Jadi Latah Nikmati Gelato ala Eat Pray Love

Fitra Iskandar    •    Kamis, 08 Nov 2018 14:25 WIB
wisata eropa
Jadi Latah Nikmati Gelato ala Eat Pray Love
Menyerbu Gelato di Il San Crispino Roma Italia. (Foto: Medcom/Fitra Iskandar)

ROMA :  Suhu udara malam sekitar enam derajat Celcius. Dingin sekali.  Tetapi, sebelum beranjak tidur, kami ingin mengakhiri segala aktivitas hari itu dengan ‘ritual’ ngemut-ngemut es. Kami pun memutuskan menyerbu Il Gelato di San Crispino.

Jaraknya, hanya 170 meter dari air mancur Fontana di Trevi. Saat kami tiba sekitar pukul 20.00, seorang pria melayani kami. Senyum pria berwajah India itu mengembang. Kebetulan, hanya rombongan kami yang datang ke tokonya. Saat itu.

Lokasi di Il Crispino memang tidak jauh dari salah satu lokasi turisme di Kota Roma itu. Pagi, siang bahkan malam, lokasi ini selalu dipenuhi wisatawan asing yang potensial menjadi pelanggan kedai. Tidak heran Il Crispino tetap buka di malam hari yang basah.

Pemilik Il Crispino mungkin paham. Di malam seperti itu pun, akan ada saja turis yang mau menikmati gelato terutama wisatawan dari negeri tropis seperti Asia Tenggara termasuk Indonesia. Turis dari Asia tentulah punya karakter tersendiri.  Seperti kami, tidak peduli malam hari dan cuaca dingin, Il Crispino tetap kami kunjungi.

Saya pun menduga penjual di Roma familiar dengan karakter turis Indonesia. Saya sempat bertemu beberapa penjual cendera mata yang coba berbicara atau sekadar menyapa dengan bahasa Indonesia setelah tahu kami dari Indonesia. Begitu pun saat kami berpapasan dengan seorang petugas survei dari LSM setempat. Di toko kaus sebelah air mancur Fontana di Trevi, saya juga bertemu seorang pelayan toko yang cukup  fasih berbahasa Indonesia.


Latah Eat Pray Love
Sebenarnya kedai gelato banyak tersebar di Kota Roma. Seharian, saat kami menyusuri kota, beberapa kali kami melewati kedai gelato. Desain kafenya menarik dan antik. Tetapi kami tidak peduli.  Hanya Il San Crispino yang tampaknya wajib  kami sambangi.  Padahal interior dan eksterior kedainya biasa banget.

Ya, kami latah seperti turis lain yang datang ke sini.

Gelato Il San Crispino adalah salah satu kedai gelato paling terkenal seantero dunia. Namanya melambung gara-gara novel Eat Pray Love (2006) karya Elizabeth Gilbert yang kemudian diangkat ke layar lebar dan dibintangi Julia Roberts (2010).

Dalam film itu, Julia Roberts berperan sebagai Elizabeth Gilbert yang melancong ke India, Italia dan Indonesia untuk melepaskan diri dari depresi setelah perceraian. Gelato di Il San Crispino menjadi salah satu tempat yang kerap disinggahi dalam petualangan kuliner Gilbert di Negeri Pizza itu.

Dalam novel, Gilbert digambarkan tiga kali sehari datang ke II San Crispino. Biasanya ia kemudian mengemut gelato sambil menikmati pemandangan di  taman Villa Borghese dan Piazza del Popolo. Kesukaannya dengan tempat ini rupanya merasuki fans dan  pencinta bukunya.



Julia Roberts dalam film Eat Pray Love.

II Crispino menjelma bagai situs ziarah bagi para penggemar  Eat Pray Love. Rata-rata, perempuan yang datang. Mereka mungkin terlalu baper dengan adegan-adegan di novel itu.

“Kami sering kedatangan turis asing perempuan  yang datang setelah membaca buku itu. Bahkan kadang, ketika datang, buku itu ada di tangan mereka,” kata Paquale Alongi, pemilik II San Crispino bercerita kepada Telegraph. Ini wawancara lama sih. Waktu 2010.

