Industri Perhotelan di Bali Masih Tetap Tumbuh

   •    Senin, 23 Oct 2017 11:41 WIB
pariwisata
Industri Perhotelan di Bali Masih Tetap Tumbuh
Bali tetap menjadi destinasi wisata favorit bagi wisatawan mancanegara meski Gunung Agung berstatus siaga darurat. (Foto: Instagram Jamie Fen/Unsplash.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bali tetap menjadi destinasi wisata favorit bagi wisatawan mancanegara meski Gunung Agung berstatus siaga darurat. Hal ini dikemukakan oleh Ketua DPD Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) cabang Bali I Ketut Ardana. Menurutnya, dua persen dari seluruh wilayah di Bali terkategori berbahaya karena faktor tersebut, sedangkan 98 persen lainnya masih terkategori aman dan nyaman.

“Bali tetap menjadi destinasi favorit bagi turis-turis Eropa, Amerika dan Australia. Mereka kagum terhadap budaya Bali yang sangat unik dan tidak ada duanya di dunia. Alamnya pun tidak kalah menarik dengan tempat wisata lain,” tuturnya.
 
Menurut Ketut, Bali memiliki banyak keunggulan lain di luar pantai dan lautnya seperti wisata eco, wisata petualangan, wisata spa, wisata bulan madu, wisata spiritual dan juga wisata belanja.
 
“Bali berbeda dengan Eropa, Amerika dan Australia. Persamaannya hanyalah pada pantai berpasir putih yang memang banyak di berbagai negara.”
 
Senada dengan Ketut, menurut Joan Chang, salah satu tim pendiri Cara Cara Inn, hostetel butik pertama di Bali, pariwisata di pulau Dewata ini tidak terganggu secara signifikan dengan adanya status Gunung Agung. Bali tetap menjadi pilihan untuk penggemar olahraga air karena pantai dan lautnya yang menjadi daya tarik.



(Baca juga: Pasar Seni, Surga Berburu Oleh-Oleh di Bali)

“Sejauh ini Cara Cara Inn tetap diminati oleh turis yang sedang berlibur di Bali. Lokasinya yang berada hanya lima menit dari pantai Kuta bisa jadi adalah faktor utamanya, ditambah dengan konsep baru dalam menginap yang ditawarkan di sini,” kata Joan. Ia juga menambahkan, Cara Cara Inn juga menawarkan fasilitas dan privasi setara hotel dengan harga yang lebih terjangkau.
 
“Konsep ini sangat mengena di kalangan anak muda yang suka petualang. Nama Cara Cara kami ambil dari kata caravan, yang mencerminkan jiwa muda, suka travelling, dan ingin mengeksplorasi dunia dengan karakternya sendiri. Dominasi warna fibran pada bangunan berlantai tiga ini memberi kesan ceria. Kami mencoba memenuhi kebutuhan mereka untuk mengekspresikan semangat berpetualang dan mudanya.”
 
“Kami menyediakan Giant Map of Bali untuk para traveler menyuarakan pendapat mereka tentang berbagai tempat wisata di Bali. Kami sangat menyarankan para tamu untuk bisa bersosialisasi dengan traveler lain layaknya sebuah komunitas. Memang sudah banyak cerita tentang Bali dari berbagai media, namun mendapatkan gambarannya dari para petualang yang pernah mengalaminya langsung bisa menambah wawasan dan kenangan tentang Bali lebih dalam lagi,” ungkapnya.
 
 
 







(TIN)