    •    Kamis, 14 Mar 2019 10:17 WIB
kulineryogyakarta
Culinary dan Healing di Kultura
Kopi, Meditasi, Space di Kultura, Sleman, Yogyakarta. Perut terisi sekaligus hati juga adem. (Foto: Dok. Medcom.id/Arthurio Oktavianus)

Kultura, di Jalan Umbu Pajangan, Wonosaren, Wonosari, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta menawarkan suasana hangat pedesaan. Pemandangan sawah dan aneka menu yang menggoda jadi salah satu tempat yang menarik. Uniknya lagi, pengunjung juga bisa bermeditasi ataupun yoga.


Yogyakarta:
Senja masih menyisakan warna jingga di langit sore. Bunyi jangkrik dan kodok saling bersahutan menyambut datangnya malam. 

Dari space Kandang Kebo yang dikelilingi sawah penduduk setempat, nuansa senja dan alam yang tenang selaksa ramuan ajaib bagi jiwa untuk sejenak rileks dari rutinitas yang monoton dan membosankan.

Suasana seperti itu bisa Anda temukan di Kultura, di Jalan Umbu Pajangan, Wonosaren, Wonosari, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta. 

Mengusung tagline Kopi, Meditasi, Space, Kultura bisa dikatakan bukan tempat hangout biasa sekadar menikmati sajian kuliner yang enak guna kesehatan tubuh semata. 

Namun juga, bagi kesehatan jiwa. Pengelola yang sekaligus bertugas melayani customer, akan dengan ramah menyuguhkan menu andalan nan lezat, sekaligus membimbing pengunjung yang mau bermeditasi dan yoga.

“Awalnya tempat ini hanya markas untuk macam-macam komunitas yang ingin brainstroming dan healing. Makin ke sini, kita coba kelola dan dibuka untuk umum, dengan konsep kekeluargaan dan untuk mengembangkan potensi diri pribadi,” jelas Revo yang bertugas sebagai Kapten dari sembilan pengelola yang aktif di Kultura.

Berlandaskan konsep itu, tak heran bila pengelola Kultura mengenal akrab para tamu yang datang berkunjung. Bahkan, ada pula tamu yang mengajak diskusi mengenai manajemen bisnis dan sharing tentang kehidupan sehari-hari. 

(Baca juga: Menyantap Kuliner Sehat yang Menggugah Selera di Little Garden)


(Kandang Kebo Space. Space yang disediakan bagi pengunjung yang ingin berdiskusi ataupun berbagi ilmu tentang segala hal di Kandang Kebo Space, dekat Rumah Limasan sebagai tempat Meditasi dan Yoga. Foto: Dok. Medcom.id/Arthurio Oktavianus) 

Banyak space untuk tamu

Karenanya, tersedia beberapa space yang bisa mewakili genre para pengunjung. Space Milenial dengan mural dan tempat duduk yang santai. Space Western yang berada di depan bar dan kitchen. 

Space Kandang Kebo untuk ruang dialektika yang spasial tentang sosial, budaya dan lainnya, dan Space Rumah Limasan untuk melakukan meditasi dan yoga.

Goals kita adalah memberikan yang terbaik untuk para pengunjung kita. Bukan hanya melalui menu yang kita tawarkan, tetapi juga bermanfaat dengan berbagi ilmu pengetahuan yang bisa kita bagikan bersama. Kita yakin, semakin banyak bermanfaat untuk orang, semakin banyak juga yang kita dapat,” jelasnya.


(Dengan daging kebo yang empuk dan bumbu yang meresap di daging, menu Sate Kebo menjadi santapan yang juga banyak diburu pengunjung. Foto: Dok. Medcom.id/Arthurio Oktavianus)

Menu favorit

Aneka sajian makanan dan minuman yang menggugah selera pengunjung tersedia di Kultura. “Menu favorit tamu di sini antara lain Sate Kebo dan Nasi Goreng Kebo. Kalau minumannya, ada Biru Merona, Kopi Adem Kemarin, Teh Prenja dan Kopi Susu Kultura,” kata Hasbi, pengelola yang bertugas membuat menu di kitchen dan bar. 

Membawa kampanye save rempah Indonesia, menu yang tersaji sangat kaya dengan rasa rempah-rempah yang diracik secara orisinil oleh pengelola. 

Seperti menu Nasi Goreng Kebo, rasa rempah khas Kultura langsung pecah di mulut. Meski begitu, tidak menghilangkan rasa original dari potongan daging kebo yang tercampur pada nasi goreng kaya rempah. Telur mata sapi yang digoreng pas matangnya, menjadi pelengkap sajian.

Mencicip Sate Kebo juga menjadi keharusan. Potongan daging satai menebarkan rasa rempah yang meresap sempurna pada daging yang empuk saat digigit. Apalagi ketika dioleskan dengan kecap yang ditambahkan potongan cabai dan bawang. 

Perpaduan rasa rempah pada daging, manisnya kecap dan sedikit pedas cabai, membuat sate semakin nikmat disantap.

Satu pengunjung, Tria, mengatakan bahwa Kolektif memang tempat hangout yang istimewa.

Sangat jarang kedai yang mengeksplore aneka rempah dalam sajiannya. Ditunjang lagi, view persawahan di sekeliling kedai yang hijau dan puncak Gunung Merapi yang menyembul di antara selimut awan.

“Apalagi saat senja. Nuansanya sangat romantis. Saat gelap pun, nyala lampu yang digantung di pepohonan dalam lingkungan kedai Kultura yang terbuka juga indah dilihat. Pokoknya atmosfir di sini tuh terasa sangat tenang dan damai,” katanya.


(Nuansa Western Space yang terbuka dan ornamen patung semakin memperindah area santai. Foto: Dok. Medcom.id/Arthurio Oktavianus)

Healing dengan meditasi dan yoga

Nuansa tenang menjadikan Kultura juga sangat cocok untuk bermeditasi dan yoga. Lingkungan yang asri nan alami dengan keramahan para pengelola, membuat pengunjung seperti pulang ke rumah sendiri. 

Menurut Fifi, pengelola yang sekaligus juga praktisi meditasi dan yoga, dirinya akan membimbing pengunjung yang datang mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

“Kultura sendiri berangkat dari kata culture, budaya. Rempah-rempah yang kita gunakan dalam menu di sini serta praktik meditasi dan yoga itu sendiri sebenarnya adalah kekayaan alam dalam masakan yang menjadi budaya kita yang kebanyakan sudah ditinggalkan," kata Fifi.

"Padahal, aroma dari rempah-rempah juga menunjang sebagai aromaterapi saat meditasi dan yoga,” tambahnya. Praktik meditasi dan yoga dilakukan di Kultura selama satu jam, dan regular dilakukan setiap Kamis jam 16.00 Wib. 

Menurut Fifi, dirinya membimbing pengunjung untuk melakukan meditasi dan yoga yang benar dan nyaman untuk mereka sendiri.

Tidak hanya untuk kesehatan tubuh, tetapi juga untuk healing bagi mereka yang butuh menjalani proses penyembuhan luka batin dan trauma. 





(TIN)