“Julia Roberts datang di sela-sela syuting (Eat Pray Love). Dan dia secantik yang digambarkan selama ini,” katanya lagi.





Baca Sebelum Kantong Bocor


Pelayan di gelato Il San Crispino mempersilakan kami membaca dulu menu sebelum memesan gelato. Di Il San Crispino, mereka menyediakan  berbagai rasa gelato. Coklat, pisang, kopi, vanilla dan varian serta kombinasi lain.

Ukurannya juga macam-macam.  Yang paling kecil mereka sebut ukuran ‘bayi’. Entah mungkin ini strategi pemasaran juga, agar pengunjung yang datang condong membeli ukuran sedang atau besar karena tidak mau disebut ‘bayi’. Maaf, ini pikiran negatif saya saja.

Tapi kami tidak peduli. Kami ber 12 memang cuma ingin tahu rasanya. Ibaratnya menggugurkan satu dari sekian ‘kewajiban’ turis saat ke Roma. Seperti, menjelajahi Colloseum, mengunjungi Fontana di Trevi, Vatikan, Castle Sant Angelo, Stadion Olympico dan lain-lain, sesuai minat masing-masing.  Lagi pula, malam dingin begini konsumsi banyak-banyak es, juga agak kurang kerjaan kayaknya. 

Mangkuk (cup) ukuran ‘bayi’ dibandrol EURO 2,75 atau sekitar Rp46 ribu.  Soal, harga selebihnya bisa dilihat di gambar di bawah ini.


Intinya mangkuk paling besar ukurannya kira-kira seperti mangkuk bakso. Kata orang Italia, biasanya mereka menikmati gelato sambil jalan-jalan, bukan duduk di kedai. Pantas, di  toko gelato di San Crispino tidak menyediakan tempat duduk. Tetapi, di tempat lain ada yang menyediakan.

Konflik Turis dan Toko Gelato
Saat di negara lain, ada dua hal yang bisa bikin runyam karena ketidakpekaan atau ketidaktahuan terhadap kebiasaan masyarakat di satu tempat;  Kesusilaan, dan jual-beli.  Yang pertama bisa bikin babak belur, yang kedua, bikin fulus meluncur.

Ini dialami empat turis Inggris waktu mencicipi gelato di Antica Roma geletaria. Kedai ini dekat Spanish Steps, salah satu atraksi pariwisata Kota Roma. Mereka komplain karena harus mengeluarkan EURO 54 untuk empat mangkuk gelato. Satu mangkuk dihargai EURO 16.00 atau sekitar Rp270 ribu. Mau pingsan enggak tuh!

Mereka merasa digetok. Padahal, sudah berusaha meminimalisir harga dengan tidak meminta tambahan (topping), dan duduk di kafe. Di kafe gelato,  jika Kamu duduk, harga gelato akan lebih mahal. Jadi empat turis itu pesan gelato untuk dibawa pergi.  “Lagi pula rasanya enggak istimewa juga,” kata salah satunya, Stephen Bannister (68). Masing-masing mereka memesan gelato dengan tiga rasa yang dilengkapi potongan wafer.

Pihak kafe, membela diri. Mereka menunjukkan bahwa ada daftar harga yang jelas dipampang. "Lagi pula satu mangkuk yang mereka pesan beratnya setengah kilo lebih. Satu mangkuk berisi empat atau lima sendok. Apa lagi yang mereka inginkan,” kata salah satu pelayan, yang tidak mau identitasnya disebut.

 Ceritanya viral. Sampai-sampai diulas media Inggris yang terkenal nyinyir dan suka mencibir.  Luar biasanya, Pemerintah Kota Roma sampai turun tangan. “ Walikota prihatin mendengar kabar ini. Dia meminta kami untuk menerima permohonan maafnya. Dia ingin mengundang kami lagi ke Roma,” kata Bannister.

