Luar Biasa, Indonesia Punya 252 Jenis Satai

Patricia Vicka    •    Rabu, 10 Oct 2018 19:15 WIB
kuliner
Luar Biasa, Indonesia Punya 252 Jenis Satai
Tahukah Anda Indonesia memiliki 252 ragam satai? Simak beberapa informasinya. (Foto: Dok. Humas UGM)

Yogyakarta: Satai merupakan salah satu hidangan kuliner yang banyak disukai. Namun tahukah Anda ternyata Indonesia memiliki 252 ragam satai. 

Pakar kuliner dari UGM, Murdijati Gardjito menjelaskan hampir semua daerah memiliki satai dengan cita rasa yang khas. Hanya Lampung dan Mandar yang tidak memiliki satai sebagai makanan tradisionalnya.

Dari 252 ragam, sekitar 175 diantaranya bisa ditelusuri asal-usulnya. “Hanya 77 ragam yang tidak jelas asalnya,” kata Murdijati dalam diskusi Mengupas Tuntas Startegi Nasi Goreng dan Sate dalam Menembus Citarasa dan Pasar Dunia, Selasa, 9 Oktober 2018 dalam Festival Kuliner Nasi Goreng dan Sate di Grha Sabha Pramana UGM Yogyakarta. 

(Baca juga: Mencicipi Beragam Satai Nusantara di Festival Kuliner UGM)

Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada ini melanjutkan Daerah Istimewa Yogyakarta adalah wilayah yang memiliki ragam satai terbanyak. Tercatat sebanyak 21 ragam satai berasal dari DIY. Disusul dengan Semarang sebanyak 12 ragam satai. Selanjutnya Bali dan Pekalongan yang masing-masing memiliki 11 ragam satai. 

Bahan yang paling banyak digunakan dalam pembuatan satai adalah daging sapi (48,05 persen) diikuti daging ayam (37,66 persen) dan daging kambing (20,77 persen). Empat bumbu kecuali garam yang paling sering dipakai dalam ragam satai adalah bawang putih (96,92 persen), bawang merah (81,53 persen), ketumbar (64,61 persen), dan gula kelapa (63,07 persen). 

“Bumbu yang paling banyak digunakan dalam pembuatan saus atau kuah adalah kacang tanah (11,51 persen), diikuti bawang merah (10,32 persen), bawang putih (9,52 persen) dan kecap manis (8,73 persen),” jelas peneliti Pusat Studi Pangan dan Gizi (PSPG) UGM ini. 

Pelengkap yang paling banyak digunakan adalah kecap manis (3,17 persen), bawang merah iris (2,77 persen), cabai rawit merah (2,38 persen), tomat (2,38 persen), dan bawang goreng (2,38 persen). Semnetara cara memasaknya hampir sama yaitu pertama-tama dibumbui dengan berbagai macam bumbu sesuai citarasa daerahnya lalu dibakar hingga masak dan disajikan dengan pelengkap. 

“Yang unik, terdapat satu macam satai yang tidak memenuhi definisi satai, yakni Sate Godog dari Aceh karena diolah dengan cara direbus tanpa proses pembakaran,” ungkapnya.

Melihat ragam dan sebarannnya cukup banyak, maka satai pantas menjadi produk kuliner yang representasi hidangan citarasa khas Indonesia.





(TIN)