Ngeliwet, Budaya Makan Bersama yang Jadi Tren Kekinian

Yatin Suleha    •    Kamis, 20 Jul 2017 18:00 WIB
liputan kuliner
Ngeliwet, Budaya Makan Bersama yang Jadi Tren Kekinian
Jika kita menilik dari sejarahnya, kata “liwet” artinya adalah suatu cara memasak nasi yang sering dilakukan di desa. Liwetan merupakan suatu bentuk kerjasama dan kebersamaan yang kuat. (Foto: Dok. Novotel Bogor Golf Resort & Convention Center)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sabtu itu di sebuah resto di kawasan Selatan Jakarta, 10-12 orang terlihat sedang duduk bersila di alas tikar. Di hadapan mereka tengah tersaji panganan nasi dengan aneka lauk yang di letakkan di atas daun pisang yang memanjang. 

Tempe goreng, tahu goreng, ayam goreng, ikan asin, sayur asam, sambal lalapan, dan masih banyak lagi lainnya.

Nampak mereka menyantap sajian tersebut bersama-sama dalam suasana yang cukup santai dengan cara sederhana, hanya menggunakan tangan saja.

Ada pula pemandangan yang mirip seperti di atas terjadi di sebuah saung di kawasan Bogor, Jawa Barat. Abdul Malik, seorang pengusaha muda bidang pertanahan yang juga melakukan hal yang sama, yaitu memakan nasi liwet. 


(Aneka lauk-pauk tersaji dalam hidangan nasi liwet. Foto: Dok. Novotel Bogor Golf Resort & Convention Center)

Bersama dengan teman-teman sejawatnya dalam acara temu kangen ia mengatakan ia menyukai konsep makan ngeliwet. "Saya memang sudah sejak kuliah dulu (tahun 2003-an) sering melakukan makan nasi liwet bersama teman-teman, beralas daun pisang seperti ini," ujarnya pada Metrotvnews.com.

"Kalau dulu saat kuliah, makan nasi liwet karena selain bisa hemat biaya, juga ada nilai kebersamaan dengan teman-teman di kos-kosan," papar bapak dua anak ini.

Malik mengatakan bahwa ada hal lain yang bisa didapat dari kegiatan memakan nasi liwet ini jika dibandingkan dengan memakan dengan masing-masing piring.

"Dari mulai proses memasak nasi liwet, sampai lauk-lauknya jadi atau matang. Satu sama lainnya bekerja sama dan saling bantu. Makan nasi liwet itu selain bisa kenyang maksimal juga ada rasa keakraban, kebersamaan, kedekatan satu sama lain," akunya.

(Baca juga: Nikmatnya Makan Nasi Liwet dan Ikan Bakar di Alam Pegunungan)


(Nasi liwet Wongso Lemu di Jalan Teuku Umar, Keraton Mangkunegaran, Solo. Foto: Dok. kenali-negrimu.blogspot.co.id)

Sejarah Nasi Liwet

Jika kita menilik dari sejarahnya, kata “liwet” artinya adalah suatu cara memasak nasi yang sering dilakukan di desa. Liwetan merupakan suatu bentuk kerjasama dan kebersamaan yang kuat. 

Tradisi bersejarah liwetan yang kini sudah berumur 80 tahunan, hingga sekarang masih terus eksis. Bahkan saat ini, makan "nasi liwet" hadir kembali menjadi salah satu tren kekinian yang awalnya ramai menghiasi dunia media sosial.

Menurut Fadly Rahman, sejarawan kuliner mengatakan bahwa nasi liwet ditenggarai muncul di Solo, di kawasan Mangkunegaran atau keraton pada era 1930-an. Tahun tersebut menurut Fadly juga bertepatan dengan krisis pangan yang terjadi saat itu. 

Ngeliwet atau sering disebut bancakan menjadi aktivitas yang merujuk pada makan bersama-sama.

Hampir sama dengan nasi liwet Solo, nasi liwet ala Sunda juga cukup dikenal oleh banyak kalangan. Fadly menyebutkan bahwa ada beberapa perbedaan antara nasi liwet Solo dan Sunda. 

Kebanyakan nasi liwet Solo menggunakan areh (kelapa), sedangkan nasi liwet Sunda tidak menggunakan santan karena secara geografis daerah Sunda tidak banyak kawasan pesisir dan cukup sulit untuk mendapatkan kelapa.

Lauk-lauk manis juga banyak dijumpai di ragam lauk pada nasi liwet Solo, sementara lauk-lauk asin banyak ditemui di nasi liwet khas Sunda.

"Yang berbeda lainnya juga dari kedua jenis liwetan itu adalah  jika nasi liwet Solo banyak digunakan dalam acara selamatan, sedangkan pada budaya Sunda, nasi liwet merupakan makanan sebagai bekal untuk petani jika mereka pergi ke sawah atau ke kebun."


(Krisdayanti berserta suami dan kolega saat liwetan ketika berbuka puasa. Foto: Dok. Instagram Krisdayantilemos)


Nasi Liwet Lintas Semua Kalangan

Kini, sajian nasi liwet bisa dibilang merupakan kegiatan yang cukup digemari oleh banyak kalangan. Sebut saja deretan artis seperti Yuni Shara, Syahrini, Ashanti, Shinta Bachir, Rina Nose, Zaskia Gotik, Sule, Krisdayanti, atau Irfan Hakim juga melakukan hal yang sama yaitu memakan nasi liwet.

Dari mulai diadakan di sudut sebuah kebun, garasi, sampai merambah ke hotel nasi liwet kembali naik daun lagi. Bahkan dalam sebuah rilis yang diterima dari Novotel Bogor Golf Resort & Convention Center sejak dibuka Juni 2017 lalu, para tamu merespons dengan positif adanya menu nasi liwet ini. 

"Walau menu ini hanya bisa dinikmati di tempat saja, yaitu Bale Bengong / Verandah Restaurant (on request), namun semua tamu juga bisa meminta pilihan menu jika mereka menginginkan untuk diadakan dalam private event," terang Maria Cyntia, selaku Marketing Communications Manager dari Novotel Bogor Golf Resort & Convention Center.

Tak hanya di Novotel Bogor Golf Resort & Convention Center, tradisi liwetan kini juga nampaknya tidak hanya dijalankan di Jawa saja, pulau asalnya namun ada juga di pulau lainnya. 

Menu liwetan juga diminati oleh banyak kota di luar pulau Jawa, salah satunya yaitu Makassar. ibis Styles Makassar Sam Ratulangi merupakan salah satu pelopor hotel yang menyediakan menu lezat ini di kota Makassar. 

"Bagi tamu yang ingin menikmati lezatnya menu Liwetan, cukup datang ke restoran trendi sTREATs Restaurant yang buka 24 jam dan berada di lantai lobi hotel. Satu paket menu Liwetan yang disediakan dapat dinikmati hingga lima orang, lengkap dengan es teh dan air mineral free flow," ujar Paulus Karim General Manager ibis Styles Makassar Sam Ratulangi.

"Nikmatnya menu liwetan yang ada di ibis Styles Makassar Sam Ratulangi disediakan lengkap mulai dari nasi uduk, ayam goreng, tahu, tempe, lalapan juga sayur asam. Menu Liwetan ini juga cukup terjangkau, dengan harga Rp 150.000 net per paket berlaku hingga 30 Juli 2017, Anda bisa menyantapnya bersama keluarga atau handai tolan."   










(TIN)