Jelajah Melbourne

Belajar dari Australia Terkait Sistem Full Day School

Hilman Haris    •    Selasa, 11 Oct 2016 16:13 WIB
wisata australia
Belajar dari Australia Terkait Sistem <i>Full Day School</i>
Australia sudah menganut sistem full day school sejak lama (PAUL CROCK / AFP)

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy berencana menerapkan sistem full day school untuk pendidikan dasar (Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama) di sekolah negeri dan swasta di Indonesia. Sistem ini dibuat dengan harapan siswa masih dalam pengawasan guru dan sekolah ketika orang tua mereka bekerja.

Setidaknya, ada 500 sekolah yang bakal dipilih untuk menjalankan program ini. Menurut Mendikbud, ke-500 sekolah tersebut masih yang berada di wilayah DKI Jakarta.

Akan tetapi, belum apa-apa banyak orang tua murid yang memandang progam tersebut dengan sinis. Mayoritas orang tua khawatir siswa akan stres karena terlalu lama berada di wilayah sekolah. Di sisi lain, sejumlah guru ikut keberatan program ini dijalankan karena ditakutkan akan menambah beban pekerjaan.

Mendikbud segera menjawab kekhawatiran para orang tua murid. Ia memastikan, full day school bukan berarti peserta didik belajar bakal terus dicecar pendidikan formal selama di sekolah. Sistem itu justru mengajak murid untuk aktif di pendidikan formal serta ekstrakurikuler.

Sebetulnya, sistem full day school sudah diterapkan di beberapa negara. Salah satunya adalah Singapura. Bahkan berkat sistem seperti itu, mereka berhasil mencetak siswa-siswa teladan. Buktinya, Singapura menduduki ranking pertama di dunia dari hasil tes PISA (literasi membaca dan matematika yang diberikan kepada siswa berusia 15 tahun).

Negara tetangga lainnya, Australia, juga sudah lama menggunakan sistem pendidikan seperti itu. Di sana, murid SD berada di kelas dari pukul 09.00 hingga 15.00. Untuk murid usia 9-13 tahun belajar dari pukul 08.40 sampai 15.30. Sedangkan murid usia 13-16 belajar sampaipukul 15.15.

Metrotvnews.com melalui kerja sama dengan ABC International mencoba mengulik sistem full day school yang diterapkan di negeri Kanguru. Agar bisa memberikan perbandingan dengan pendidikan di tanah air, Metrotvnews.com mendatangi orang tua murid asal Indonesia yang kini sedang menimba ilmu di Kota Melbourne, Australia, yakni Andi Armawadjidah Marzuki Phd

Ia sedang berkuliah di Universitas Monash mengambil jurusan “Reflective Practice Secondary School” sekaligus orang tua dari Andiwanua Malise serta Andi Ade Sipakaraja. Dua murid asal Indonesia yang menimba ilmu di sekolah dasar di Kota Melbourne.

Menurut Armawadjidah, sistem full day school bisa saja diterapkan di Indonesia. Asal, Mendikbud mampu memenuhi syarat yang dibutuhkan. Salah satunya kemampuan guru dalam memberikan mata pelajaran yang sesuai dengan sitem tersebut.


(Armawadjidah Marzuki Phd saat berbincang dengan Metrotvnews.com)

“Di sini (Melbourne), guru tidak hanya dibekali dengan kemampuan untuk memberikan pelajaran formal. Mereka juga mampu mendidik murid dengan berbagai kegiatan ekstrakuliker. Anak saya, Raja dan Nunu betah di sekolah selama berjam-jam lantaran ada kegiatan yang seru seperti melukis, bermusik, olahraga, dan kegiatan menyenangkan lainnya,” ujar Armawadjidah.

Fasilitas di setiap sekolah juga menjadi perhatian Armawadjidah. Jika ingin agar murid betah berlama-lama di sekolah, fasilitas penunjang seperti ruang terbuka untuk bermain atau ketersediaan alat-alat seni terpenuhi.

“Murid mendapat waktu istirahat sekitar 2-3 jam setiap hari. Selama istirahat itu, murid dibebaskan untuk melakukan berbagai aktivitas. Anak-anak yang suka olahraga disediakan fasilitasnya. Murid yang senang melukis bisa mengeksplorasi bakat karena sekolah menyediakan cat serta kanvas,” tambah Armawadjidah

PERBANDINGAN KURIKULUM
Di Indonesia, siswa-siswa SD sudah diberi banyak mata pelajaran, pekerjaan rumah (PR), serta ujian yang berat. Bahkan, siswa taman kanak-anak (TK) sudah diberi keharusan untuk lancar membaca dan berhitung. Hal berbeda diterapkan di Australia. Di sana, siswa TK hingga SD diberi kebebasan untuk bermain, mengembangkan kreativitas, dan bersosialisasi. 

Dengan cara itu pula, siswa ditekankan untuk belajar mengenal diri sendiri, lingkungan, dan pengembangkan sikap (character building). Tak heran jika para siswa sering melakukan kegiatan di luar kelas, seperti ke perkebunan dan peternakan. 

“Dari kegiatan itu anak belajar hal-hal penting yang kadang dianggap sepele, seperti budaya antre dan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Hal positif dari tipe pelajaran seperti ini akan terlihat ketika siswa beranjak dewasa atau saat memasuki dunia perkuliahan. Nantinya, mahasiswa bakal memiliki pengembangan karakter yang kuat serta fondasi sikap yang tertanam di pendidikan dasar. Mereka jadi jadi lebih mandiri, jujur, kreatif, inovatif, serta berpikir kritis,” tutur Muslimin Marwas, suami dari Armawadjidah sekaligus guru di SMA Negeri 11 Makassar.


(Muslimin Marwas guru di SMA Negeri 11 Makassar)

Selain itu, jumlah perbandingan antara guru dengan murid juga harus diubah jika pemerintah serius mau menjalankan sistem full day school. Saat ini, jumlah siswa dalam satu kelas di sekolah di Indonesia bisa mencapai 30 hingga 40 orang. Jumlah tersebut tidak ideal. Menurut Marwas, harusnya satu kelas hanya diisi oleh 15 hingga 20 murid.

“Saya sebagai guru tidak setuju jika satu kelas diisi oleh murid yang terlalu banyak. Murid-murid yang duduk di belakang bakal merasa bosan karena tidak memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan guru. Apa jadinya jika mereka terus seperti itu dalam sistem full day school?” tegas Marwas.

Sekolah-sekolah dasar di Australia pernah memiliki 30-40 murid dalam satu kelas. Namun kebijakan itu direvisi. Mereka menetapkan jumlah murid di kelas tak lebih dari 20 orang. Sebaliknya, mereka justru memperbanyak kuantitas guru serta media yang bisa digunakan siswa untuk berkreasi seperti alat tulis, komputer, alat peraga, papan tulis, dan masih banyak lagi.

“Jumlah siswa yang sedikit memungkinkan guru dan murid berinteraksi secara rutin. Murid juga dapat belajar dan  berdiskusi dalam kelompok,” tambah Armawadjidah.

Sistem pendidikan yang digunakan Australia terbukti ampuh mencetak generasi-generasi andal. Jadi, tak ada salahnya sistem pendidikan di Indonesia juga menganut sistem serupa. Sistem full day school yang direncanakan Kemendikbud bisa menjadi jalan ke arah situ. Sekarang tinggal bagaimana usaha pemerintah untuk mempersiapkan serta merealisasikan semuanya. 


(HIL)