Pudding Gula Jawa Asli Indonesia Jadi Primadona di Azerbaijan

   •    Selasa, 18 Jul 2017 15:37 WIB
azerbaijan
Pudding Gula Jawa Asli Indonesia Jadi Primadona di Azerbaijan
Indonesia meraih juara ke-2 sebagai booth terbaik dan mendapatkan penghargaan piala juara umum untuk partisipasi aktif dari perwakilan asing di Azerbaijan. (Foto: Dok. KBRI Baku)

Metrotvnews.com, Khacmaz, Azerbaijan: Siang itu, di sebuah taman rekreasi keluarga bernama Chanlibel Park (yang ada di sebuah kota kecil), Khacmaz di negara Azerbaijan tengah diadakan sebuah acara kuliner tahunan bertajuk "The 2nd International Dolma Festival". Acara ini diselenggarakan oleh Asosiasi Kuliner Azerbaijan yang bekerja sama dengan Pemda Khachmaz.

Dolma sendiri merupakan makanan khas Azerbaijan, yang berbentuk seperti nasi kepal dengan ukuran kecil, berisi daging sapi atau domba yang sudah dicacah dan dibungkus dengan daun anggur kemudian dikukus. 

Di negeri bernama Azerbaijan ini, ada banyak rayon atau daerah dan mereka memiliki ciri khas makanan dolma yang berbeda-beda.

Jadi, dalam kegiatan tahunan yang juga menyertakan negara-negara lain untuk berpartisipasi ini, tiap daerah menampilkan dolma khas daerahnya masing-masing dengan presentasi yang unik. Selain dolma, negara peserta dalam acara ini juga bisa menampilkan makanan tradisional mereka.

Sudah kedua kalinya Indonesia mengikuti acara ini. Pada kesempatan Dolma Festival tahun lalu, Indonesia yang diwakili oleh KBRI Baku menginterpretasikan dolma sebagai lemper dan dadar gulung.


(KBRI Baku coba memperkenalkan beberapa panganan manis. Foto: Dok. KBRI Baku)

Tahun ini KBRI Baku mencoba cara yang baru untuk menjalankan diplomasi kuliner Indonesia. 

“Karena tahun lalu kita sudah memperkenalkan lemper dan dadar gulung, dan sudah semakin banyak orang yang tahu kue Indonesia itu, maka sekarang kita sengaja perkenalkan kue yang berbeda,” Ujar Dr. H. Husnan Bey Fananie, M.A di acara tersebut, Sabtu (15/7/17).

Mengingat sekarang warga yang tinggal di Azerbaijan sedang berada di puncak musim panas, maka KBRI Baku coba memperkenalkan beberapa jenis hidangan pencuci mulut segar yang khas Indonesia. 

(Baca juga: Diplomasi Kuliner Indonesia di Baku)

Kue-kue yang diperkenalkan dalam festival ini adalah pudding gula jawa, pudding santan kelapa, es belewah, centik manis dan beberapa camilan khas Indonesia seperti kue lapis surabaya, bolu kukus, nastar, dan sagon keju.

Antusiasme pengunjung tampak sangat tinggi, tak henti-hentinya pengunjung memadati booth kecil KBRI Baku untuk bertanya tentang bahan baku kue-kue Indonesia, mengambil foto dari makanan tersebut dan mencoba kuliner Indonesia. 

Banyak sekali pengunjung yang memberikan testimoninya, yang menjelaskan bahwa mereka sangat suka kuliner Indonesia yang mereka coba di festival ini. 

200 cup pudding gula jawa, yang dihidangkan dingin paling cepat ludes dalam sekejap. Cita rasa manis khas gula jawa Indonesia yang diolah menjadi pudding ini cocok untuk warga Azerbaijan yang juga menyukai makanan manis.

Awalnya sebagian pengunjung ragu untuk mencoba kuliner Indonesia, karena ini adalah kali pertama mereka bahkan mengenal lebih jauh tentang Indonesia. 

Namun ketika sebagian pengunjung mengakui enaknya kuliner Indonesia, booth Indonesia semakin diserbu dan tak lama setelah acara penjurian selesai, hidangan yang disiapkan oleh ibu-ibu Dharma Wanita ini pun ludes. 


(Indonesia meraih juara ke-2 sebagai booth terbaik dan mendapatkan penghargaan piala juara umum untuk partisipasi aktif dari perwakilan asing di Azerbaijan. Foto: Dok. KBRI Baku)

“Diplomasi kuliner merupakan salah satu cara dari KBRI Baku untuk mendekatkan cita rasa Indonesia dengan warga di Azerbaijan ini. Diharapkan warga dari kedua negara bisa menjadi semakin akrab dan menjadi saudara dekat.”

Acara ini diikuti oleh beberapa negara lainnya seperti Uzbekistan, RRC, Turki, Korea Selatan, Meksiko, Bulgaria dan Ukraina. 

Di akhir acara Indonesia mendapatkan juara ke-2 sebagai booth terbaik dan mendapatkan penghargaan piala juara umum untuk partisipasi aktif dari perwakilan asing yang ada di Azerbaijan untuk kegiatan diplomasi kuliner.

(Ditulis oleh Astrid Septriana)







(TIN)