Pala, Pulau Banda, dan Riwayatnya Kini

   •    Senin, 11 Dec 2017 12:49 WIB
pariwisata indonesiakekayaan alam
Pala, Pulau Banda, dan Riwayatnya Kini
Ilustrasi. Wisatawan menyaksikan pesona Sunset di Pantai Pulau Hatta Kecamatan Banda Kabupaten Maluku Tengah. (Foto: MI/Hamdi Jempot)

Jakarta: Tepat 350 tahun lalu bangsa Belanda dan Inggris menyepakati pertukaran salah satu pulau di Kepulauan Banda dengan Pulau Manhattan di New York, Amerika Serikat. Ada alasan mengapa Pulau Run, Banda, Maluku Tengah diperebutkan.

Sejarawan Wim Manuhutu mengungkapkan Pulau Run di Kepulauan Banda pada masa itu dinilai sangat penting bagi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Belanda. Kekayaan rempah pala menjadi alasannya.

"Pala menjadi rempah yang memiliki beragam manfaat bagi kehidupan Eropa pada saat itu," ungkapnya dalam 360, Minggu 10 Desember 2017.

Wim menuturkan pala dianggap sebagai barang penting dan mahal lantaran fungsinya bukan hanya untuk keperluan dapur melainkan juga sebagai obat. Wilayah Banda yang sangat jauh dari jangkauan Belanda menjadi satu-satunya alasan yang membuat pala menjadi barang mahal.

"Orang (Belanda) harus berlayar hampir 2 tahun bolak-balik ke Indonesia untuk membeli dan membawanya kembali dengan harga yang sangat tinggi. Saking tingginya, sama dengan emas. Karena itu mereka mau mempertahankan Pulau Banda," katanya.

Belanda yang kala itu berambisi memonopoli pala rela menukar Pulau New Amsterdam kepada Inggris lantaran kurang menguntungkan bagi negeri kincir angin itu. Abad demi abad berlalu, New Amsterdam yang dulu menjadi permukiman berbenteng di koloni Provinsi Belanda Baru kini berubah menjadi Pulau Manhattan, Kota New York.

"Kalau Kita lihat pada saat itu, apa yang dibuat di New Amsterdam, New York itu bertani dan memburu kulit dari binatang. Pada saat itu belum begitu penting dan dirasa okelah Kita sudah kalah," tutur Wim.

Namun kejayaan pala dan kemasyhuran Pulau Banda terkikis manakala Inggris pada akhir abad ke-18 menghapus monopoli Belanda dengan menanam pala dan cengkeh di tempat lain.

Menemukan tanah lain yang bisa ditanami pala membuat hak tunggal Pulau Banda sebagai daerah produsen pala hilang. Akibatnya, persaingan wilayah produksi meningkat dan harga terus menerus turun lantaran tidak lagi didatangkan dari satu wilayah.

Pulau Banda kini

Jika dulu kekayaan rempah mampu memasyhurkan Banda dan pulau di sekitarnya ke seluruh dunia lain halnya dengan kini. Bahkan jika dibandingkan dengan Manhattan nun jauh di New York sana yang sudah begitu modern, wajah Pulau Banda masih sama.

Masyarakat di Pulau Run sama dengan pulau lainnya di Maluku. Mereka mengandalkan perkebunan rempah dan mencari ikan sebagai sumber penghidupan.

Abdullah, salah satu warga yang hingga kini masih mengandalkan kebun pala sudah merasakan pahit manis hasil dari panen pala yang Ia tanam. Di masa lalu, rempah yang Ia miliki pernah dibanderol dengan harga sangat mahal. Tapi kini Ia harus puas hanya dengan menjual pala seharga Rp78 ribu per kilogramnya.

"Kalau sedang panen Kami panen, kalau tidak panen Kami melaut," ungkapnya.

Abdullah mengatakan harga paling mahal dari pohon pala yang Ia tanam berasal dari bunga pala atau yang biasa disebut mace. Mace yang masih segar berwarna merah dengan aroma harum meski tak sekuat aroma yang dihasilkan pala.

Harga mace berkisar antara Rp130 ribu sampai Rp135 ribu per kilogramnya. Abdullah tak hanya memasarkan mace di dalam negeri, Ia juga merambah negara lain yang gemar mengimpor bunga pala.

"Tidak tahu perusahaan di Eropa buat apa itu bunga pala. Tapi bunga pala memang yang paling mahal dibandungkan bijinya," kata Abdullah.

Gubernur Maluku Said Assagaf mengakui bahwa dulu pala menjadi primadona dan daya tarik tersendiri bagi Pulau Banda. Pala digunakan sebagai bahan pengawet alami untuk mengawetkan daging sebagai salah satu sumber protein di wilayah Amerika dan Eropa.

"Ini yang membuat harga pala konon lebih mahal dari satu kilogram emas. Hal ini juga lah yang membuat Inggris dan Belanda ingin menukar pulau ini."

Sayangnya kejayaan pala tak berlangsung lama, abad ke-18 ketika Inggris mematahkan monopoli Belanda atas rempah tersebut menjadi penanda 'runtuhnya' kejayaan pala.

Kini satu-satunya cara mengembalikan kejayaan itu kembali ada pada potensi wisata pulau Banda. Wim Manuhutu mengatakan salah satu cara membuat Pulau Banda berjaya kembali adalah dengan pariwisata budaya.

Pariwisata budaya dan sejarah membuat pelancong mau mengeluarkan uang sedikit lebih banyak ketimbang hanya datang untuk menikmati pantai atau menyelam.

Said Assagaf pun menyatakan hal yang sama. "Kami sudah mengusulkan bahwa Pulau Banda dijadikan kawasan ekonomi khusus. Cantik, budayanya, sejarahnya, kekayaan laut, potensi ikan tuna terbesar dunia itu ada di sini, kedalaman laut 7,8 kilometer laut terdalam kedua di dunia. Ini luar biasa. Orang Banda mungkin merasa biasa tapi orang di luar Banda yang datang melihatnya luar biasa."




(MEL)