Napak Tilas ke Makam Pangeran Diponegoro di Makassar

Patricia Vicka    •    Minggu, 28 Jan 2018 18:24 WIB
wisata sejarah
Napak Tilas ke Makam Pangeran Diponegoro di Makassar
Makam Pangeran Diponegoro (Foto: Patricia)

Makassar: Kota Makassar tak hanya terkenal dengan destinasi wisata pantai dan alamnya saja. Kota para Daeng ini juga memiliki destinasi wisata rohani dan sejarah yang terkenal. Di kota ini dimakamkan tubuh pahlawan nasional Pangeran Diponegoro bersama istri, anak dan cucunya.

Kuburan bangsawan Jawa asal Yogyakarta ini terletak di jalan Pangeran Diponegoro, Kota Makassar Sulawesi Selatan. Tak seperti kompleks makam lainnya, kompleks makam ini menyempil di tengah-tengah wilayah yang padat dengan bangunan pertokoan dan permukiman penduduk.

Di dalamnya terdapat sekitar 100 kuburan yang terdiri dari kuburan Pangeran Diponegoro dan sang istri R.A Ratu Ratna Ningsih, anak-anaknya cucu-cucunya beserta beberapa pengikut dan kerabatnya. Adapula bangunan musolah kecil dan sebuah pendopo yang memuat tempat duduk dan beberapa lukisan Pangeran Diponegoro.

Juru kunci makam, Raden Hamsyah Diponegoro menjelaska, Makassar adalah tempat pengasingan terakhir sang putra mahkota Sri Sultan Hamengkubuwono III ini. Usai melakukan perang gerilya selama sekitar lima tahun terhadap Belanda dan sekaligus pemerintahan Keraton Yogyakarta, Pangeran Diponegoro berhasil ditangkap oleh Belanda.



Belanda kemudian membuangnya ke Manado. Terakhir ia hidup dalam wilayah perasingan di Makassar selama 21 tahun bersama salah satu istri, RA.Ratu Ratna Ningsih dan beberapa anak cucunya. Pangeran Diponegoro lahir di Yogyakarta 11 November 1785 dan meninggal di Benteng Rotterdam Sulsel pada 8 Januari 1885.

Hamsyah menjelaskan selama dalam pengasingan, keberadaannya sangat dirahasiakan oleh Belanda. "Selama di Makassar hidup beliau sangat dibatasi dan diawasi. Beliau tidak berdaya dan tidak bisa melakukan apapun," tutur Hamsyah yang merupakan keturunan generasi ke lima Pangeran Diponegoro di Kompleks pemakaman Makassar, Sulsel.

Di mata keluarga besar, Diponegoro adalah sosok yang agamis, peduli pada rakyat dan sangat cerdik mengatur strategi perang. Sebagai putra sulung dari raja, Beliau menolak menjadi raja menggantikan sang ayah, Sultan Hamengkubuwono ke III dan memutuskan untuk hidup di tengah- tengah rakyat.

Namun beliau jengah dan muak melihat tindakan semena-mena Belanda kepada rakyat Ngayogyakarta Hadiningrat. Pangeran Diponegoro memutuskan berperang secara gerilya melawan penjajahan Belanda. Ia kemudian membangun markas pertamanya di Goa Selarong, Bantul dan menyusun strategi perang.

Terjadilah pertempuran hebat antara pasukan pangeran Diponegoro dengan Belanda pada tahun 1825 -1830. Pertempuran inipun meluas ke luar wilayah Yogyakarta karena ia mendapat dukungan dari banyak pihak, salah satunya Sunan Pakubuwono VI. Setelah gempuran besar-besaran melalui perang terbuka, perang taktik dan perang urat syaraf,  Belanda berhasil menangkap Pangeran Diponegoro di Magelang.

Dahulu makam Pangeran Diponegoro belum sebagus ini. Hanya berupa batu nisan biasa. Pemerintah kemudian memugar dan membangun kompleks pemakaman pada tahun 1970-an usai beliau dianugerahi gelar pahlawan nasional.



Hamsyah mengatakan, Pangeran Diponegoro bukan hanya pahlawan bagi orang Jawa, namun juga bagi orang Bugis dan Makassar dan seluruh suku di Indonesia. Makamnya tak pernah sepi dikunjungi tokoh-tokoh besar baik dari bidang politik, rohaniawan kalangan militer, pemerintahan maupun dari raja-raja dan kesultanan.

"Anak-anak ,adik, istri dan kerabat Sultan HB X sering datang nyekar ke sini. Terakhir GKR Pembayun (Mangkubumi) yang ke sini. Wakil Presiden Pak Kalla juga sudah beberapa kali datang ke sini," kata pria yang meneruskan menjadi juru kunci sejak 2016 ini.

 


(ELG)