Setahun berikutnya, 2014, giliran tiga turis Amerika yang merasa dikerjai. Kali ini Bar Il Caffe di dekat Trevi Fontain tertuduhnya. Mereka komplain keras karena dikasih tagihan EURO 42 untuk tiga es krim dan sebotol air. Besoknya mereka kembali lagi. Bawa polisi segala. Tetapi di lokasi mereka ditunjukan lagi bahwa di daftar menu jelas terpampang harga, bahwa satu es krim seharga EURO13  atau sekitar Rp200 ribu.
 
BACA JUGA: Bayang-Bayang Syahrini di Via Condotti 

Bicara Rasa Gelatonya
Nah berbekal kisah itu, saya sangat hati-hati saat menyambangi kedai gelato di Il San Crispino. Baru datang saya langsung memelototi daftar harga. Jangan sampai terjebak, bisik saya dalam hati.

Akhirnya saya pilih gelato yang agak berwarna hijau, rasanya seperti kacang hijau. Terbuat dari Pistachio.  Sejenis kacang yang katanya tumbuh di Turkmenistan, Azerbaizan dan Iran. Cukup memesan ukuran bayi.

Bagaimana rasanya?  Buat saya sih biasa saja. Tidak istimewa. Teksturnya lebih kasar dari es krim.  Gelato dan es krim memang beda toh!? Gelato agak ngelawan,” kata teman yang biasa saya panggil Kak Ros. Maksudnya ngelawan itu, teksturnya agak kenyal dan enggak langsung meleleh. “Agak perlu dikunyah sedikit,” bilang Kak Ros lagi.

Buat saya, sebenarnya saya kurang semangat mengulas soal rasa gelatonya. Referensi saya mentok. Takut enggak mewakili.  Soal es krim, saja referensi saya hanya es krim Woody, Diamond, dan paling sering es krim McD. Pernah sih coba Baskin Robbin,  Haagen-Dazs. Semuanya bagi saya maknyus.

Kalau saya, lebih suka es krim ketimbang gelato. Lebih lembut. Makanya waktu lihat ada es krim di konter cokelat Lindt di pusat belanja Castle Romano, di pinggir Kota Roma, saya antusias banget. Apalagi melihat penampakan cokelatnya yang terlihat sangat lembut. Lindt ini merek cokelat asal Swiss.

Rasa coklat dan kelembutannya memang nyoi. Coklatnya sedikit lebih pekat dari es krim Ragusa. Namun, saya pernah mencicipi coklat serupa di konter gelato yang ada di Mal Botani Square, Bogor. Dan, 11-12 rasanya. Sama enaknya, sama lembutnya. 

Di sinilah saya jadi sangat bersyukur jadi orang Indonesia. Di Indonesia kita bisa menikmati kuliner dari negeri manapun, dengan rasa yang relatif sama saja dengan kelezatan kuliner di negeri asalnya.

Kita bisa makan burger di negara mana pun, rasanya tidak jauh berbeda dengan yang kita rasakan di Indonesia. Pizza yang saya anggap istimewa pun kalau di Italia, ternyata rasanya sama saja dengan pizza Domino, atau Pizza Hut yang biasa saya nikmati kalau ada teman yang resign dari kantor.

Tapi, coba cari nasi uduk di Belanda, Italia, Amerika. Coba makan gado-gado, nasi goreng, mi goreng, atau combro, timus, getuk, telor balado, rendang,  bubur cianjur, bubur cirebon, soto lamongan, soto Makassar, ayam geprek. Pokoknya banyak deh. Cari saja makanan-makanan itu  di luar negeri. Kalau ada rasanya hampir pasti, beda dengan yang di sini.

Kesimpulannya di Indonesia kita gampang menemukan makanan luar negeri, dengan rasa yang relatif sama dengan yang disajikan langsung di negeri asalnya. Tetapi di luar negeri, kita akan kesulitan mendapatkan kuliner Indonesia dengan cita rasa Nusantara.

Ini menurut saya lho. Mungkin yang pengalaman kuliner internesyenel-nya lebih banyak, punya kesimpulan yang lebih komprehensif dan maknyus.

 


(FIT)