Cerita dari Tanah Nagi

Pelangi Karismakristi    •    Rabu, 19 Apr 2017 16:17 WIB
galeriindonesiakaya
Cerita dari Tanah Nagi
Salah satu rangkaian acara Semana Santa di Larantuka, Flores Timur, NTT. Foto: MI/ Alexander Taum

Metrotvnews.com, Jakarta: Larantuka merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain terkenal akan keindahan panorama, Larantuka juga menyimpan beragam kesenian dan adat istiadat yang masih bertahan di tengah modernisasi.

Salah satunya adalah perayaan Semana Santa yang diadakan setiap tahun sekali selama seminggu pada pekan suci Paskah. Semanta Santa merupakan warisan Portugis di Larantuka dan telah dilakukan sejak lima abad lalu. Makna perayaan itu yakni ritual bagi Yesus dan Bunda Maria yang berkabung (Mater Dolorosa) karena menyaksikan penderitaan anaknya sebelum dan ketika disalib.

Samana Santa dilaksanakan mulai Rabu Trewa (Rabu Terbelenggu), Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, dan Minggu Paskah. Puncak acara dilakukan pada hari peringatan wafatnya Isa Almasih atau disebut Jumat Agung. Inilah yang menjadikan Larantuka sebagai salah satu pusat perkembangan Katolik di Tanah Air. 

Berkunjung ke Larantuka tak lengkap rasanya bila tak mengunjungi desa budaya, di mana penduduknya masih setia menjaga seni dan tradisi. Tiba di sana, Anda akan disambut tarian khusus untuk menyambut tamu, yakni tarian Semogong. Tak hanya itu, ada tradisi makan pinang dan seteguk arak bagi siapa saja yang berkunjung ke sana.

Anda juga akan melihat banyak rumah adat desa dan bertemu dengan enam tokoh utama desa, yang terdiri atas satu raja utama, empat raja pendamping, dan dua orang penasehat kerajaan. 

Rumah adat di Latantuka memiliki enam pilar yang melambangkan kekuatan desa. Masing-masing raja duduk di samping pilar sebagai tanda kekuasaan dan kekuatan. Di sana semua keputusan dan aturan desa disepakati, untuk kemudian dijalankan oleh masyarakat.

Pesona budaya Larantuka juga memancar dari Pulau Solor, Mengangga. Di sana ada sentra kerajinan anyaman yang produknya tak kalah cantik dengan anyaman dari daerah lainnya. Usai berkebun, para mama di desa Wulublolong mengisi hari dengan membuat anyaman dari daun lontar.

Dipandu komunitas Du'Anyam, produk mama-mama Flores Timur ini mampu bersaing dengan produk anyaman dari wilayah lain. Dari tangan-tangan terampil mereka, anyaman lontar disulap menjadi benda bernilai tinggi, seperti dompet, tas, sandal, tempat tisu, storage box, dan lainnya.


Masih banyak yang unik dan menarik untuk disimak dari Larantuka. Penasaran dengan kelanjutannya? Simak perjalanan Yovie Widianto di Larantuka, Flores Timur dalam program IDEnesia Metro TV, Kamis 20 April 2017, pukul 21.05 WIB. Jangan lupa, ikuti kuis IDEnesia dan Galeri Indonesia Kaya dengan mem-follow twitter @IDEnesiaTwit atau @IndonesiaKaya.
 


(ROS)