Setapak Harmoni dari Baduy

Pelangi Karismakristi    •    Rabu, 17 May 2017 13:08 WIB
galeriindonesiakaya
Setapak Harmoni dari Baduy
Seorang pria suku Baduy Dalam melintas di antara lumbung padi (leuit) di kawasan Kampung Kaduketug, Kanekes, Lebak, Banten. Foto: ANT/ Ismar Patrizki

Metrotvnews.com, Jakarta: Keberadaan Suku Baduy atau Urang Kanekes selalu menarik untuk disimak. Meskipun berada di tengah gempuran modernisasi, suku asli masyarakat Banten ini masih memegang teguh nilai-nilai adatnya.

Mereka sering dijumpai di sekitar perkampungan yang berada tak jauh dari aliran Sungai Ciujung dan Cikanekes, Pegunungan Keundeng, Kecamatan Leuwidamar, Lebak, Banten. Meski secara geografis kondisi mereka yang masih terisolasi dari kehidupan luar,  mereka tidak menutup ruang untuk dapat dikunjungi dan bergaul oleh masyarakat luar Baduy.

Bentuk rumah tradisional panggung dengan beratap anyaman masih kental menghiasi perkampung mereka. Melalui catatan Kepala Desa Baduy, Jaro Saija pada tahun 2017, terdapat 65 perkampungan Baduy, yaitu 62 perkampungan Baduy Luar dan sisanya 3 perkampungan Baduy Dalam.

Orang Baduy Dalam (Panamping) adalah kelompok yang paling ketat mengikuti aturan adat. Antara lain tidak beralas kaki, tidak ada listrik, tidak menggunakan kendaraan, mengenakan pakaian adat yang dijahit atau ditenun sendiri, dan tidak menggunakan alat elektronik. Mereka juga masih menganut kepercayaan Sunda Wiwitan yang dipimpin oleh seorang Pu'un.

Berbeda hal nya dengan Urang Kanekes Luar (Tangtu) yang telah mengenal teknologi dan menggunakan pakaian yang modern. Tapi tak sedikit pula yang masih mengenakan pakaian adat berwarna hitam dan ikat kepala berwarna biru.

Hingga kini, Suku Baduy masih melestarikan tradisi Seba. Tradisi tersebut merupakan penyerahan hasil bumi pada pemerintah setempat, menjadi ungkapan syukur terhadap hasil bumi yang melimpah. Seba yang dilangsungkan setahun sekali ini, konon sudah ratusan tahun silam sejak zaman kesultanan Banten.
 
Untuk menuju ke Baduy, pengunjung harus menempuh waktu empat jam perjalanan dengan jalur tracking yang cukup terjal. Maka dari itu dibutuhkan kondisi tubuh prima dan perlengkapan serta bekal yang cukup. Sampai di sana, wisatawan akan disuguhi kehidupan yang asri, lingkungan yang teduh, dan pemandangan perbukitan yang membuat jatuh hati. 

Kalau ingin berburu oleh-oleh khas Baduy, di sana banyak dijumpai pengrajin yang membuat ragam karya kerajinan seperti kain tenun, lomar, pakaian adat, tas koja, selendang, dan senjata tradisional seperti golok dan sejenis senjata lainnya.

Barang-barang tersebut sering menjadi incaran para pengunjung baik lokal maupun mancanegara. Bahkan di Baduy sendiri kini mulai berkembang produk kerajinan lainnya dan tercatat ada sekitar 860 pengrajin tradisional Suku Baduy.

Harmonisasi kehidupan sehari-hari, terus mengalir dari wajah keduanya baik orang Baduy Luar maupun Baduy Dalam, termasuk tim IDEnesia saat berkunjung ke perkampungan suku Baduy. Seperti mereka, tampil alami dan selalu menyesuaikan sesuatu yang panjang dibiarkan panjang tidak dibuat pendek seperti umumnya kita saat memotong kayu atau barang lainnya.

Penasaran dengan keseruan Yovie Widianto dan Renitasari Adrian menjelajahi Suku Baduy? Jangan lewatkan program IDEnesia Metro TV, Kamis, 18 Mei 2017, pukul 21.05 WIB. Jangan lupa, ikuti kuis IDEnesia dan Galeri Indonesia Kaya dengan mem-follow twitter @IDEnesiaTwit atau @IndonesiaKaya.


(ROS)