Tradisi Budaya Sang Pendahulu

Pelangi Karismakristi    •    Rabu, 30 Nov 2016 22:05 WIB
galeriindonesiakaya
Tradisi Budaya Sang Pendahulu
Istana Siak Sri Indrapura merupakan salah satu peninggalan sang pendahulu. Foto: TRB/ Bagus HP

Metrotvnews.com, Jakarta: Berbicara mengenai kekayaan budaya dan seni di Indonesia memang tak ada habisnya. Dari ujung barat hingga ujung timur wilayahnya memiliki keunikan tersendiri, yang menarik untuk ditelisik.

Bila Anda berkunjung ke Lampung, luangkan waktu menilik Museum Lampung yang beralamat di Jalan ZA Pagar Alam No.64 Bandar Lampung. Museum yang didirikan pada 24 September 1988, ini menyimpan banyak koleksi bersejarah Lampung dan tentu saja Anda bisa mengenal sejarah kota ini lebih jauh.

Di dalam museum terdapat patung pengantin setempat yang menggambarkan dua kelompok besar masyarakat adat Lampung, lengkap dengan pakaian dan dekorasi khas. Misalnya, kostum pernikahan masyarakat adat Saibatin didominasi warna merah. Di dekat singgasana pengantin, terlihat sejumlah kasur yang bertingkat. Kasur tersebut menurut salah satu Budayawan Lampung, Nasrun Rakai, menandakan tingkatan gelar keluarga pengantin.

Nasrun menjelaskan, tingkatan Saibatin berjumlah delapan, yakni sultan, pangeran, dalom, raja, batin, radin, mina, dan kemas. Apabila sultan yang menikah, maka dia berhak dan harus meminta anak buahnya menyiapkan tempat pernikahan yang dilapisi 12 lebar kasur. Selain Saibatin, ada pula kostum pernikahan masyarakat adat Pepadun yang menggunakan warna kuning dan putih sebagai warna yang dominan.

Dari Lampung, menuju ke arah utara ke Kepulauan Riau. Ternyata Provinsi Riau yang beribukota di Pekanbaru menyimpan beragam budaya dan kearifan lokal lain yang menarik untuk ditelusuri. Jika berkunjung ke sana, tak lengkap rasnya jika absen mengunjungi Istana Siak Sri Indrapura yang juga sering disebut Istana Matahari Timur. Meskipun dibangun pada 1889, konstruksi bangunannya masih sangat kokoh.

Istana Siak merupakan bukti sejarah kebesaran Kerajaan Melayu Islam yang paling besar di kawasan Riau dan mengawali masa kejayaan sejak abad ke-16. Ada 12 Sultan yang telah bertahta di sana, mulai dari Raja Kecik, Sultan Syarif Kasim (SSK) II, dan Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifudin.

Menariknya lagi, Istana Siak masih menyimpan alat musik zaman baheula, yakni komet yang dibawa oleh Sultan Siak ke-XI Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil pada 1896. Alat musik sejenis gramofon ini hanya ada di Indonesia dan Jerman. Hingga kini, melalui piringan yang terbuat dari besi berbentuk lingkaran, komet masih bisa berfungsi dan memutar alunan musik klasik ciptaan Beethoven, Wolfgang Amadeus Mozart, dan Richard Strauss.

Beralih ke Kalimantan Timur, di sana terdapat Kerajaan atau Kesultanan Kutai Kartanegara yang merupakan salah satu kerajaan bercorak Islam yang berdiri tahun 1300. Usai masa kejayaan pada 1960, kerajaan ini kembali dihidupkan oleh pemerintah setempat berupa pelestarian budaya dan adat Kutadi Kedaton.

Untuk menjaga rekam jejak Kesultanan Kutai Kartanegara, maka seluruh barang-barang bersejarah ditempatkan di Museum Mulawarman. Museum tersebut merupakan bangunan yang dulunya dijadikan sebagai keraton Kesultanan Kutai Kartanegara. Salah satu ikon barang bersejarah di Museum Mulawarman yaitu singgasana sultan. Singgasana yang terbuat dari kayu tersebut diberi lapis kapuk yang dibungkus oleh kain berwarna kuning.

Singgasana tersebut berfungsi sebagai tempat penambalan sultan, yang digunakan oleh Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Sultan Aji Muhammad Sulaiman Parikesit dan raja-raja Kutai sebelumnya. Ada kepercayaan masyarakat Kutai mengenai singgasana sultan mengenai arah kursi tersebut yang harus menghadap timur, yakni arah Sungai Mahakam.

Selain dijadikan sebagai tempat penyimpanan barang bersejarah, Museum Mulawarman selalu digunakan sebagai pusat festival budaya Erau, yaitu festival yang rutin diselenggarakan oleh masyarakat Kutai setiap tahun. Uniknya, festival tersebut dilangsungkan secara maraton selama 7 hari, 7 malam. Salah satu ritual sakral yang dilakukan dalam rangkaian proses Festival Erau adalah Belian. Belian merupakan upacara pengobatan yang dilakukan oleh suku Dayak bagian Kalimantan Timur.

Selain peninggalan masa lalu di Lampung, Riau dan Kalimantan Timur, masih banyak lagi lainnya. Ingin tahu kelanjutannya? Simak perjalanan Yovie Widianto dan Renitasari Adrian hanya di Metro TV pada Kamis (1/12/2016) pukul 22.30 WIB. Jangan lupa, ikuti kuis IDEnesia dan Galeri Indonesia Kaya dengan follow twitter @IDEnesiaTwit atau @IndonesiaKaya.
 


(ROS)