Naniura, Makanan Khas Batak yang Mirip Kuliner Peru

M Studio    •    Senin, 22 Aug 2016 12:02 WIB
berita kemenpar
Naniura, Makanan Khas Batak yang Mirip Kuliner Peru
Naniura (Foto:MI/Atet Dwi Pramadia)

Metrotvnews.com, Balige: Jika di Peru ada menu bernama Ceviche, maka di Danau Toba juga ada menu sejenis yang tak kalah nikmat. Namanya, Naniura. Makanan dari ikan ini nikmat dimakan mentah tanpa bau amis sedikit pun.

Ceviche merupakan makanan khas unggulan Peru. Bahannya dari ikan kakap merah mentah atau bisa juga scallop, dan ikan lainnya yang berserat besar, berdaging  medium, yang direndam air jeruk lemon untuk membuat daging ikan matang. Proses memasaknya tidak menggunakan api.

Di Tano Batak jenis masakan ikan tanpa dimasak itu juga bisa kita temui. Menu itu adalah Naniura. Bedanya kalau Ceviche disajikan dengan irisan bawang merah besar di atasnya, Naniura disiram dengan bumbu halus berwarna kuning.

"Anda pasti penasaran kan? Bagaimana bau amisnya? Bagaimana rasanya? Anda mesti coba!" kata Vita Datau, Ketua Tim Percepatan Wisata Kuliner dan Belanja Kemenpar, di Jakarta.

Naniura adalah salah satu makanan khas Batak Tapanuli Utara, yang bisa ditemui di Danau Toba, Medan, dan Pematang Siantar. Jika dahulu kala Naniura hanya dihidangkan untuk raja-raja Batak, sekarang makanan khas ini sudah bisa dinikmati oleh banyak orang. Bahkan, bisa ditemui di restoran tertentu di sana.

"Di Balige kita perlu memesannya, karena persiapan dan proses pembuatannya membutuhkan waktu, juga harus dari ikan yang segar," ucap Vita yang juga Ketua Akademi Gastronomi Indonesia.

Proses pembuatannya cukup menarik. Ikan mas mentah yang dalam bahasa aslinya disebut Dekke, dibersihkan duri dan lendirnya terlebih dahulu. Lalu dimatangkan dengan cara merendam dalam air asam jungga atau lebih umum dikenal sebagai jeruk purut.

Proses ini  membuat kualitas protein dalam daging ikan mas tetap utuh karena tidak terkena api sama sekali. Tidak direbus, tidak digoreng, tidak dibakar, tidak diasap, tidak kena panas api sama sekali.

Ikan yang digunakan sebaiknya berukuran kecil agar matangnya merata. Saat hendak dimasak, masih dalam kondisi hidup agar tetap segar. Membutuhkan waktu 2-3 jam untuk memasak Naniura yang juga menjadi makanan wajib di acara-acara adat Batak. Ikan dianggap siap makan apabila daging ikan sudah kenyal dan mudah disobek.

Bumbu siram yang digunakan terdiri atas gabungan 10 macam bumbu  termasuk andaliman, kecombrang, yang mempunyai citarasa gurih yang kuat dan harum untuk menggugah selera makan. Tekstur kenyal dari daging ikan yang sudah meresap asam  jungga menghadirkan sensasi tersendiri.

Beda dengan arsik makanan khas Batak lainnya, Dekke di Naniura ini memiliki tekstur kenyal, namun mudah dikunyah dan dimakan bersama bumbu yang melumuri seluruh badan ikan mas itu. Menariknya, ikan yang digunakan juga harus ikan air tawar, pas dengan Danau Toba yang airnya tawar.

Melihat dari komposisi bumbu Naniura,  makanan ini sangat bermanfaat bagi kesehatan.  Mungkin ini alasan kenapa orang-orang tua kita lebih panjang umur, karena mereka mempunyai kebiasaan makan makanan yang baik. Menggunakan bahan-bahan yang segar. Kebiasaan ini yang harus diturunkan kepada keluarga.
Memperkenalkan anak-anak kita cara makan makanan yang baik yang biasanya ada di makanan tradisional. Kearifan lokal tidak pernah salah. Cara makan dan jenis makanan di suatu daerah ditentukan oleh kondisi alam sekitar. Itulah salah satu prinsip gastronomi yang terkenal dengan sebutan otentiksitas.

"Artinya, kita tidak akan pernah bertemu dengan rasa asli yang otentik jika tidak langsung berkunjung ke daerah asalnya. Naniura tempatnya tentu saja di Sumatera Utara,'' katanya.

Menpar Arief Yahya menyebut jenis makanan Naniura ini adalah khas Batak, dan hanya bisa ditemukan di budaya makan Tapanuli. Tidak semua tempat di tanah air punya jenis makanan khas seperti Danau Toba ini.

"Karena itu, sayang kalau tidak mencicipi makanan khas itu. Kalau di Eropa ada Samlon, yang dimakan ala sushi, di Batak ada Naniura, yang juga fresh, tidak dimatangkan dengan api. Penasaran kan? Inilah produk budaya kuliner local yang sangat khas di Batak," ujar Arief Yahya, Menteri Pariwisata RI.

Kuliner, kata Arief Yahya, adalah salah satu cabang dari wisata berbasis budaya. Kuliner itu tidak bisa dipisahkan dari akar budayanya. Mengapa orang Batak menciptakan jenis makanan Naniura seperti itu, juga melalui perjalanan panjang yang cocok dengan karakter budaya setempat. Ada istilah, asam di gunung, garam di laut, berjumpa dalam belanga.

"Perbedaan budaya itu selalu punya satu hal yang sama, salah satunya adalah musik dan kuliner. Enak dan nyaman itu universal," kata Arief Yahya.


(ROS)