Cerita Masa Lalu Seniman Batik Ciracap

Fitra Iskandar    •    Selasa, 15 Nov 2016 17:22 WIB
Cerita Masa Lalu Seniman Batik Ciracap
Aliyudin Firdaus, seniman batik pakidulan Ciracap, Kab Sukabumi. (Foto:MTVN/Fitra Iskandar)

Metrotvnews.com, Sukabumi:  Aliyudin Firdaus hanya bisa menampung sisa cat yang ia dapat dari tetangga yang sedang membangun atau merenovasi rumah. Tak jarang juga ia memungut kayu yang ditemui di jalan. Sebagian orang kampung menganggapnya aneh.

Cat itu ia pakai untuk melukis. Kayu ia pahat untuk jadi patung.  Saat malam ia sering begadang, ketika siang hari, ia lebih sering tidur. Aliyudin akan bergerak ke warung kalau mulut asam. Kadang berutang  demi si ‘Kembang Tebu’,  rokok favoritnya yang harganya perbungkus sekitar Rp6,500, 10 tahun lalu.

Aliyudin yang hidup di luar kebiasaan orang kampung itu, kini menghasilkan karya yang mengantar nama desanya go internasional.  Ia menjadi seniman batik. Karyanya sempat ia pamerkan di Birmingham Inggris, sampai-sampai ada pihak yang mengajaknya untuk menetap di Malaysia. Mereka tergiur dengan kreativitas Aliyudin. “Kayaknya mah (utusan) dari kementerian sana,” Aliyudin tidak tahu pasti.

Pemuda Desa Purwasedar ini kini memiliki sanggar batik. Sekitar 30 orang bekerja di sanggarnya. Tempat ini menjadi sumber nafkah baru bagi sebagian warga desa. Di tengah ketidakpastian panen, mereka memiliki penghasilan alternatif. Tidak melulu bergantung kepada hasil tanam.

Desa Purwasedar, kampung Aliyudin adalah kampung  yang cukup terpencil. Dari Jakarta, desa yang berada di Kecamatan Ciracap Kabupaten Sukabumi itu, bisa ditempuh dalam waktu tujuh jam jalur darat. Atau dua setengah jam dari Kota Sukabumi.

Mayoritas warga desa hidup dari menanam padi, kelapa dan palawija. Dulu, kata Aliyudin,  Desa Purwasedar terkenal sebagai desa tempat para seniman. Mereka  membuat kerajinan alam dan tenunan.  Tetapi sudah berpuluh tahun nuansa kesenian tak lagi dijumpai. Tak ada penerusnya. Mungkin karena itu sebagian penduduk asing dengan pekerjaan seniman. 

Keasrian Desa Purwasedar adalah inspirasinya bagi Ali.  Ia kerap tertegun melihat pemandangan yang Ia temui. Di satu titik, ia bisa berlama-lama memandangi pohon atau orang membajak sawah. Aliyudin dianggap pemalas, bahkan tidak waras.

 “Kata orangmah hirupna ge moal waluya  (hidupnya tidak akan baik). Jangan gaul sama si anu nanti kebawa. Omongan-omongan gitu kadang saya dengar pas ke warung, atau lagi cari inspirasi. Soalnya kalau saya lewat ada sesuatu  lingkungan yang unik, saya nongkrong di situ. Saya perhatiin. Nah di situ orang mungkin anggap, ‘Wah ini mah kurang waras’,” cerita Aliyudin.



Pembawaan Aliyudin landai. Mungkin ia terbawa  suasana desanya yang  sunyi.  Kampung Purwasedar dikelilingi sawah luas yang berundak-undak. Pohon kelapa berjajar. Anginnya semilir.  Di depan rumah mereka, suara motor yang lewat mungkin 15 menit sekali, bisa jadi setengah jam.

Di balik itu sebenarnya ia kepala batu. Aliyudin yakin dengan jalannya sebagai seniman. Ia pernah bekerja di bengkel di Bogor. Keahlian yang ia dapat dari SMK ia salurkan di sana. Tetapi ia tidak betah dan pilih pulang kampung.

Ia  membuat patung dan lukisan untuk menyambung hidup. Karena tidak punya modal, ia memungut cat-cat bekas dari tetangga,  kayu bakar, atau kayu yang ia temukan di sekitar lingkungannya. Kang Ali, begitu ia disapa, berjualan keliling kampung menjajakan karya seninya.  Tetapi sulit. Orang enggan mengeluarkan uang untuk membeli karya seni.  “Pas keliling ya ada yang nanya harga,  terus  ada yang bilang mending (ditukar) sama beras. Nah ya sudah akhirnya karya saya ditukar sama beras. Patung 20 Cm ditukar satu liter. Kalau yang 70 Cm ditukar beras lima kilo. Kalau lukisan waktu itu yang 40x60 itu dihargai lima kilo beras,” tuturnya.

Hasil barter itu sebagian ia sisihkan untuk membeli bahannya berkarya lagi merealisasikan ide-idenya yang menumpuk di kepala. Istri dan orangtua, lama-lama protes dengan gaya hidup Ali.  “Kayu saja diurusin, dapur enggak.”



