Merasakan Hidup di Kampung Adat Wae Rebo

Prihadi    •    Senin, 03 Oct 2016 16:56 WIB
pariwisata indonesia
Merasakan Hidup di Kampung Adat Wae Rebo
Siap-siap menikmati hamparan keindahan Desa Wae Rebo yang hijau dan elok ini. (Foto: Prihadi)

Metrotvnews.com, NTT: Destinasi yang satu ini patut Anda coba. Terletak di barat daya kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Desa Wae Rebo ini pastinya membuat Anda terkagum. Siap-siap menikmati hamparan keindahan desa yang hijau dan elok ini.


Mengenal Kampung Adat Wae Rebo
Perjalanan menuju Kampung Adat Wae Rebo adalah perjuangan. Lantaran, perlu 3 jam perjalanan kaki sejauh 9 kilometer dari Desa Denge – yang merupakan titik awal perjalanan.  Menyusuri jalan setepak di lereng perbukitan yang mendaki dan menurun. Namun, bagi Anda yang memiliki minat khusus perjalanan soft trekking dan juga budaya, maka Wae Rebo adalah surganya. 

Wae Rebo juga surga bagi yang ingin mengasingkan diri dari kebisingan. Sebab tidak ada sinyal telepon. Lokasi terdekat untuk mendapatkan sinyal adalah di titik tertinggi perjalanan menuju kampung ini, yaitu di Poco Roko. Atau satu jam perjalanan balik dari perkampungan. 

(Baca juga: Manfaatkan Libur Panjang Tiongkok, Kemenpar Promosikan Indonesia di Shanghai)

Selain tanpa sinyal, pasokan listrik juga terbatas. Ada dua sumber listrik, yaitu generator dan panel surya yang bekerja bergantian. Generator akan memasok listrik dari jam 6 sore hingga jam 10 malam. Sementara panel surya akan memberi pasokan listrik mulai jam 10 malam hingga pagi untuk penerangan di depan rumah. 

Meski penuh perjuangan untuk mencapai lokasi kampung ini, toh, tidak menyurutkan pengunjung bertandang di kampung adat yang berada di ketinggian 1200 mdpl. Karena, Kampung Wae Rebo memiliki pesonanya sendiri. Pesona itu bisa langsung dirasakan segera setelah melewati gerbang masuk. 

 
Kegiatan memilah biji kopi.

Kehangatan Wae Rebo
Tiap tamu yang datang akan menjalani prosesi penerimaan tamu oleh tetua adat di Mbaru Niang Gendang Maro. Inti dari upacara Pa’u Wae Lu’u adalah meminta izin serta perlindungan leluhur untuk tamu selama berada di Wae Rebo. Selain itu, para tamu yang datang pun dianggap sebagai saudara yang sedang pulang kampung. Sebagai catatan, sebelum prosesi, tamu tidak diperbolehkan melakukan pengambilan gambar. Dan kedatangan tamu pun dilakukan dengan memukul kentongan bambo dari Ponto Nao. 

Kampung yang secara geografis terisolir ini telah menetap di antara perbukitan selama 19 generasi. Selama itu pula, masyarakat mempertahankan tradisi dan hidup menyatu dengan alam sekitar. Tidak heran jika UNESCO pada tahun 2012 menobatkannya menjadi salah satu konservasi warisan budaya. Salah satunya yang dipertahankan adalah keberadaan rumah yang hanya berjumlah tujuh. Jika ada yang ingin membangun lagi, maka harus membangunnya di luar kampung. Satu rumah sendiri dihuni hingga 8 kepala keluarga.


Tempat Tinggal yang Khas
Tempat tinggal di sini juga khas. Niang yang berarti atap kerucut yang terdiri dari daun lontar dan ditutup ijuk yang disusun hampir menyentuh tanah. Meski beratap daun lontar, dan berlantai kayu, namun penghuninya tidak kedinginan. Itu pun yang dirasakan tamu yang menginap di salah satu rumah khusus tamu. Tamu disediakan selimut kain tebal, dengan bantal dan alas tidur dari tikar pandan. Tamu juga disediakan fasilitas MCK. 

Pengunjung yang bermalam di Kampung Adat Wae Rebo dikenakan tarif 350 ribu rupiah. Uang tersebut diperuntukkan untuk konservasi, pelayanan tamu (3 kali makan), dan biaya pembelian bahan bakar generator. Ada juga biaya untuk pemandu sekaligus porter sebesar 200 ribu rupiah pulang pergi.  


Menjunjung Adat Wae Rebo
Meski masyarakat telah terbiasa dengan kehadiran tamu, namun tamu harus berpakaian sopan dan tidak berkata kasar. Tamu pun dilarang memberi uang atau kue kepada anak-anak Wae Rebo. Mereka – masyarakat lokal – tidak mau mendidik anak-anak mereka menjadi seperti peminta-minta. 


Kegiatan perempuan Desa Wae Rebo yang memintal kain tenun.

Jadi, selama berada di kampung adat ini, nikmatilah sajian sejarah panjang kehidupan masyarakat Wae Rebo. Banyak pilihan aktivitas selama berada di sini. Seperti; bermainlah bersama anak-anak pewaris sejarah Wae Rebo. Bisa juga dengan melihat perempuan Wae Rebo sedang memintal kain tenun khas Cura, berbincang di saat masyarakat memilah biji kopi. 





(TIN)