Februari, Bulan yang Berat Bagi Para Lajang di Tiongkok

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 09 Feb 2016 18:31 WIB
romansa
Februari, Bulan yang Berat Bagi Para Lajang di Tiongkok
(Foto: cbsnews)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bagi sebagian besar lajang, perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada Februari kerap dianggap menyebalkan. Alasannya, apa lagi kalau bukan karena jenuh menjawab pertanyaan seputar pasangan hidup yang kerap ditanyakan orang tua saat kumpul keluarga. 

Banyak kaum muda Tiongkok, terutama mereka yang usianya mendekati akhir 20, menganggap Imlek sebagai sebuah tekanan daripada liburan. Padahal, cuti yang diberikan perusahaan untuk merayakan Imlek di Tiongkok terbilang panjang.

Berkeluarga menjadi hal yang penting dalam budaya Tiongkok. Masih menjadi lajang di akhir usia 20 dianggap masalah bagi sebagian besar orang tua.

"Dalam budaya Tiongkok, orang sangat peduli tentang penilaian orang lain terhadap diri mereka, bagaimana Anda dinilai oleh mereka. Jika Anda orang baik, mengapa masih sendiri?" ujar komentator sosial Yolanda Wang, sebagaimana dilansir Sbs, Selasa (9/2/2016).

Kebijakan hanya boleh memiliki satu anak saja di Tiongkok membuat banyak orang tua cemas. 

Orang tua yang telah memasuki masa pensiun berharap bisa diurus anak mereka yang telah menikah, dan bisa memiliki kesempatan melihat cucu mereka tumbuh besar sebelum usia mereka tua dan pikun.

Pria di Tiongkok cenderung memandang status. Akibatnya, banyak wanita Tiongkok mengejar pendidikan yang tinggi, yang pada akhirnya membuat mereka urung menikah.

Jika terlanjur putus asa, biasanya orang tua akan pergi ke biro jodoh dan memasang informasi seputar anak mereka agar bisa menemukan calon suami atau istri yang ideal. 

Beberapa langkah dilakukan untuk menyindir kaum tua. Salah satunya, lewat kampanye yang menyerukan melawan pernikahan yang digagas Aliansi Anti Pernikahan Paksa di stasiun Subway Beijing. 

Iklan tersebut menggambarkan seorang wanita kartun yang tersenyum. Di bawah gambar tersebut, ada keterangan berbunyi, "Ayah dan Ibu tersayang, jangan khawatir. Dunia ini begitu besar. Ada begitu banyak cara yang berbeda bagi orang untuk hidup. Lajang juga bisa sangat bahagia."

Awalnya, poster ini bergambar kartun seorang wanita yang marah. Wanita tersebut membuat simbol X yang ditambahi kata "Mundur! Enyahlah! Saya adalah anggota suku anti-menikah!"

Dalam sebuah wawancara dengan Times, salah seorang pendukung poster yang bernama Coby, mengungkapkan, "Kami hanya bepikir terlalu banyak tekanan dan itu sangat buruk. Jadi, kami memasang iklan tersebut agar banyak orang melihat."



(DEV)