Payung, Karya Seni Sejati dari 'Negeri Tirai Bambu'

Prita Daneswari    •    Kamis, 12 Feb 2015 10:41 WIB
fashion
Payung, Karya Seni Sejati dari Negeri Tirai Bambu
Payung lebih dari sekedar pelindung dari hujan. Foto: Chinatraveldepot

Metrotvnews.com, Jakarta: Tidak seperti benda pelindung tubuh dari hujan lainnya seperti jas hujan dan sepatu bot, payung memang terbilang lebih spesial dari segi tampilan.

Payung telah mengalami evolusi panjang. Selain dari bahannya, bagian yang paling menarik dari payung adalah beragam bentuk dan warna serta motifnya yang menarik.

Payung yang pertama kali diciptakan terbuat dari bahan-bahan alami seperti daun kayu putih dan pohon palem. Tiongkok adalah negara pertama yang menciptakan payung dari sutra dan kertas yakni sekitar 3.000 tahun yang lalu.

Kemunculan payung sutra pertama di Tiongkok itu seakan mewakili karya seni sejati dan hanya berlaku bagi pedagang kaya, keluarga bangsawan, dan kerajaan. Menggunakan rangka bambu, payung pun didesain dnegan berbagai macam bentuk seperti naga, alam, hewan, angka, bunga, adegan-adegan dari mitologi mereka dan tulisan.

Di abad ke-1 Masehi, payung kertas pertama kali muncul dan umumnya digunakan para perempuan kaya untuk melindungi diri dari sinar matahari. Juga, sebagai aksesori fesyen mereka. Meski terbuat dari kertas dan hanya berbobot beberapa ratus gram, payung tersebut mampu melindungi mereka dari hujan lantaran telah dioleskkan minyak khusus.

Kelangkaan dan biaya tinggi membuat payung menjadi simbol kekuasaan di Tiongkok dan negara-negara Asia lainnya. Untuk membedakan diri, anggota kerajaan Tiongkok hanya membawa payung merah atau kuning. Sedangkan yang lainnya berwarna biru.

Beberapa abad berlangsung dan penggunaan payung mulai berkembang di masyarakat umum dan bahkan pria pun tidak segan menggunakannnya. Pada abad ke-3 Masehi muncul payung dengan mekanisme dilipat, diperpanjang, dan payung untuk penunggang kuda dan kereta.

Beberapa negara sekitar juga mulai mengadopsi payung dalam tradisi mereka dan ditampilkan dalam berbagai desain rumit sebagai karya seni, terutama oleh anggota kerajaan di Korea, Burma, dan Siam.

Malah, di Jepang, payung seakan menjadi benda wajib untuk perempuan yang dikatakan 'cantik'. Pasalnya, pada masa itu, perempuan kulit pucat merupakan simbol dari kecantikan. Jadilah, para perempuan Jepang menggunakan payung untuk melindungi diri dari terpaan sinar matahari.

Payung Tiongkok dengan desain unik dan feminin juga menarik perhatian perempuan bangsawan di Italia, Prancis, dan Inggris. Secara perlahan, mereka menjadikan payung sebagai aksesori.

Meski saat ini banyak masyarakat yang lebih memilih payung modern, namun payung tradisional masih dihormati banyak orang di Tiongkok. Bahkan daerah tradisional seperti Fujian dan Provinsi Hunan masih memproduksi jutaan payung setiap tahunnya.

Payung gaya Hangzhou adalah yang paling dihormati dan saat ini dirayakan untuk kualitas dan keindahannya. (Ningtriasih/Umbrellahistory)

 


(PRI)