Tahun Baru Imlek

Romansa di Balik Cantiknya Busana Cheongsam

   •    Kamis, 19 Feb 2015 16:18 WIB
imlek
Romansa di Balik Cantiknya Busana Cheongsam
Perjalanan cheongsam. Foto:Bestdesignguides

Metrotvnews.com. Jakarta: Tidak lengkap rasanya merayakan Tahun Baru Imlek bila tidak mengenakan cheongsam. Busana tradisional Tiongkok yang satu ini memiliki warna, corak, dan model unik dan menarik, sehingga membuat si pemakai terlihat cantik.

Busana cheongsam dikenal juga sebagai qipao, yakni gaun tradisional Tiongkok yang berasal dari masyarakat Manchu di Dinasti Qing pada awal abad ke-17. Pakaian itu sudah mengalami evolusi selama berabad-abad dan hingga kini pun masih digunakan kaum perempuan Asia kontemporer menekankan fitur feminin sembari menjaga originalitas budaya.

Bagaimana asal-muasal busana cheongsam?

Alkisah, ada seorang nelayan perempuan muda yang tinggal di dekat Danau Jingbo. Tidak hanya cantik, perempuan itu juga cerdas dan terampil. Namun ketika memancing, dia selalu terhalang oleh pakaian panjang dan longgar yang selalu dikenakannya. Akhirnya dia pun memutuskan untuk menjahit pakaiannya dengan membuat celah yang indah dan praktis di sisi rok untuk menyelipkan bagian depan gaun. Idenya itu pun akhirnya memungkinkan dia untuk memancing dengan lebih mudah. Dia pun tidak pernah membayangkan bahwa gagasannya itu akan membawa keberuntungan.

Pada suatu malam, seorang kaisar muda yang saat itu memimpin Tiongkok bermimpi. Dalam mimpinya, sang ayah yang telah meninggal mengatakan bahwa ada perempuan muda yang mengenakan gaun panjang yang indah dan tinggal di dekat Danau Jingbo. Setelah terbangun dari mimpi, sang kaisar pun mengirim orang untuk mencari perempuan dalam mimpinya tersebut.

Si nelayan pun ditemukan pasukan dan ia segera dipinang kaisar. Setelah menjadi ratu, kreasi busana yang ia namakan cheongsam mulai dikenal dan diikuti oleh perempuan Manchu hingga ke seluruh dataran Tiongkok.

Perjalanan cheongsam

Tidak sampai di situ, seiring dengan waktu busana cheongsam pun perlahan mengalami beragam perubahan. Pada awal Dinasti Qing (1644-1911), gaun panjang umumnya tanpa kerah dan terdapat kancing di bagian depan kiri. Orang Manchu biasanya memakai cheongsam dengan rompi.

Saat pengusaha Manchu datang ke Tiongkok, mereka memindahkan ibu kota ke Beijing. Otomatis, cheongsam pun mulai menyebar ke dataran tengah. Dinasti Qing juga bersatu dengan Tiongkok menetapkan cheongsam sebagai standar kostum nasional.

Sampai pada 1930-an, orang-orang Manchu baik laki-laki maupun perempuan, mengenakan gaun panjang lebar dengan lengan longgar dan lurus. Untuk perempuan, panjang cheongsam mencapai betis dengan bordir pola bunga di atasnya.

Pada 1940-an, cheongsam hampir menjadi seragam nasional untuk perempuan. Cheongsam bahkan menjadi pakaian untuk acara-acara resmi sosial dan pertemuan diplomatik. Cheongsam kemudian menyebar ke negara-negara asing hingga akhirnya mereguk popularitas di antara kaum perempuan keturunan Tionghoa.(Ningtriasih/Cri)

 


(PRI)