'Surga Terakhir' di Barat Papua yang Memanjakan Mata

Damar Iradat    •    Minggu, 28 Aug 2016 06:29 WIB
raja ampat
'Surga Terakhir' di Barat Papua yang Memanjakan Mata
Pemandangan Pianemo, Raja Ampat, Papua Barat, yang dianggap 'Wayag mini'. MTVN/Damar Iradat.

Metrotvnews.com, Raja Ampat: Gugusan bukit karang (karst) membentang kokoh di atas lautan Raja Ampat, Papua Barat. Hijaunya pepohonan yang tumbuh di atas karst dipadupadankan dengan hamparan birunya laut.

Pemandangan yang memanjakan mata itu dapat ditemukan di Pianemo, Distrik Waigeo, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Warga setempat menyebut Pianemo sebagai 'Wayag mini' karena pemandangan yang ditawarkan Pianemo hampir serupa dengan Wayag yang telah menjadi ikon pariwisata Raja Ampat.

Di Pianemo, para wisatawan biasa mengabadikan keindahan alam Papua lewat bidikan lensa kamera. Untuk melihat pemandangan yang elok dipandang mata itu, perjalanan mencapai Pianemo relatif mudah.

Untuk mencapai Pianemo butuh waktu sekitar dua jam perjalanan dari pelabuhan Waisai. "Itu juga naik speed boat, kalau naik kapal biasa bisa lebih lama," ujar Deni, salah satu pemandu wisata di Raja Ampat, Kamis, 25 Agustus kemarin.


Pintu masuk ke Pianemo. MTVN/Damar Iradat

Sepanjang dua jam perjalanan, mata wisatawan terus disajikan keindahan alam Pulau Cendrawasih itu. Hamparan laut yang luas serta jejeran pulau-pulau dalam pelayaran menjadi 'menu pembuka' pemandangan yang sedap dipandang oleh mata.

Semakin mendekat ke Pianemo, birunya air laut perlahan berganti hijau bening. Dari atas kapal, terumbu karang dan ikan-ikan yang berada di bawah laguna tampak jelas.

Tiba di dermaga, wisawatan harus menaiki sekitar 300-an anak tangga yang dibuat dari kayu dengan kemiringan dan jarak yang terkadang tidak konsisten. Kondisi ini membuat beberapa wisatawan sedikit kelelahan.

"Sebelum 2014 masih tidak ada anak tangga, wisatawan biasanya harus menaiki bukit dengan tangga alami dari bebatuan dan karang-karang," jelas Deni.


Anak tangga menuju puncak bukit di Pianemo. MTVN/Damar Iradat


Tiba di puncak bukit, kelelahan saat menaiki puncak terbayar tuntas. Para wisatawan disajikan hamparan gugusan karst yang melingkar yang membentuk laguna hijau di tengah-tengah birunya samudera, dan dipadu dengan langit yang berwarna biru terang.

Terdapat dua anjungan yang dibuat dari kayu yang bisa dugunakan para wisatawan untuk menikmati pemandangan yang tersaji di depan mata mereka. Di sana, satu per satu wisatawan yang datang mengeluarkan alat perekam gambarnya masing-masing, baik dari telepon genggam, maupun kamera.

Decak kagum tidak bisa mereka sembunyikan. Mayoritas para wisatawan yang baru pertama kali mengunjungi Pianemo tidak henti-hentinya memuji keindahan alam yang ada di depan mata mereka.

"Ini keren banget!" ungkap Indah Puspitasari, wisatawan asal Jakarta.


Pemandangan Pianemo dari bawah. MTVN/Damar Iradat

Kekaguman juga keluar dari mulut Wayan Arsa, wisatawan asal Bali. "Luar biasa, seperti surga," ujar dia. Abi Sarwanto, salah seorang wisatawan yang pernah mengunjungi Pianemo pada 2013 lalu pun masih bisa mengagumi keindahan di depan matanya.

Hari itu, wisatawan yang datang ke Pianemo relatif sepi. Hanya ada tiga rombongan wisatawan, termasuk rombongan yang diikuti oleh Metrotvnews.com. Namun, jika hari libur tiba, menurut Deni, antrean bisa mengular untuk bisa mencapai puncak bukit.

Usai menikmati pemandangan di puncak bukit, para wisatawan bisa rehat sejenak di dermaga dengan meminum kelapa muda di sebuah warung yang berukuran sekitar 5 x 2 meter dan beratapkan seng. Di warung kecil itu, wisatawan bisa sekaligus menikmati pemandangan Pianemo dari bawah.

Sesekali, para wisatawan menunduk ke bawah untuk melihat ikan-ikan yang berada di dasar laguna. Namun, sesekali juga mereka menengadah ke atas mengagumi deretan karst dari bawah dan melihat Elang Papua terbang mencari mangsanya.

Dikelola Penduduk dari Tiga Kampung


Pemandangan di Pianemo dari atas bukit. MTVN/Damar Iradat

Pianemo mulai ramai dikunjungi pada 2011 lalu. Saat itu, Pianemo merupakan salah satu alternatif destinasi wisata di Raja Ampat setelah Wayag.

Namun, saat itu, Pianemo tidak terawat dengan baik. Menurut penduduk sekitar, Panus, Pianemo saat ini dikelola penduduk dari tiga kampung, yakni Kampung Pam, Saukabu, dan Saupapir. Pengelolaan juga dibantu Dinas Pariwisata Kabupaten Raja Ampat.

Kendati demikian, Dinas Pariwisata tidak bisa sepenuhnya mengelola Pianemo. Panus yang merupakan penduduk dari Kampung Pam menjelaskan, keputusan penduduk tiga kampung tersebut untuk merawat Pianemo diambil setelah berdiskusi dengan Dinas.


Panus, penduduk sekitar Pianemo. MTVN/Damar Iradat

"Warga tidak mau Pianemo dikelola sepenuhnya oleh Dinas Pariwisata, tapi mereka juga memberi keleluasaan para warga untuk mengelola tempat ini," ungkap Panus.

Dinas Pariwisata tetap memonitor wisata di Pianemo, khususnya soal keuangan. Dinas Pariwisata berhak mengatur soal keuangan pariwisata tersebut.

Panus mengungkapkan, sebelum diatur oleh Dinas Pariwisata, para penduduk kampung menetapkan tarif sebesar Rp300 ribu per orang untuk masuk ke dalam Pianemo, belum lagi tarif untuk speed boat yang dipatok Rp500 ribu. Namun, setelah Dinas Pariwisata masuk, diatur tarif baru untuk masuk ke Pianemo, yakni hanya Rp300 ribu per satu speed boat, dan Rp500 ribu untuk kapal berukuran besar.

Uang hasil pariwisata, dibagikan ke penduduk dari tiga kampung tersebut. Menurut Panus, uang hasil pariwisata disalurkan ke tiga sektor, yakni pendidikan dan kesehatan. "Juga untuk biaya perawatan Pianemo," tutur dia.


(OGI)