Warisan dari Timor Tengah Selatan

Gervin Nathaniel Purba    •    Rabu, 29 Mar 2017 21:57 WIB
galeriindonesiakaya
Warisan dari Timor Tengah Selatan
Suku Dawan (Foto:MetroTV)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kota Kupang terdiri dari berbagai suku. Salah satunya adalah suku Dawan Marga Tauho Amanuban, Timor Tengah Selatan. Suku Dawan sering disebut juga orang Tauho atau orang Atoni Peh Meto. Biasanya orang Atoni lebih sering hidup di daerah pedalaman.

Suku Dawan menempati hampir seluruh wilayah Timor Barat yang tersebar di tiga kabupaten yakni Kabupaten Kupang, Kabupaten Timur Tengah Selatan, dan Kabupaten Timur Tengah Utara Provinsi Nusa Tenggar Timur (NTT). Mereka hidup sebagai petani dan kehidupan mereka sangat bergantung pada alam. Mereka percaya bahwa alam mampu memberikan kesejahteraan bagi manusia, sekaligus dapat mendatangkan malapetaka.

Masyarakat suku Dawan memiliki kebiasaan yang unik. Biasanya para tamu yang datang ke tempat tinggal mereka harus membawa suatu hadiah. Pada kesempatan kali ini  Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renitasari Ardian membawa hadiah berupa pinang dan sirih, mengingat kebiasaan masyarakat suku Dawan Marga Tauho gemar menyirih.

Kedatangan Renitasari dan Yovie di Benteng None yang merupakan lokasi tempat tinggal suku Dawan disambut sebuah tarian khas khusus penyambutan tamu.

Suku Dawan hidup dalam kelompok berdasarkan marga atau kanaf. Setiap kanaf memiliki adat istiadat masing-masing dan Marga Tauho sudah ratusan tahun tinggal dan berkembang di Benteng None. Kemudian, Juru Piara Benteng None Andreanus Tauho mengajak Renitasari dan Yovie bertemu pemimpin suku.

Saat dipertemukan, pemimpin suku memberikan sirih dan pinang kepada pengunjung. Andreanus menjelaskan, timbal balik yang dilakukan pemimpin suku adalah sebagai bentuk suatu ikatan dan tanda persahabatan antara suku Dawan dengan pengunjung.

"Dari pengunjung memberikan pinang dan sirih dan sebaliknya Kepala Suku memberikan pinang dan sirih sebagai bentuk suatu ikatan dan tanda persahabatan," ujar Andreanus.

Di dalam kawasan Benteng itu masyarakat suku Dawan Marga Tauho menjaga keharmonisan dengan alam, yaitu dengan menjalankan berbagai tradisi lisan menggunakan bahasa ritual dalam upacara formal.  Suku ini memiliki hubungan erat dengan ritus  dan mitos pertanian yang juga berhubungan erat dengan keyakinan religius tradisional.



Salah satu ciri khas dari suku Dawan adalah bentuk rumahnya yang berbeda antara rumah perempuan dan rumah laki-laki. Rumah perempuan bernama Ume Kebubu yang melambangkan wanita orang Timor yang santun, bersahaja, merendah, dan tertutup auratnya sebagaimana dilambangkan dalam bentuk rumah adat Ume Kebubu. Sementara, rumah adat laki-laki bernama Lopo yang melambangkan sosok laki-laki yang terbuka, kokoh, dan sebagai tempat berkumpulnya keluarga yang dipimpin oleh bapak selaku kepala keluarga.

Pada kesempatan itu, Andreanus mengajak melihat Fua Pah yang merupakan suatu ritus untuk menyiasati alam yang gersang dan iklim yang kurang bersahabat. Fua Pah dalam sistem kepercayaan masyarakat Dawan mengenai Tuhan, roh alam semesta, bumi, dan kerja. Fuah Pah merupakan penyembahan terhadap wujud tertinggi yang tidak diketahui dan terjangkau oleh daya nalar manusia.

Lokasi ritual disebut Pene, yang artinya menara pengintai dari musuh lokal dengan tiang kayu di sebelahnya bernama toloeu. Andreanus menjelaskan, "toleu" merupakan bahasa lokal dan masyarakat Dawan akan sembahyang jika tahun ini sulit mendapatkan makanan dan hujan tak kunjung turun.

"Misalkan dalam tahun ini makanan gagal, hewan gagal (berburu), hujan gagal, maka kita akan sembahyang dan meminta dari toleu yang disebut ritual atau upacara poipah," jelasnya.

Kaum wanita suku Dawan Marga Tauho memiliki kebiasaan menenun yang kapas dan bahan pewarnanya benar-benar diambil dari alam. Anggota masyarakat Adat Benteng None, Yasti, mengatakan bahwa hasil tenun tak hanya dibeli oleh orang-orang Indonesia saja, namun juga turis asing banyak yang membelinya.

Di sana, anak gadis yang sudah bisa menenun artinya sudah siap untuk menikah. "Sudah bisa menikah mulai dari usia 15 tahun," kata Yasti.

Simak kelanjutan kisah mereka bersama Renitasari Adrian dan Asmara Abigail di Benteng None Timor Tengah Selatan dalam program IDEnesia Metro TV, Kamis (30/3/2017), pukul 21.05 WIB.

Jangan lupa, ikuti kuis IDEnesia dan Galeri Indonesia Kaya dengan mem-follow twitter @IDEnesiaTwit atau @IndonesiaKaya.


(ROS)