Pada 2010, Aliyudin mendengar kabar dari seorang guru SMA mengenai lomba lukis di Bandung. Kemudian Ia mencari biaya dengan membuat empat patung dan menjajakannya di sekitar hajatan yang dimeriahkan hiburan dangdut. Sampai malam tidak ada yang beli,  beruntung saat pesta bubar, pemilik hajat menghampirinya dan membeli semua patungnya, Rp200 ribu. Uang itu ia belikan kuas dan kertas. Sisanya untuk ongkos ke Bandung mengikuti lomba. Panitia terkesan dengan keterampilannya, dan mengangkatnya sebagai juara satu.

Di sinilah roda hidupnya berputar ke atas. Sejumlah media menulis profilnya, dan salah satu perusahaan BUMN mensponsorinya untuk mengikuti pameran di Birmingham Inggris pada 2015.  Tiga bulan ia di sana. Betah tidak betah. Cuaca terlalu dingin, dan Ali kesulitan beradaptasi dengan makanan sehingga diare. Tetapi pelajran berharga ia dapatkan yaitu kedisiplinan.

Kang Ali sebelumnya memang belajar membatik dengan pewarna alam. Batiknya ia berinama batik pakidulan. Lama juga ia belajar sehingga benar-benar bisa membatik. Sekitar lima tahun. Setelah mengerti dan bisa mempraktikannya, ia membawa batik pakidulan ke Inggris. Salah satu keunggulan yang ia pamerkan di sana adalah batiknya menggunakan pewarna alam sehingga ramah lingkungan.

Ia saat ini juga menjadi seniman Geopark Ciletuh. Ceritanya, syarat untuk pengesahan Geopark  masuk dalam Jaringan Global Geopark (Geopark  Global Network) adalah wilayah itu juga harus memiliki ahli seni.  Ali pun dipilih. Batiknya pun banyak mengambil tema dari kekayaan Geopark  Ciletuh.  

Batik pakidulan banyak mengambil inspirasi seperti dari air terjun,  pemandangan alam,  berupa  amphitheatre raksasa di kawasan geologi purba di Geopark Ciletuh. Ada juga motif pemandangan batuan yang terinspirasi dari adanya batuan geologi Jampang purba yang berusia lebih dari 65 juta tahun di kawasan itu.

Batik pakidulan akhirnya ia kembangkan di desanya sendiri.  Dari awal, pria yang kini berusia kepala tiga ini memang bersikukuh pekerjaannya dalam berkesenian akan bermanfaat. Melibatkan masyarakat juga memang tantangan sendiri.  Pembuatan batik yang memerlukan ketekunan dan kesabaran, membuat ia harus beberapa kali membuat pelatihan. Beberapa mengundurkan diri pelan-pelan karena tidak terbiasa bekerja sebagai pembatik.  Saat ini tinggal 30 pekerja yang bergabung di sanggar batiknya.  Sanggar yang baru berdiri satu tahun lalu itu kini mampu memproduksi 500 helai batik perbulan. 150 di antaranya adalah batik tulis. Batiknya ia jual mulai Rp125 ribu hingga Rp750 ribu.



“Buat saya yang penting kebahagian dan kemerdekaan. Kalau saya buat yang rumit, ada ide menciptakan kemudian jadi desain dan diolah tim saya kemudian jadi 100 persen lalu dihargai orang, di situ kebanggaan yang luar biasa,” kata Aliyudin.  

“Harapan ke depan kita pengin buat pusat seni. Jadi segala macam bentuk seni penginnya yang tradisional ada wadahnya.  Saya berharap generasi muda jangan sampai lupa sama seni tradisi,” tambah Aliyudin.  Keinginan itu yang membuatnya enggan meninggalkan kampungnya.



Pernah, enam orang Malaysia, kata Ali datang beberapa kali, setelah ia pulang dari Birmingham. Mereka ingin membeli hak cipta motif yang diciptakan Ali. Orang-orang  dari Negeri Jiran itu juga meminta Ali pindah ke Malaysia.  Mereka bernjanji akan menyediakan segala fasilitas dan kebutuhannya Ali.  Ia hanya tinggal berkarya, tidak perlu memusingkan hal lain. Tawaran yang menarik itu ia tolak.

“Kita mah alasannya begini, bukan enggak mau materi, semua orang emang butuh materi. Tapi bagi kita, senimah mendarah daging.  Kita enggak tertarik sama uang itu. Rencana saya dari dulu pengin bikin sesuatu di sini, bagimana supaya kita juga mengimbangi Jakarta dan Bandung. Sempat mikir juga kalau pindah enak sih dapat materi, inspirasi tercurahkan, karena di sini enggak dihargai. Pernah mengajukan bantuan tetapi enggak ditanggapi. Sebetulnya sempat sakit hati, sempat  ingin pindah juga.”



Aliyudin menolak tawaran ke Malaysia karena masih banyak yang ingin ia kerjakan. Minat seninya luas. Selain melukis dan membuat patung, ia senang musik tradisional dan pencak silat.  Ia ingin melihat bahwa Ciracap suatu saat nanti menjadi destinasi wisata alam dan budaya yang menarik bagi banyak orang. Dan yang utama, keahliannya bisa membangun karakter dan perekonomian kampung kelahirannya.
(FIT)