Perisai Budaya Tanah Jambi

Anggi Tondi Martaon    •    Rabu, 12 Apr 2017 19:47 WIB
galeriindonesiakaya
Perisai Budaya Tanah Jambi
Candi Muaro Jambi (Foto:Antara/Andika Wahyu)

Metrotvnews.com, Jakarta: Yovie Widiyanto kali ini mengunjungi Kota Jambi. Ada beberapa alasan yang membuat Yovie berkunjung ke kota terbesar keempat di Pulau Sumatera itu.

Pertama, mengunjungi Candi Muaro Jambi. Tak hanya sekadar peninggalan sejarah, keunikan lain Candi Muaro Jambi merupakan kompleks percandian agama Hindu-Budha terluas di Asia Tenggara.

Wahyu, Staff Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi menerangkan, Candi Muaro Jambi ditemukan oleh letnan Inggris bernama S.C. Crooke pada 1824. Saat itu, Crooke melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer.

"Dalam catatan perjalanannya itu menemukan beberapa reruntuhan bangunan," kata Wahyu kepada Yovie dalam program Idenesia dengan tema 'Perisai Budaya Tanah Jambi.'

Wahyu mengungkapkan, upaya pemugaran Candi memiliki luas 12 kilometer persegi ini baru dilakukan oleh pemerintah melalui Direktorat Peninggalan Sejarah pada tahun 1976. Hingga saat ini, total bangunan yang sudah selesai dilakukan yaitu tujuh bangunan.

"Sedang dalam proses pemugaran ada dua, sedangkan yang masih berupa gubdukan ada 84," ungkap dia.

Wahyu menyebutkan, beberapa kegiatan besar sudah diadakan di situs peninggalan sejarah yang sudah didaftarkan ke UNESCO pada tahun 2009 itu. Pada umumnya bersifat religi dan festival.

"Di sini juga pernah dilakukan pemusatan agama besar Budha untuk Waisak. Kemudian, event yang sifatnya umum. Kami ada festival kawasan Muaro Jambi setiap tahun," jelasnya.

Tak hanya menyajikan kemegahan Candi Muaro Jambi, para wisatawan juga bisa berkunjung ke Pondok Brenti, sebuah kawasan wisata yang dibuat dengan nuansa tempo dulu. Nuansa tempo dulu sudah mulai terasa saat memasuki kawasan tersebut. Para tamu mulai disuguhi tarian adat yang biasa dilakukan untuk menyambut kaum pendatang.

Tak hanya itu, wisatawan juga dapat menyaksikan aktivitas warga pada zaman dulu, di antaranya kegiatan kaum hawa menumbuk padi menggunakan lesung dan menganyam tikar. Khusus menganyam tikar, kegiatan ini bukan hanya untuk mengisi waktu, tapi juga mempunyai filosofi tersendiri bagi kaum hawa, yaitu wanita yang belum bisa menganyam tikar, maka tidak boleh menikah.

Puas menikmati kehidupan masyarakat Jambi tempo dulu, Yovie beranjak mengunjungi pusat kerajinan Batik Jambi. Saat ini, Batik Jambi  perlahan sedang mengalami perkembangan yang cukup pesat dan mulai dikenal oleh masyarakat luas.

Batik Jambi memiliki identitas tersendiri. Hal itu bisa dilihat dari motif batik, yaitu flora dan fauna. Selain itu, pewarnaan Batik Jambi juga memiliki dua tekhnik pewarnaan, yaitu kimia dan alami.

Khusus pewarnaan alami, pengrajin Batik Jambi menggunakan bahan-bahan dari alam, di antaranya, serbuk berlian, kayu surian, dan kulit jengkol.

Penasaran bagaimana pengrajin Batik Jambi menggunakan kulit jengkol sebagai salah satu pewarna? Jangan lewatkan program Idenesia, episode "Perisai Budaya Tanah Jambi," Kamis, 13 Maret 2017, Pukul 21.30 WIB hanya di Metro TV.


(ROS)