Deaf Cafe Fingertalk Layani Pengunjung dengan Bahasa Isyarat

Cecylia Rura    •    Selasa, 28 Nov 2017 12:33 WIB
kuliner
Deaf Cafe Fingertalk Layani Pengunjung dengan Bahasa Isyarat
Suasana Deaf Cafe Fingertalk ((Foto: Instagram dcfingertalk)

Jakarta: Selain disuguhi sajian kuliner yang beragam serta dekorasi cantik, Deaf Cafe Fingertalk menawarkan suasana kafe yang berbeda dari tempat lain. Sesuai namanya, di sini pelanggan akan dilayani oleh pramusaji dari penyandang tuna rungu.

Namun jangan salah, kafe istimewa ini tidak memaksa para pekerja tuna rungu untuk bekerja keras dengan tuntutan berat. Mereka justru didorong untuk berkomunikasi dan lebih percaya diri saat berinteraksi dengan orang lain melalui fingertalk  atau bahasa isyarat.

Adalah Dissa Syakina Ahdanisa, sosok pemudi yang bergerak di belakang semangat para kaum tuna rungu di Deaf Cafe Fingertalk. Dissa yang memiliki darah Sumatera ini memiliki satu ide mendirikan kafe, carwash, sekaligus tempat workshop di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan sejak Mei 2015.


Dissa Syakina Ahdanisa (Foto: Cecylia Rura)

Hal ini bermula ketika perempuan lulusan University of New South Wales itu melalui perjalanan panjang bersekolah mulai dari berkuliah di Jepang dan Australia sekaligus bekerja sebagai akuntan dan melanglang buana ke Nikaragua dan Singapura.

Hingga suatu ketika saat ia tergabung dalam komunitas relawan di Nikaragua, Dissa menemukan Cafe de las Sonrisas di kawasan Granada, sebuah kafe yang memberdayakan kaum tuna rungu sebagai pramusaji. Yang menarik, pelayanan terhadap pelanggan di sana menggunakan kartu khusus sebagai ucapan selamat menyantap hidangan yang disajikan.

Dissa kemudian tergerak hatinya untuk mendirikan sebuah kafe sekaligus wadah berkumpul bagi teman-teman tuna rungu di Indonesia. Untuk mendirikan kafe ini, Dissa mengaku berat dan sempat kesulitan mencari modal. Kemudian saat ada tawaran bekerja di Singapura, ia mulai menyisihkan penghasilannya sebagai modal membuat Deaf Cafe Fingertalk, meski kedua orangtua Dissa sempat khawatir akan rencana Dissa.

"Orangtua background-nya finance. Ayah konsultan pajak, ibu auditor. Ketika aku bilang pengin buka kafe tuna rungu mereka sempat khawatir dengan modal dan untungnya," ungkap Dissa dalm diskusi jejaring oleh Tempo Media Week di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Minggu, 26 November 2017.

Hasil keringat Dissa pun terbayar ketika usaha kafe sekaligus carwash  ini mulai dikenal dan bertumbuh perlahan. Tak sendiri, Dissa juga banyak belajar dari salah satu guru besar sekaligus Ketua Umum Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin), Pat Sulistyowati yang telah dari 10 tahun memimpin Gerkatin di Indonesia.

Aksi perempuan berusia 27 tahun ini bahkan sempat mendapat pujian dari Barack Obama. Tentu merupakan suatu kebanggan baginya mendapat sorotan dari public figure  dunia.


Pengunjung dapat berlajar bahasa isyarat di kafe Fingertalk (Foto: Instagram dcfingertalk)

Kendati kini banyak mengundang perhatian publik, Dissa mengaku ada banyak kendala selama menyuarakan keberadaan kaum tuna rungu di Indonesia. "Kepercayaan diri teman-teman tuna rungu, apalagi dari kalangan menengah ke bawah mereka terdiskriminasi dengan amat sangat," kata Dissa.

Sehingga ketika mereka mendapatkan kesempatan bekerja, mereka akan melakukannya semaksimal mungkin. Kepercayaan diri mereka ini terus didorong oleh Dissa terutama ketika mereka berperan sebagai customer service melayani pelanggan.

"Kareka level confidence  mereka kurang terkadang ada yang bilang, 'saya nggak mau, saya mundur ketemu customer', padahal kita harus ceria, kita harus ajarin, kita harus benar-benar bilang ke mereka kalian bisa kok," lanjutnya.

Saat bekerja bersama teman-teman tuna rungu Dissa mengaku tak pernah terbesit untuk bersikap marah ketika mengajari teman-teman tuna rungu. Karena menurutnya, sikap marah hanyalah pelampiasan sia-sia dan melukai perasaan teman-teman tuna rungu.

Setiap bidang baik itu memasak maupun mencuci mobil, Dissa menyiapkan tim khusus dan supervisor untuk melatih teman-teman tuna rungu. Mereka bekerja, tentu mereka mendapatkan upah. Dan ini menjadi salah satu motivasi teman-teman tuna rungu untuk bekerja di kafe istimewa ini.

Sempat ada beberapa orang yang berselisih paham dan bertanya, mengapa harus orang-orang tuna rungu yang dipekerjakan seperti ini. Hal ini cukup membuat Dissa prihatin karena sebagian besar orang menganggap teman-teman tuna rungu berasal dari golongan menengah ke bawah. "Padahal ada juga teman tuna rungu yang orangtuanya kaya raya," tandasnya.

Hingga saat ini sudah ada sekitar 30 orang yang bekerja di kafe fingertalk Dissa.

Untuk ke depan, Dissa berencana akan membuat inovasi menu dan promo khusus akhir tahun untuk menarik lebih banyak pelanggan.

Bagi yang melihat prestasi Dissa mungkin berpikir sangat disayangkan mengapa ia melepas pekerjaan yang begitu menjanjikan kesejahteraan masa depan. Namun baginya, akan lebih disayangkan jika tidak ada wadah yang memperhatikan para kaum tuna rungu di Tanah Air.

Sajian menu favorit di kafe ini adalah Nasi Capcay dan Nasi Ayam Bakar. Untuk range harga makanan di sini bekisar antara Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu. Di sini, pengunjung juga akan belajar dan menikmati bagaimana asyiknya belajar dan berkomunikasi dengan teman-teman tuna rungu.


(Foto: Instagram dcfingertalk)

Persisnya lokasi kafe ini dibuka di Jalan Pinang No. 37 Pamulang Timur, Tangerang Selatan, Banten. Dissa juga membuka cabang lain tepatnya di Jalan Cinere Raya No. 26-29, Depok, Jawa Barat. Untuk mencicipi sensasi berkuliner sekaligus berbahasa isyarat kafe ini buka hari Selasa sampai Minggu pukul 10 pagi hingga pukul 9 malam.

 


(DEV)