100 Ribu Homestay Jadi Trending Topic di PBB

M Studio    •    Rabu, 12 Oct 2016 10:59 WIB
berita kemenpar
100 Ribu Homestay Jadi Trending Topic di PBB
Suasana pagi saat matahari terbit di homestay Yenkoranu di Raja Ampat, Papua Barat. Foto: MI/ Rommy Pujianto

Metrotvnews.com, Madrid: Tema yang paling heboh dalam pertemuan di markas UNWTO, Lembaga PBB bidang Pariwisata Madrid, Spanyol itu rupanya soal homestay. Dari tiga inisiatif Menpar Arief Yahya yang dikupas tuntas dari sisi strategi, Go Digital, Homestay, dan Sustainable Tourism Certification (STC) itu, justru soal homestay yang mendapat respons serius.

Terutama setelah mendengar paparan akan dibangun 100 ribu homestay yang akan dimulai pada 2017 hingga 2019.

"Apakah pemerintah ikut mengatur regulasi mereka? Bagaimana dengan pajak? Siapa yang menginspeksi? Bagaimana menjaga persaingan tetap sehat? Hati-hati dengan pelaku industri existing, yang sudah ada? Di banyak negara, menambah jumlah atau kapasitas kamar atau hunian di satu destinasi justru menaikkan tensi bisnisnya?" kata Sekjen UNWTO Taleb Rifai mengingatkan. 

Executive Director for Member Relations Carlos Vogeler, yang berkewarganegaraan Spanyol juga memberi catatan. "Ini bertolak belakang dengan Go Digital yang dipresentasikan sebelumnya. Go digital itu sangat modern, maju, progresif dan menjemput pasar masa depan. Sedangkan homestay itu lebih ke tradisional market? Pasar masa lalu?" ucap Carlos. 

Lain lagi sorotan dari Executive Director for Operational Programmes and Institutional Relations Márcio Favilla,  yang berasal dari Brazil itu. "Homestay mungkin hanya cocok untuk domestic market, bukan untuk international market?" cetus Márcio yang pernah menjadi Walikota Brazil itu. 

Cukup sengit serangan soal homestay yang dibawa Menpar Arief Yahya di forum PBB itu. Tetapi justru dari situ, mendapat semacam "early warning" atau yang biasa disebut critical success factors yang bermanfaat. Yang sudah diantisipasi Arief Yahya adalah faktor budgeting, bagaimana menciptakan 100 ribu homestay di 10 top destinasi wisata yang sudah ditetapkan Presiden Joko Widodo.

Dia menyebut ini sebagai sharing economy, membangun community based di sektor pariwisata. Melibatkan masyarakat untuk bekerjasama, mendapatkan benefit, menjaga ekosistem dan hospitality. Masyarakat juga bisa menghidupkan tradisi dan budaya yang akan menjadi atraksi baru. 

Menpar menerangkan, peran pemerintah adalah membantu permodalan. Yang biasanya bunga 12%, tapi di homestay cuma 5%, dengan masa tenor 20 tahun, serta uang muka 1% saja. Perbedaan dengan harga pasar itulah yang ditanggung pemerintah. 

Pemerintah juga mewajibkan bentuk bangunan homestay menggunakan arsitektur nusantara. Setiap daerah akan berbeda, karena Indonesia itu luas, panjang, lebar, pulau-pulau, bersuku-suku, ini akan menjadi kekuatan atraksi tersendiri.

Pada 25 Oktober 2016 nanti akan diumumkan pemenang lomba desain arsitektur nusantara dengan rekor jumlah peserta 728 design. "Kami ingin mengembalikan arsitektural tradisional yang khas dan saat ini sudah banyak yang hilang," tukas Menpar Arief Yahya. 

Jadi atmosfer kalau ke Borobudur, sudah terasa sejak belokan menuju ke Kota Mungkid, Magelang. Gapura batu-batu, pagar, pintu, bentuk atap, model rumah, dan sebagainya. "Bulan ini sudah akan ada pemenang-pemenang lomba desain homestay-nya," jelasnya. 

10 destinasi prioritas akan didahulukan, tetapi daerah lain yang punya potensi dan membutuhkan homestay juga akan diakses. Ke-10 Bali Baru itu antara lain: Danau Toba Sumut, Tanjung Kelayang - Belitung, Tanjung Lesung - Banten, Kep Seribu Dan Kota Tua - Jakarta, Borobudur - Jawa Tengah, Bromo Tengger Semeru - Jawa Timur, Mandalika-Lombok NTB, Labuan Bajo NTB, Wakatobi - Sultra dan Morotai - Maltara. 

Bagaimana dengan regulasi? hospitality? standart layanan dan quality control? "Kami mempersiapkan tim yang bekerja untuk itu di bawah Pokja Percepatan 10 Bali Baru. Tentu pemilik homestay akan dibekali pengetahuan, sampai ke pencatatan, laba rugi, keuangan yang sederhana. Soal SDM ada deputi Kelembagaan dan SDM, sampai 2019 akan mencetak 500 ribu tenaga kerja pariwisata baru untuk mempersiapkan target 20 juta wisman di 2019," ungkapnya. 

Akhirnya Sekjen Taleb Rifai pun memahami dan percaya akan keseriusan Menpar Arief Yahya. "Homestay juga bisa dikemas menjadi atraksi destinasi yang menarik. Saya percaya kedekatan dengan budaya lokal, tradisi masyarakat, kehangatan people to people relations, itu semua bisa menjadi atraksi pariwisata," tutup Taleb.

Di ujung presentasi, Arief Yahya meminta kembali UNWTO untuk mengawal dan memfasilitasi pengembangan STO itu menjadi Sustainable Tourism Certification (STC). Kemenpar bahkan sudah mengeluarkan Keputusan Menteri No. 14/2016 tentang Pedoman Tujuan Wisata berkelanjutan. UNWTO Pun langsung menyetujui, karena itu adalah concern dunia.

Di markas UNWTO Madrid, delegasi Kemenpar RI yang mendampingi Menpar Arief Yahya adalah Dubes RI untuk Spanyol yang juga perwakilan RI di UNWTO Yuli Mumpuni Widarso, Stafsus Menpar Bidang Media Don Kardono, Sesdep Pemasaran Mancanegara Kemenpar Giri Adnyani, Asdep Pengembangan Pemasaran Wilayah Eropa Timur Tengah, Afrika dan Amerika Nia Niacaya, Setmenpar Ronald Pantun Mariso dan Staf KBRI Madrid Kurniawan.



(ROS)