Semangat Janti Wignjopranoto Menularkan Kebiasaan Hidup Sehat

Ahmad Mustaqim    •    Kamis, 30 Jul 2015 17:39 WIB
kesehatanmakanan sehat
Semangat Janti Wignjopranoto Menularkan Kebiasaan Hidup Sehat
Janti Wignjopranoto. (Foto:Ahmad Mustaqim)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: "Dengarkan badanmu. Dari situ akan bilang ada yang tidak benar pada kondisi tubuh, mulai dari salah pola makan hingga kebiasaan hidup yang tidak benar"

Kalimat tersebut diungkapkan Janti Wignjopranoto, 53 tahun, seorang praktisi vegan, raw chef, dan ayurveda coach. Apa yang Janti katakan itu bukan omong kosong. Hal tersebut dikatakannya berdasarkan pengalamannya sendiri dalam menjalani hidup.

Setelah mendapat vonis kanker serviks beberapa tahun lalu dan menetap di Yogyakarta pada 2014, Janti yang dikenal dengan nama Alter Jiwo ini kemudian memulai hidup sehat dengan mengutamakan konsumsi hasil kebun yang ia miliki. Di atas tanah seluas 1500 meter persegi, Janti dibantu beberapa orang karyawannya membuat kebun. 

Kebun itu berada di atap rumah dan di lahan kosong di sekitar rumah yang beralamat di Desa Jenengan, Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. Tanaman di kebun tersebut tumbuh tanpa tercampur obat-obatan kimiawi alias organik

Di kebun organik itu, ia menanam berbagai jenis tanaman, mulai dari sawi, tomat, krokot, seledri, ketumbar, cabe, bawang merah, pepaya, dan ada jenis tanaman rempah-rempah lain. Dari hasil kebun itu, ia bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa harus banyak menggantungkannya pada supermarket.

"Bisa memenuhi 60 sampai 70 persen lah. Kalau kurang, biasanya cari ke petani-petani lokasil seperti di Gunungkidul atau sedikit tambahan dari supermarket," kata Janti kepada Metrotvnews.com ketika ditemui di kediamannya.

Menurutnya, semakin banyaknya industri makanan justru semakin membuat tidak jelas kualitas makanan, meskipun harganya bisa dibilang murah. Baginya, konsep makanan yang baik adalah makanan yang dihasilkan dan dibuat sendiri di rumah.

"Sebaiknya memang kembali ke konsep awal, ke rumah. Ibuku 100 persen ibu rumah tangga. Setiap hari selalu masakin buat aku dan bapak. Yang paling baik kan hari itu dibeli, hari itu juga dimasak," ucapnya.

Ia menekankan agar masyarakat sebisa mungkin tidak tergantung dengan produk hasil komporasi yang memproduksi massal. Janti mengaku terus berusaha melakukan upaya tersebut. Misalnya, dalam pemakaian minyak, ia lebih memilih minyak dari bahan kelapa daripada minyak dari bahan kelapa sawit.

Berkat mengambil langkah perubahan gaya hidup itu, ia bisa merasakan hidupnya lebih segar tanpa harus melakukan pengobatan ke dokter. "Saya hanya percaya dokter dalam hal diagnosis penyakit. Dalam obat-obatan, beragam jenis tenaman di Indonesia lebih dari cukup untuk dikonsumsi. Saya belajar dari orang-orang zaman dulu, mereka itu luar biasa lho," ucapnya.

Pasar organik untuk petani

Janti tak hanya tinggal diam di tempat tinggalnya. Perempuan mantan HRD salah satu korporasi besar di Indonesia ini juga menjadi salah satu penggerak menggeliatnya pasar organik di Yogyakarta. Pasar organik itu ia beri nama komunitas Pasar Organik Jogja (POJOG).

Setiap pekannya, ada sebanyak empat sampai lima kali pasar organik yang bisa dikunjungi di Yogyakarta. Salah satu pasar organik berada di depan kediamannya yang diadakan setiap Kamis siang. Isi jualan dari dari pasar tersebut berasal dari para petani lokal di Yogyakarta.

"Sosialisasinya pakai sosial media. Sesebel apapun aku sama sosial media ternyata tetap punya pengaruh luar biasa. Banyak pembeli yang datang di pasar organik," tuturnya.

Ia meminta para anak muda tidak malu untuk bertani. Menurut dia, saat ini menjadi waktunya bagi kaum muda untuk bertani. "Boleh belajar bisnis, manajemen, dan sebagainya. Tapi aplikasinya harus di bertani," kata perempuan yang lahir dan besar di Kendal, Jawa Tengah, ini.


(LOV)