Menyeruput Pengalaman Teh di Gucialit

Fitra Iskandar    •    Selasa, 06 Jun 2017 11:50 WIB
wisata jawa timur
Menyeruput Pengalaman Teh di Gucialit
Foto; MTVN

Metrotvnews.com, Lumajang:  Di Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, teh bukan hanya minuman yang terasa di lidah dan mengalir di tenggorokan. Di sini, pertemuan dengan teh bisa menjadi pengalaman mengetahui sejarah dan budayanya.

Kecamatan Gucialit memiliki potensi destinasi wisata alam berupa panorama gunung, dan  area jalur motor trail. Di sini perkebunan teh juga terhampar. Ada yang membentuk labirin di atas bukit. 

Pemandangan perkebunan teh melengkapi keindahan alam yang tersaji di sebuah puncak yang disebut Kampung Baru Raya (KBR). Lokasi ini salah satu tempat terbaik untuk melihat matahari muncul dari balik gunung.

Dari sana, Anda bisa menikmati pemandangan Gunung Lemongan, Argopuro, dan Raung yang berjejer di bagian timur. Di antara kebun teh yang ada di puncak bukit KBR, anda juga bisa melihat anggunnya Gunung Semeru, yang berdiri sendirian di bagian barat. Lalu di antaranya terhampar kota Lumajang dan pantai selatan.

Pantai selatan hanya terlihat samar-samar dari puncak bukit, ketika Metrotvnews.com bersama sejumlah jurnalis menyusuri KBR sekitar pukul 6 pagi, pertengahan April lalu. Sedangkan Gunung Lemongan, Argopuro dan Raung mulai menampakan diri, seiring dengan naiknya matahari.

Untuk menuju puncak KBR, kami melalui jalan berbatu dan menanjak, yang ditempuh menggunakan Jeep dari kompleks pabrik teh. Setelah menempuh sekitar 30 menit perjalanan,  kami sampai di lokasi.


Rumah peninggalan Belanda yang siap jadi tempat menginap.

Tak mau buang waktu, para jurnalis langsung mengambil tempat-tempat terbaik memburu momen matahari terbit. Sekeliling kami serba teh, tidak ada tanaman lain. Hutan damar ada tapi di kejauhan, di belahan bukit yang lain.

Sayang ada yang kurang.  Kami bergegas selepas subuh untuk mengejar pemandangan matahari terbit di bukit KBR ini. Karena terburu-buru, tak ada kudapan dan air yang kami siapkan. Tenggorokan kami kekeringan.   Saya pun tak sempat membayangkan bisa menyeruput  teh hangat di tengah perkebunannya . Sebab, air putih pun tak kami bawa.    

Sekitar dua jam, setelah turun menuju penginapan, kami baru dijejali teh.  Namun, seperti kalimat pembuka, ini bukan soal rasa di lidah dan minuman teh yang mengalir di tenggorokan. Kami disajikan cerita tentang sejarah dan budaya teh di Perkebunan Kertowono.


Gunung Semeru dipandang dari Puncak KBR Gucialit. Foto: Sendy Aditya P

Perkebunan Kertowono memiliki luas sekitar  2 ribu hektare. Perkebunan yang masuk wilayah PTPN XII ini didirikan Belanda pada 1910.  Teh unggulan dari perkebunan di kecamatan yang berjarak 20 Km dari Kabupaten Lumajang ini adalah teh hitam. PTPN XII memiliki tiga pabrik pengolahan teh. Selain di Lumajang, ada juga di Wonosari Kabupaten Malang, dan Blitar.

“Kekuatan karakter teh kami bukan di aroma. Aroma teh mungkin biasa. Tetapi kami dapat di kepekatan.  Teh Wonosari karakternya kuat di aroma. Produksi dari Blitar karakternya kuat di penampakan, benar-benar hitam. Teh kami warnanya merah bata,” kata  Karyawan Pelaksana Tata Usaha Bagian Anggaran dan Tanaman PTPN XII, Rudi Eko Purwanto.


Foto: Sendy Aditya P

Sejak zaman Belanda, produksi perkebunan Kertowono sudah masuk ke berbagai pasar Eropa seperti Inggris dan Swiss, sementara di Asia, teh dari perkebunan Kertowono diekspor ke Jepang, Timur-Tengah dan Malaysia.  “Orang Inggris suka teh hitam,” kata Rudi lagi.

Seperti perkebunan peningalan Belanda umumnya, perkebunan Kertowono  di Kecamatan Gucialit ini juga menyimpan sejarah dan budaya tersendiri.  Sebagian besar bangunan pabriknya, masih asli. Hanya di bagian muka  yang dimodifikasi.  Mesin-mesin peninggalan Belanda juga masih tersimpan apik. Meski tidak digunakan lagi, manajemen pabrik masih melakukan perawatan rutin sepekan sekali dan reparasi beberapa tahun sekali.

“Mesin yang kita pakai itu sekarang dari india,” lanjut Rudi.



Produk teh dari perkebunan Kertowono  pada awalnya yakni teh orthodox, bentuknya pipih seperti teh hijau dan CTC (Cutting, Tearing, Curling). Namun, permintaan teh orthodox berkurang, sehingga pabrik lebih fokus pada produksi teh CTC.
 
Dihitung-hitung, usia pabrik ini sekitar satu abad lebih.  Belanda sudah berpuluh-puluh tahun pergi dari Indonesia, dan pengelolaan pabrik Kertowono sudah berganti ke pribumi. Perlahan nuansa kolonial perlahan pudar.  Manajemen pun mulai membuka diri untuk mengenalkan manfaat lain dari keberadaan perkebunan ini. Mereka  memberikan kesempatan kepada masyarakat umum untuk mengetahui langsung proses pengolahan teh di Kertowono. 




