Peran Rempah dalam Sejarah dan Nasib Nusantara

Putu Radar Bahurekso    •    Selasa, 13 Oct 2015 15:44 WIB
kuliner nusantara
Peran Rempah dalam Sejarah dan Nasib Nusantara
Jumpa pers gathering Jalur Rempah. (Foto:Putu Radar B.)

Metrotvnews.com, Jakarta: Indonesia adalah salah satu negara penghasil rempah terbanyak di dunia. Keadaan ini bukan baru saja terjadi melainkan sudah sejak zaman Kerajaan Hindu-Budha Indonesia dikenal memiliki banyak rempah-rempah.

Nusantara berhasil menjadi salah satu pemain besar dalam perdagangan dunia melaui kekayaan hasil alamnya, terutama tanaman rempah.

“Melalui perdagangan rempah-rempahlah negara kita mampu menjadi pemain besar dalam perdagangan dunia seperti yang terjadi pada masa Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Barus, dan juga Kerajaan Majapahit,” ujar sejarahwan J.J Rizal.

Peran rempah sebagai komoditas jual utama masih berlanjut, dan kembali dibuktikan pada masa berkembangnya kerajaan Islam di Nusantara.

“Perdagangan lada di abad ke-12 telah membawa Kesultanan Banten menjadi salah satu metropolis dunia,” jelas Hani Fibianti, Content Director Yayasan Museum Indonesia.

Rempah pun dikenal tak hanya sekedar bahan makanan atau bumbu dapur saja melainkan bisa digunakan untuk penyembuhan terhadap penyakit, bahan kecantikan, hingga baik untuk seksualitas.

“Banyak kesusastraan di Eropa yang menyebutkan rempah sebagai ‘tumbuhan surga’. Karena rempah bisa memberi khasiat untuk kesehatan, ketahanan makanan, hingga urusan seksual. Bahkan dalam mitologi Romawi dan Yunani pun rempah juga disebutkan,” tutur J.J Rizal.

“Seperti misalnya Dewi Venus. Dalam mitologi, Venus begitu dipuja dan digandrungi oleh banyak pria. Venus diipuja bukan hanya karena kecantikannya saja melainkan karena wangi tubuhnya juga yang berasal dari lulur yang berbahan rempah,” lanjutnya.

Salah satu contohnya adalah kapur barus. Tanaman kapur barus telah digunakan oleh masyarakat Indonesia sejak dari sebelum masehi dan bahkan juga sudah diperdagangkan pada saat itu.

“Telah ditemukan mantra-mantra yang menggunakan berbagai jenis bahasa seperti bahasa Sansekerta, Hebrew, dan bahasa Tiongkok yang fungsinya mendukung pengobatan penyakit dengan memanfaatkan kapur barus,” tutur Rusmin Tumanggor, antropolog kesehatan.

Melalui jejak sejarah, bisa dilihat bahwa rempah adalah sebuah perlambangan sejarah yang menggiring nasib bangsa, mulai dari kebesaran Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit hingga dijajahnya bangsa ini oleh bangsa Eropa.
 
Popularitas Jalur Sutra

Jalur sutra adalah sebutan untuk menyebut jalur perdagangan komoditas sutra yang dilakukan oleh bangsa Cina pada zaman dulu. Kepopuleran jalur sutra melebihi tingkat popularitas jalur rempah.

Namun, istilah ‘jalur sutra’ dianggap sebagai sebuah sejarah yang menyimpang oleh para sejarahwan, karena jalur tersebut dianggap sebagai jalur rempah dan bukan jalur sutra.

“Popularitas jalur sutra melebihi jalur rempah. Padahal, justru rempah lah yang lebih punya peran. Saat itu ada sekitar 188 jenis rempah yang diperdagangkan termasuk jeruk yang saat itu dianggap rempah, namun yang jadi penjualan utama adalah cengkeh, pala, dan kulit pala yang dianggap labih berharga dari emas,” tutur J.J Rizal.

J.J Rizal menceritakan bahwa Cina menjual sutranya ke Maluku untuk ditukar dengan rempah terutama cengkeh, pala, dan kulit pala. Di lain sisi, Maluku juga membutuhkan sutra untuk kebutuhan mereka. Jual beli ini tidak dilakukan di daerah Maluku, melainkan di pusat perdagangan yakni Malaka.

“Meskipun Cina menjual sutranya sampai ke Eropa, Timur Tengah, namun sutra bukanlah yang paling dibutuhkan, namun yang paling dibutuhkan adalah rempah. Sutra hanyalah salah satu komuditi yang diperdagangkan, namun komoditi utamanya adalah rempah, sebab itu para sejarawan lebih sering menyebutnya ‘Jalur Rempah’,” lanjut J.J Rizal.

Sayangnya, menurut J.J Rizal sebutan ‘Jalur Rempah’ kurang mendapat apresiasi. Bahkan, di kalangan masyarakat Indonesia yang menjadi pemain utama dalam rempah pun tidak menanggapi serius upaya pelurusan sejarah agar mendapat penjelasan peristiwa sejarah yang lebih tepat dan lebih berimbang,” tambah J.J Rizal.
 
Indonesia Menjadi Buih Sejarah

Kebesaran bangsa Indonesia pada masa kerajaan dulu kini hanya tinggal menjadi sebuah cerita sejarah saja. 

Komoditas rempah kini sudah mulai terabaikan meski Indonesia masih punya banyak wilayah yang ditanami oleh tanaman rempah-rempah.

“Kebesaran sejarah kita kini hanya menjadi buih saja, saat ini kita tidak mampu mengonversi kekayaan alam yang kita miliki menjadi modal intelektual, seperti yang dulu pernah dilakukan pada masa kerajaan dulu,” ujar J.J Rizal.

Menurutnya, titik balik dalam sejarah yang membuat berhentinya Indonesia menjadi pemain utama dalam dunia perdagangan dunia adalah pada sekitar abad 16-17, saat kolonialisme bangsa Eropa terhadap bangsa timur dimulai.

“Sejak itu, kita tidak lagi menjadi pemain utama, melainkan penonton yang dieksploitasi,” ucap J.J Rizal.

Saran Untuk Pengupayaan

Tentu ada harapan yang diinginkan oleh masyarakat agar rempah bisa kembali memainkan peranan penting dalam kemajuan negara ini. Untuk itu, upaya pun perlu dilakukan. Bagi J.J Rizal, penting agar Indonesia bisa kembali mampu mengonversi kekayaan alam menjadi modal intelektual.


(LOV)