Tempe, Warisan Budaya Indonesia Kian Mendunia

Pelangi Karismakristi    •    Rabu, 21 Mar 2018 15:29 WIB
beasiswa osc
Tempe, Warisan Budaya Indonesia Kian Mendunia
Salah satu hasil olahan tempe, yakni burger tempe. Foto: Dok. UKWMS

Surabaya: Tempe kian mendunia. Makanan yang semula identik dengan "makanan kampung" itu makin berkibar namanya dan digemari masyarakat internasional.

Semakin berkembangnya tempe di berbagai negara, membuat United States Soybean Export Council (USSEC) yang merupakan produsen kedelai di Amerika, mengadakan acara 13th SE Asia Soy Food Symposium 2018.

Acara hasil kolaborasi dengan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) ini berlangsung pada 19-20 Maret 2018, di Hotel Shangri-La, Surabaya. Ada 17 pembicara dari berbagai negara yang memaparkan pemikirannya terkait pemanfaatan kacang kedelai.

Salah satunya adalah perwakilan dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UKWMS yaitu Agustinus Ngadiman. Dia menyampaikan pandangan tentang bagaimana tempe dilihat dari sudut pandang warisan budaya Indonesia.  

Tempe yang terbuat dari kedelai atau dalam bahasa Jawa disebut dhele, kata Ngadiman, seringkali muncul dalam lagu daerah. Misalnya, Cublak-cublak Suweng yang diciptakan Sunan Giri.

"Nilai sosial yang dimiliki tempe adalah orang Jawa merupakan orang yang adaptif, berkompeten, dan dapat bergaul dengan setiap orang. Oleh karena itu tempe dapat dimakan dengan atau tanpa lauk pendamping," kata Ngadiman, dalam siaran pers.

Selain Ngadiman, ada dua pembicara yang mewakili pelaku usaha, yaitu Amita Buissink pendiri Tempe Tahu Mr Bean, dan Stefanus Indrayana dari PT Indofood Sukses Makmur yang membahas dunia industri secara global, dan dilanjutkan diskusi panel. 

Turut hadir Ketua The Indonesia Tempe Forum (ITF) Made Astawan yang menjelaskan materi A Collaborative Effort for Tempe Industry Upgrade & Improvement in Indonesia. Menurutnya, meskipun banyak produsen tempe di Indonesia, tidak semuanya memiliki teknik yang baik dan benar dalam membuat tempe. Maka, salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam memproduksi tempe adalah perbaikan kualitas, mulai dari segi teknik hingga kebersihan.

“Cara kolaboratif yang dapat dilakukan adalah dukungan dari berbagai pihak yaitu pemerintah, produsen tempe, produsen kedelai, institusi riset pangan, dan industri pangan,” tutur Made.

Melalui kolaborasi ini diharapkan konsumsi tempe terutama bagi generasi muda semakin giat, layaknya mengenakan pakaian batik dalam berbagai acara. Sekaligus agar tempe dapat diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia mengingat sejarahnya pada waktu lampau dan nilai serta gizi dari tempe itu sendiri. 

Tak hanya simposium, pada jam makan siang para peserta diajak menuju Jamoo Restaurant untuk melihat secara langsung proses pembuatan martabak dengan isian tempe sebagai pengganti daging. Ada juga inovasi sajian lainnya burger tempe, salad tempe, soup tempe, brownies tempe, dan smoothies tempe. 


(ROS)