Jelajah Melbourne

Tahapan Penelitian UGM-Universitas Monash Cegah Penyebaran DBD di Yogyakarta

Hilman Haris    •    Kamis, 06 Oct 2016 14:53 WIB
wisata australia
Tahapan Penelitian UGM-Universitas Monash Cegah Penyebaran DBD di Yogyakarta
UGM- Universitas Monash kerja sama memberantas DBD (MTVN - Hilman)

Metrotvnews.com, Melbourne: Agar mendapatkan obat ampuh untuk menghentikan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD), pemerintah Indonesia memutuskan untuk bekerja sama dengan Australia. Dalam hal ini melibatkan Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan Universitas Monash yang berada di Kota Melbourne, Australia dalam program Eliminate Dengue Projets (EDP).

Hasil kerja sama dan riset peneliti dari kedua universitas selama bertahun-tahun memunculkan sebuah metode baru untuk mengurangi penyebaran dengue. 

Dengan nama proyek Eliminate Dengue, mereka berhasil menemukan bakteri alami yang disebut Wolbachia. Bakteri ini diklaim mampu menghentikan kemampuan nyamuk untuk menularkan DBD kepada manusia.

Program EDP sudah berlangsung sejak 2011. Jika sesuai rencana, program ini bakal berujung pada Desember 2017.

(Baca juga: Kerja Sama UGM dan Universitas Monash Mengembangkan Bakteri Pelawan DBD)

Berikut ini fase-fase program EDP antara UGM dengan Universitas Monash

Fase 1
Persiapan dan Kelayakan Penilaian Keamanan (Oktober 2011-September 2013)


Hasil penelitian yang dilakukan pada tahap ini menunjukkan bahwa:
a. Wolbhacia secara umum ditemukan pada serangga liar yang hidup di Yogyakarta
b. Wolbhacia pada Aedes aegypti yang dikembangkan oleh EDP secara genetis sama dengan Wolbhacia yang ditemukan secara alami di banyak serangga liar di Yogyakarta
c. Nyamuk Aedes aegypti ber- Wolbhacia local akan dilepas secara genetik sama dengan nyamuk Aedes aegypti liar yang ada di wilayah penelitian.
d. Di laboratorium, Wolbhacia terbukti mampu menghambat perkembangan virus dengue pada nyamuk Aedes aegypti lokal

Fase 2
Pelepasan skala terbatas nyamuk Aedes aegypti ber- Wolbhacia (Oktober 2013-Desember 2015)


Kegiatan dalam ini terdiri dari:
a. Pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber- Wolbhacia di wilayah Nogotirto dan Kronggahan, Kecamatan Gamping, Kabupaten Slema pada Januari-Juni 2014
b. Peletakan ember terlu nyamuk Aedes aegypti ber- Wolbhacia di wilayah Jomblangan dan Singorasen, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul pada November 2014-Mei 2015.

Hasil penelitian yang dilakukan pada tahap ini menunjukkan bahwa:
a. Nyamuk Aedes aegypti ber- Wolbhacia mampu berkembang biak di lingkungan alaminya
b. Meskipun masih ditemukan kasus demam dengue, namun tidak ada bukti adanya penularan local
c. Wolbhacia pada nyamuk Aedes aegypti di habitat alami terbukti mampu menghambat perkembangan virus dengue
d. Nyamuk Aedes aegypti ber- Wolbhacia tidak mampu menyebar dan berkembang biak di luar wilayah pelepasan.
e. Masyarakat menerima teknologi Wolbhacia sebagai alternative upaya penanggulangan DBD

Fase 3
Pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber- Wolbhacia pada skala luas (Januari 2016-Desember 2017)


Tujuan kegiatan pada fase ini adalah untuk menunjukkan hasil pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber- Wolbhacia pada jumlah penularan virus dengue di Kota Yogyakarta. Sebelumnya, beberapa studi awal sudah dilakukan:
a. Studi riwayat infeksi dengue (sereprevalensi dengue) pada anak-anak usia 1-10 tahun di Kota Yogyakarta.
b. Studi aktivitas harian (mobility study) anak-anak usia 1-10 tahun di Kota Yogyakarta.
c. Pemantauan populasi nyamuk Aedes aegyptu di Kota Yogyakarta menggunakan perangkap nyampuk BG Trap.
d. Pemetaan situasi social kemasyarakatan di Kota Yogyakarta.


(HIL)