Geliat Festival Payung Indonesia 2016 Terasa Sampai Bukit Bintang

M Studio    •    Senin, 05 Sep 2016 11:07 WIB
berita kemenpar
Geliat Festival Payung Indonesia 2016 Terasa Sampai Bukit Bintang
Festival Payung Indonesia 2016 (Foto:Dok.Kemenpar)

Metrotvnews.com, Solo: Untuk kali kedua, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendukung kegiatan Festival Payung Indonesia 2016 yang digelar di Solo, Jawa Tengah, pada 23-25 September.

Festival yang diselenggarakan di Taman Balekambang itu mengandung nilai historis bagi warga Solo. Taman seluas 9,8 hektare tersebut dibangun oleh KGPAA Mangkunegara VII untuk kedua putrinya, GRAy Partini dan GRAy Partinah pada tahun 1921. Di sana ada kolam besar dan dua patung sang putri.

"Festival ini adalah festival yang mempertemukan pelaku Industri kreatif kreasi payung, penggiat pelaku seni karnaval dan masyarakat untuk melestarikan seni kerajinan payung Indonesia. Terima kasih Kemenpar yang terus peduli dengan kegiatan di daerah yang berpotensi juga mendatangkan wisatawan," ujar Ketua Panitia Kegiatan FPI 2016 Heru Mataya.

Menurut Heru, dalam acara tersebut nantinya akan ada pagelaran Pasar Payung yang akan menjadi central pelaksanaan. Dalam acara itu akan dilaksanakan Karnaval Payung, Solo Dance Festival, Pentas Tari Payung, Fashion Show Payung, Pameran dan Lomba Foto, Workshop dan Melukis Payung, Sarasehan dan Refleksi, Workshop World Culture Forum

"Ini karya seni yang indah dan sangat bisa mendatangkan wisatawan. Buktinya, even FPI tahun ini, selain akan dimeriahkan dengan berbagai kerajinan payung dari dalam negeri, panitia juga akan menampilkan kerajinan payung dari sejumlah negara Asia, seperti Kamboja, Thailand, Jepang, dan Tiongkok, ada kemungkinan akan bertambah  lagi," ujar Heru.

Perhelatan ini dilaksanakan untuk kedua kalinya. Pada tahun 2015, digelar di tempat yang sama pada bulan yang sama. Heru menjelaskan, berbagai persiapan pun tengah dilakukan panitia termasuk mendatangkan pengrajin dari berbagai kota. Panitia juga sudah mulai melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait penyelenggaraan FPI tahun ini, salah satunya melalui kegiatan pra-even yang dilangsungkan di kawasan CFD Solo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

Sejumlah kerajinan payung akan ditampilkan, antara lain dari Juwiring dan Klaten. Uniknya, even kali ini panitia mencoba lebih mengeksplorasi sajian kerajinan, yakni dengan menampilkan batik yang ada di seluruh nusantara." Adanya pra-even yang kami laksanakan agar masyarakat luas juga mengenal jenis payung tradisional yang ada di Indonesia. Kami berharap masyarakat tidak hanya melestarikan payung, namun juga mengembangkan payung untuk menjadi sebuah kesenian kreasi baru," kata Heru.

Kemenpar memang terus progresif memperkenalkan destinasi pariwisata dengan berbagai skema. Terutama dalam hal menciptakan objek atraksi baru Bali and Beyond. Solo termasuk dalam skema Bali-Bali baru atau Joglosemar (Jogjakarta-Solo-Semarang).

Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Personal Kementerian Pariwisata, Raseno Arya mengatakan bahwa wisatawan jangan terus  selalu bertujuan ke Bali saja. Kata Raseno, Joglosemar atau Jogja-Solo-Semarang, juga masuk daerah yang di-branding dalam pemasaran pariwisata internasional oleh Kemenpar.

Itu karena, lanjut Raseno, ketiga daerah memiliki potensi di bidang budaya, belanja, dan kuliner, untuk mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). "Semoga wisatawan juga membuat paketnya ke Solo setelah mengetahui daerah kita yang lain dan berkembangnya festival kita di daerah termasuk FPI. Karena, salahsatu alasan turis mancanegara datang ke Indonesia adalah melihat wisata alam budaya dan karya manusia. Sesuai portofolio pasar pariwisata sektor wisata alam menyumbang 35 persen dan buatan manusia 5 persen," ujar Raseno.

Wisata budaya menyumbang pasar terbesar mencapai 60 persen. Wisata budaya masih terbagi menjadi warisan budaya dan sejarah sebesar 20 persen, belanja dan kuliner 45 persen, serta wisata kota dan desa sebesar 35 persen. Berdasarkan data tersebut, Kota Yogya, Solo, dan Semarang, layak masuk daftar daerah yang di-branding dalam pemasaran pariwisata internasional.

Untuk branding pemasaran di mancanegara, Kota Jogja, Solo, maupun Semarang bisa mengusulkan pilihan tematik keunggulan daerahnya masing-masing. Seperti keris, batik, serta beragam kekayaan budaya maupun kulinernya. Khusus Kota Jogja ditarget 100 ribu wisman atau naik 11,11 persen karena tahun sebelumnya sebesar 90 ribu orang, sedangkan Solo ditargetkan mampu mendatangkan 30 ribu wisman atau naik 100 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 15 ribu orang.

"Bandara Adisucipto dan Ahmad Yani yang masuk great Yogyakarta memiliki kontribusi besar sebagai pintu masuk utama wisman. Bisa dikunjungi setelah dari Bali atau sesudah dari Semarang dan Jogja," kata Raseno.

Yogyakarta dan Semarang juga sudah memiliki 3A, yang dipopulerkan Menpar Arief Yahya dengan atraksi, akses, dan Amenitas. Hotel, resto, kafe, mal, convention center, exhibition termasuk dalam amenitas, yang memang harus disiapkan untuk semua level. "Jika ingin menggenjot wisman, maka akomodasi dan segala kelengkapannya harus disiapkan dengan baik juga," ujarnya.

Raseno juga meminta aktifkan connection Joglosemar. Dimana masing-masing bandaranya sudah berstatus internasional."Jadi kelak orang mau ke Joglosemar, bisa via Adi Sucipto Jogja, Adi Sumarmo Solo dan Ahmad Yani Semarang, lalu dikoneksi melalui overland, jalur darat, mari kita sukseskan semua potensi Pariwisata kita," tandasnya.

Dekorasi payung selalu menghiasi desain banyak festival yang digelar Kementerian yang dipimpin Arief Yahya, mantan Dirut PT Telkom ini. Sejak Peringatan Konferensi Asia Afrika 2015, Festival Payung Solo 2015, Festival Kuliner Manado 2016, Hari Kartini 2016 Jakarta, semuanya menampilkan warna-warni payung. Bahkan di Bukit Bintang Street Festival, Kuala Lumpur Malaysia yang digelar 1-4 September ini, juga mendesain koridor mall dengan warna-warni payung. "Payung memang kreasi yang unik dan punya teste yang artistic," sebut Rizki Handayani, Asdep Pengembangan Pemasaran Mancanegara Wilayah ASEAN di Kuala Lumpur.


(ROS)