Enam Hal Menarik dari Tour de Banyuwangi-Ijen 2017

Tri Kurniawan    •    Selasa, 03 Oct 2017 19:35 WIB
itdbi banyuwangi banyuwangi
Enam Hal Menarik dari Tour de Banyuwangi-Ijen 2017
Bupati Abdullah Azwar Anas melepas pembalap dari Pondok Pesantren Darussalam. Foto: Metrotvnews.com/Tri Kurniawan

Metrotvnews.com, Banyuwangi: International Tour de Banyuwangi-Ijen (ITdBI) 2017 lebih dari sekadar ajang balap sepeda. Event tahunan ini sekaligus menjadi momentum untuk menyampaikan pesan tentang sejarah, budaya, seni, dan sosial.
 
Metrotvnews.com merangkum enam pesan menarik dari ITdBI 2017.
 
1. Pasar Bajulmati

Suasana di depan Pasar Bajulmati saat start etape 1 ITdBI 2017. Foto: Metrotvnews.com/Tri Kurniawan

Pasar Bajulmati di Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, menjadi lokasi start etape 1 ITdBI 2017.
Pasar ini menjadi simbol komitmen Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk mempertahankan pasar tradisional di tengah gempuran pasar modern.
 
"Sementara ini kami tidak membolehkan minimarket berdiri, karena kami ingin mempertahankan pasar tradisional," kata Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko sebelum melepas pembalap, Rabu 27 September 2017.
 
Janji Yusuf didengar masyarakat dan pedagang, khususnya di Pasar Bajulmati. Saat seremoni start etape 1, masyarakat memadati sepanjang jalan di depan Pasar Bajulmati.
 
2. Wisata Laut

 Wisata laut di Desa Bangsring. Foto: dok Humas Bangsring Underwater

Dari Pasar Bajulmati ke garis finish di kantor bupati Banyuwangi, pembalap melewati jalan di tepi pantai yang cukup panjang di Desa Bangsring. Beberapa tahun lalu, masyarakat Desa Bangsring dikenal sering merusak ekosistem laut karena mengambil ikan menggunakan bom. 
 
Ikan habis, terumbu karang rusak, yang  berimbas pada sulitnya masyarakat mencari nafkah. Kelompok nelayan Samudra Bakti dipimpin seorang pemuda Ikhwan Arief pelan-pelan membangun kesadaran masyarakat bahwa penggunaan bom untuk menangkap ikan merupakan cara yang salah.
 
Kelompok ini menanam terumbu karang, masyarakat juga dilarang mancing di daerah itu. Awalnya tidak semudah membalikkan telapak tangan, banyak yang menganggap Ikhwan Arief gila melarang masyarakat mencari ikan di kawasan Bangsring.
 
Sekarang, Desa Bangsring dikenal karena wisata lautnya. Terumbu karang bagus, ikan kembali banyak. Wisatawan dari dalam negeri dan luar negeri berdatangan ke Desa Bangsring untuk menikmati keindahan bawah laut.
 
"Sekarang, penghasilan masyarakat di Desa Bangsring bukan dari melaut lagi, tapi dari wisata. Mereka bisa menerima Rp500 ribu per hari dari menjadi pemandu wisata," kata Camat Wongsorejo Sulistyowati kepada Metrotvnews.com.
 
Tahun ini, Presiden Joko Widodo memberikan penghargaan Kalpataru kepada kelompok nelayan Samudra Bakti sebagai pelopor dan penyelamat lingkungan. Kelompok nelayan ini juga menerima bantuan rumah apung dari pemerintah pusat.
 
3. Cokelat Terbaik

Cokelat dijemur di kawasan perkebunan Kendeng Lembu. Foto: Metrotvnews.com/Tri Kurniawan

Etape 2 ITdBI 2017 berangkat dari Doesoen Cokelat, wilayah Perkebunan Kendeng Lembu, Kecamatan Glenmore. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memberi pesan bahwa cokelat berkualitas di dunia antara lain dari sini.
 
Di sisi kanan garis start ada Kafe Cokelat. Di sini, pengunjung bisa menikmati minuman cokelat atau membeli cokelat bubuk dan batangan. Udara di Doesoen Kakao sangat sejuk.
 
