Faktor Penentu Keberlangsungan Bertahan dalam Gua

Anggi Tondi Martaon    •    Senin, 09 Jul 2018 07:00 WIB
tips & trik
Faktor Penentu Keberlangsungan Bertahan dalam Gua
Bagaimana mereka bertahan hidup di dalam gua dalam waktu yang lama? Andrea Rinaldi ahli biokimia di Universitas Cagliari menjawabnya. (Foto: Rohan Makhecha/Unsplash.com)

Jakarta: Tim sepak bola pemuda dan pelatihnya di Thailand menjadi perhatian karena terjebak dalam gua dalam waktu yang lama. Meski ditemukan masih hidup, namun butuh waktu cukup lama untuk mengeluarkan mereka karena kondisi lapangangan belum memungkinkan menyelamatkan mereka.

Bagaimana mereka bertahan hidup di dalam gua dalam waktu yang lama? Andrea Rinaldi, ahli biokimia di Universitas Cagliari, menjawab hal itu tergantung berbagai faktor yang tentunya penunjang kebutuhan hidup.

Faktor pertama yang menjadi penentu yaitu kualitas udara. Rinaldi menyebutkan, ketersediaan oksigen bukanlah sesuatu hal yang perlu dikhawatirkan. Sebab ketersediaan udara untuk bernapas itu biasanya berlimpah di gua, bahkan ratusan meter di bawah tanah.

"Ini (udara) mengalir melalui retakan di bebatuan, dan melalui batu kapur yang keropos," kata Rinaldi saat dikutip dari Livescience.

Rinaldi menyebutkan yang menjadi masalah adalah kontur gua. Sebab, ada beberapa kontur membuat karbondioksida terperangkap di dalam gua yang pada akhirnya mencemari kualitas udara.

"Tapi kantong-kantong jenis ini sangat berbeda dari yang ditemukan tim itu. Kemungkinan besar, jadi akan ada cukup oksigen untuk memertahankan kelompok itu untuk jangka waktu lama. Tapi kualitas udara di ruang tentu parameter yang penyelamat harus memantau mulai sekarang," ungkap dia.


(Rinaldi menyebutkan yang menjadi masalah adalah kontur gua. Sebab, ada beberapa kontur membuat karbondioksida terperangkap di dalam gua yang pada akhirnya mencemari kualitas udara. Foto: Joshua Sortino/Unsplash.com)

(Baca juga: 5 Manfaat Menakjubkan Mendaki Gunung)

Selain itu, jika kondisi gua sangat kering akan menjadi masalah. Sebab, kondisi tersebut melepaskan uap amonia ke udara dan mungkin juga menyebarkan spora jamur.

"Jika terhirup, dapat menyebabkan masalah pernapasan," sebut dia.

Selain kebutuhan udara, hal lain yang harus diperhatikan adalah ketersediaan asupan makanan, khususnya minuman. Kenapa? Karena tubuh manusia bisa bertahan berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan, tanpa makanan.

Rinaldi menyebutkan, untuk pemenuhan asupan cairan cukup rumit karena tubuh membutuhkan air yang bersih dan aman. Jika air di gua tersebut kotor dan sulit disaring, maka seseorang bisa memanfaatkan air tetesan dari langit-langit dan di dinding gua.

Suhu juga bisa menjadi masalah di gua. Sebab, suhu lingkungan gua yang dingin dapat menimbulkan hipotermia, kondisi di mana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin.

"Tetapi di kasus khusus ini (Thailand) kita berurusan dengan gua tropis, jadi suhu sebaiknya di atas 20 derajat Celcius (68 derajat Fahrenheit)," katanya.

Tantangan psikologis

Selain fisik, tantangan lain yang dihadapi oleh orang yang terjebak dalam gua adalah psikologis. Terperangkap di bawah tanah dalam dengan kondisi gelap dan tanpa persediaan makanan yang cukup merupakan menjadi pengalaman yang mengerikan bagi siapa pun.

Untuk kejadian di Thailand, Rinaldi menilai kondisi psikologis korban cukup baik karena mereka terperangkap bersama. Hal itu bisa menjadi kekuatan dan membuat mereka tenang menghadapi kondisi tersebut.





(TIN)