Kipas Cantik Khas Bali di Indonesia Pavilion Terbuat dari Limbah

Yatin Suleha    •    Rabu, 10 Oct 2018 19:34 WIB
feature gaya
Kipas Cantik Khas Bali di Indonesia Pavilion Terbuat dari Limbah
Kipas cantik khas Bali curi perhatian di Annual Meeting IMF -WB 2018, di Nusa Dua Bali. (Foto: Dok. Imagedynamics)

Bali: Mengunjungi Indonesia Pavilion yang dihadirkan Kementerian BUMN di Annual Meeting IMF -WB 2018, Nusa Dua Bali, membuat siapapun akan berdecak kagum. 

Pasalnya, di area pameran ini ada banyak stan UMKM Binaan Mitra BUMN yang menampilkan karya seni dan kerajinan tangan khas Indonesia yang begitu unik dan eksotik. 

Salah satu kerajinan tangan yang membuat pengunjung takjub adalah kipas khas Bali buatan UMKM milik AAA Mas Utari N SH (47). Bagaimana tidak, kipas yang didominasi warna-warna cerah seperti, hijau, biru, merah, oranye, pink, dan kuning ini memiliki ragam corak yang unik. 

Pengunjung juga pasti tak akan menyangka bahwa ragam kipas cantik yang dipajangnya di dinding bambu itu terbuat dari limbah. “Ya, kipas yang kami buat bahannya memang banyak memanfaatkan limbah, seperti kawat, kaleng bekas, oli pelumas dan sisa-sisa kain,” jelas Utari mengawali perbincangan. 


(Gung Mas menyulap kipas cantik dari bahan-bahan yang tak terpakai. Foto: Dok. Imagedynamics)

Dari limbah tersebut, perempuan yang akrab disapa Gung Mas ini menyulapnya menjadi kipas ramah lingkungan berbentuk kipas lebar. Ia yang dibantu oleh lebih dari 50 karyawan ini mengaku mampu memproduksi sekitar 300 kipas ramah lingkungan per hari. 

“Kipas ramah lingkungan ini, banyak disukai wisatawan lokal yang datang ke Bali untuk oleh-oleh,” imbuh perempuan ramah ini. Selain kipas ramah lingkungan, UMKM-nya juga memproduksi model kipas eksklusif, yaitu Kipas kayu berbahan kain Wastra dan kipas kayu lukisan. 

Untuk kipas kayu berbahan kain Wastra, kata Gung Mas, bisa memanfaatkan sisa kain kebaya, batik atau kain tradisional lainnya yang sudah tidak terpakai. 

“Bisa juga bahannya sesuai permintaan konsumen, karena ingin dipadankan dengan pakaiannya, dan itu biasanya kebaya,” terang perempuan kelahiran Bali itu. 

Untuk kipas kayu lukisan, lanjut Gung Mas, temanya sangat beragam, mulai dari tokoh-tokoh wayang, tari tradisional Bali, atau bentuk-bentuk lainnya yang khas Bali. 


(Untuk kipas kayu berbahan kain Wastra, kata Gung Mas, bisa memanfaatkan sisa kain kebaya, batik atau kain tradisional lainnya yang sudah tidak terpakai. Foto: Dok. Imagedynamics)

Jenis kipas ini diproduksi rata-rata 100 kipas per hari, karena membutuhkan waktu agak lama, mengingat dipengaruhi tingkat kerumitan dan feel dalam proses pembuatannya. 

(Baca juga: Alasan Mengapa Sebaiknya Tidak Menggunakan Kipas Angin Semalam Penuh)

Tak heran bila kipas lukis ini tampilannya eksklusif dan sangat diminati wisatawan luar negeri, termasuk tamu-tamu negara, seperti pengunjung Annual Meeting IMF – WB 2018 kali ini. 

“Kedutaan-kedutaan besar juga menyukai jenis kipas ini, karena ada identitas Balinya. Dan, selain turis asing, kolektor kipas juga suka jenis kipas ini, karena memang eksklusif,” jelas Gung Mas. 

Untuk harga kipas yang diproduksinya, Gung Mas mematok harga Rp15.000 hingga Rp2.000.000. “Termurah kipas ramah lingkungan, sedangkan harga termahal adalah kipas kain Wastra dan kipas lukisan yang bentuknya adalah kipas lipat,” ujarnya merinci. 

Kerja kerasnya untuk terus berinovasi membuat kipas etnik tak hanya disukai pasar dalam negeri, tetapi juga pasar luar negeri. Ini dibuktikan dari keberhasilan kipasnya yang telah di ekspor ke Filipina, Thailand, Inggris, Portugis, Perancis, Malaysia, dan Amerika Serikat. 


(Gung Mas sangat bangga bisa berpartisipasi di Indonesia Pavilion pada Annual Meeting IMF – WB 2018 dan banyak wisatawan tertarik untuk mencoba membuatnya. Foto: Dok. Imagedynamics)

“Terkadang setiap negara akan order dengan model yang berbeda-beda. Malaysia misalnya, banyak permintaan untuk wedding dengan ukuran 19, model kayu polos dan wastra polos. Kalau Prancis suka pakai renda dan bambu agar cost lebih murah, sedangkan Amerika dan Portugis sukanya kipas ramah lingkungan, tapi materialnya sutra. Biasanya kita ekspor 600 - 6.000 kipas per customer per bulan,” urai Gung Mas.

Respons positif dari pasar dalam negeri dan luar negeri inilah yang membuatnya semakin bersemangat untuk terus membesarkan UMKM-nya yang berhasil menyabet sederet penghargaan, salah satunya juara 1 Design Favorit Endek yang diserahkan langsung oleh Menteri BUMN, pada Denpasar Festival 2011. 

Oleh karena itu, Gung Mas sangat bangga bisa berpartisipasi di Indonesia Pavilion pada Annual Meeting IMF – WB 2018. Menurutnya, ini merupakan kesempatan emas untuk memamerkan kerajinan tangannya agar semakin dikenal luas. “Bagi saya Indonesia Pavilion merupakan sarana promosi yang efektif agar bisa menunjukkan keindahan Indonesia lewat kerajinan tangan agar semakin dikenal oleh masyarakat dunia,” tutup Gung Mas.



(TIN)