“Potensi (argowisata) mulai untuk dinikmati kalayak ramai sekitar 10 tahun lalu. Sebelumnya karena peradaban kita masih kental budaya kolonial, jangankan mau ke dalam pabrik, melihat  dari pintu saja dilarang.  Tetapi kalau sekarang disambut, selama itu prosedural,” imbuh Rudi.

Meski begitu, suasana kerja di pabrik tak banyak berubah. Kedisiplinan tetap terpelihara.  Aturannya cukup detil dan ketat.  Seperti pegawai tidak boleh mengenakan cincin tembaga atau menggunakan parfum saat bekerja.  Ini penting, sebab bila dilanggar, yang menjadi korban adalah hasil produksinya.



Foto: Dody Wiraseto

“Perlakuan terhadap teh, sama seperti merawat bayi.  Proses yang ada di pabrik peka banget terhadap kontaminasi. Contoh umpamanya jenengan (Anda) karyawan pengolahan, terus pakai parfum, hasil teh kering kita akan bau parfum.  Terus kalau pegawainya pakai cincin tembaga, teh rasanya bau tembaga,” kata Rudi.
Sampai ke pengemasan pun, tempat dan wadah harus steril dari bau-bauan. “Setelah pengemasan teh kami naikan ke truk untuk dibawa ke gudang transit. Truk harus steril.  Harus dicuci dulu.”

Secara ringkas, proses pengolahan teh berturut-turut adalah dimulai dari pemetikan, penerimaan teh, pelayuan, penggilingan, oksidasi enzimatis, pengeringan, sortasi, pengendalian mutu dan pengemasan.  “Kalau di pabrik modern, penyimpanan pakai alumunium, kami masih pakai kayu,” jelas Rudi. Menurutnya kayu yang dipakai masih dari zaman Belanda. “Kayunya kuat sekali. Paku saja enggak bisa (tembus).”



Foto: Dody Wiraseto

Bila setiap hari teh lengkap dengan kehidupan Anda, rasanya Anda perlu juga menyempatkan diri datang ke perkebunan Kertowono.  Bawalah rombongan sekitar 10 orang, untuk melihat dan merasakan langsung proses pengolahan teh. Pihak perkebunan akan menemani Anda berkeliling dan memberikan pengetahuan tentang teh, terutama mengenai prosesnya.

Untuk berjalan-jalan di perkebunan,  pengelola perkebunan Kertowono memberi kebebasan kepada pengunjung untuk datang kapan saja. Namun, bila ingin mengetahui langsung alur proses pengolahan teh, pengunjung harus bersurat terlebih dulu kepada pengelola.  
 
“Minimal 10 orang.  Jadi kami bentuk organisasi yang didalamnya ada pemandu. Prosedurnya sederhana saja, silakan bersurat (email) ke kami. Nanti kami  balas,”  kata Rudi.

Prosedur  permintaan lewat surat ini,  kata Rudi bukan untuk mempersulit. Namun, ini penting untuk mengkondisikan proses pengolahan agar pengunjung dapat mengikuti dari awal proses pengolahan.


Foto: Sendy Aditya P

“ Sebenarnya proses perizinan itu  bukan bikin ribet. Kami mau menyajikan yang terbaik karena mengatur si pucuk yang mau digiling tak boleh terlalu atau kurang layu,” imbuhnya.

Edukasi dimulai dari melihat proses pemetikan. Pemandu akan mengantar pengunjung ke perkebunan dan memberikan pengetahuan-pengetahuan dasar tentang pemetikan, seperti  bagaimana cara memetik pucuk dan kriteria pucuk teh yang baik untuk dipetik.   Setelah  penerimaan pucuk, kemudian ditimbang, lalu dibawa ke alat pelayuan.  Di dalam pelayuan, itu daun segar dilayukan.


“Melayukan ada dua cara, tergantung kondisi cuaca kalau tidak hujan pakai matahari, tetapi tidak langsung,  udara luar.  Kedua, bila penghujan kita pergunakan blower pemanas. Kemudian menggunakan tungku dari kayu kita salurkan udaranya untuk melayukan pucuk,” jelas Rudi.

Proses ketiga, pucuk teh yang sudah layu, dengan standar tingkat kelayuan yang ditentukan,  dibawa ke proses penggilingan. Daun yang sudah layu digiling kemudian masuk proses  oksidasi enzimatis. 

“Ini proses yang paling penting  karena terkait pembentukan warna dan rasa. Setelah proses oksidasi baru kami keringkan.  Teh itu digoreng tapi tidak pakai minyak.  Setelah kering baru masuk ke sortasi. Di sortasi inilah hasil petikan awal kita kelihatan, memenuhi standar pemetikan (SOP) atau tidak,” cerita Rudi.

Di saat pengendalian mutu atau cup tasting, akan terasa bila ada yang salah dari proses pengolahan, seperti bila terlalu banyak daun yang tidak masuk kriteria layak ikut terpetik.  “Ini nanti ketahuan di cup test per dua puluh menit hasil sortasi tadi, bisa kita batalkan atau sortasi ulang,” paparnya.

Peminat  wisata berkeliling kebun teh dan melihat langsung proses pengolahan teh masih terus dikembangkan manajemen perkebunan. Peminatnya pun mulai tumbuh. “Sekarang kami sudah kewalahan untuk menerima (pengunjung). Bulan April saja tidak ada istirahatnya,” kata Rudi.


(FIT)