Suasana semakin nyaman karena Kafe Cokelat dikelilingi kebun cokelat. Di depan Kafe Cokelat adalah tempat pengolahan cokelat. Pengunjung bisa menyaksikan bagaimana komoditas ini diolah, mulai dari fermentasi hingga dikemas.
 
Manager Perkebunan Kedung Lembu Titon Tantular mengatakan, klon kakao di Kedung Lembu berjenis edel atau kakao mulia. Klon edel hanya ada di Indonesia, antara lain di Doesoen Kakao.
 
"Cokelat kita terbaik di dunia, kualitasnya berbeda. Ada kandungan lemak, titik leleh lebih kuat, sehingga banyak diminati produsen kakao di luar negeri," kata Titon.
 
Perkebunan Kedung Lembu mempekerjakan 900 orang. Menurut Titon, pasar cokelat masih sangat luas. Per tahun, pabrik Kedung Lembu memproduksi 120 ton cokelat. Negara yang menjadi langganan antara lain Malaysia, Jepang, Singapura, Prancis, Jerman, dan Itali.
 
"Kalau pemain kakao, kenal semua dengan Glenmore," ujar dia.
 
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Banyuwangi Wawan Yadmadi mengatakan, pemilihan Doesoen Kakao sebagai lokasi start ITdBI 2017 merupakan bagian dari upaya pemerintah mengenalkan potensi perkebunan cokelat di Glenmore.
 
"Ini adalah tempat menanam cokelat dan pabrik cokelat. Pembalap memacu sepeda mereka dengan pemadangan yang indah," kata Wawan.
 
4. Pelabuhan Terbesar di Asia

Pelabuhan Muncar. Foto: Metrotvnews.com/Tri Kurniawan
 
Pelabuhan Muncar sangat bersejarah, terutama bagi nelayan di Banyuwangi. Beberapa tahun lalu, tempat pelelangan ikan di Pelabuhan Muncar termasuk yang terbesar di Asia.
 
Selain bernilai sejarah, pelabuhan ini juga sarat dengan seni dan budaya. Perahu di Pelabuhan Muncar penuh dengan ukiran khas Banyuwangi. Setiap nelayan memiliki sepasang perahu atau disebut selerek. Perahu laki-laki untuk menjaring ikan, sedangkan perahu perempuan untuk menampung ikan.
 
Tak salah ketika Pelabuhan Muncar menjadi lokasi start etape 3 ITdBI 2017. Para pembalap merasakan suasana berbeda, karena latar belakang titik start ada ratusan perahu berbendera Indonesia dan gunung.
 
5. Paltuding-Ijen

Tanjakan erek-erek salah satu tanjakan yang paling berat di ITdBI. Foto: Metrotvnews.com/Tri Kurniawan

Gunung Ijen salah satu ikon wisata andalan Banyuwangi. Ijen dikenal dunia karena fenomena blue fire. Di beberapa titik jalan menuju Paltuding, Ijen, ada rumah osing, rumah adat Banyuwangi dan penginapan yang dikelola warga.

Di kalangan pembalap, Ijen dikenal karena tanjakan untuk mencapai garis finish di Paltuding termasuk yang paling ekstrem di Asia. Pembalap yang paling cepat mencapai Paltuding sering disebut sebagai kandidat terkuat juara ITdBI.
 
6. Toleransi

Pembalap dari luar negeri mengenakan sarung dan kopiah. Foto: Metrotvnews.com/Tri Kurniawan
 
Keistimewaan ITdBI 2017 adalah start etape 4 dari Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi. Sebelum balapan, pembalap dari berbagai negara coba mengenakan sarung dan kopiah.
 
Ribuan santri menyambut para pembalap yang datang dari 25 negara. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, ajang internasional seperti ITdBI sangat efektif sebagai sarana pengenalan dan promosi terhadap tradisi pesantren yang merupakan ikon pendidikan asli nusantara, sekaligus mengampanyekan nilai-nilai toleransi.
 
“Kami kenalkan ke publik global bahwa tradisi pendidikan Islam di Indonesia cukup khas dan punya sejarah panjang dalam menyemaikan nilai-nilai Islam yang penuh damai," kata Anas.


(TRK)