Sujatmiko Gigih Asah Pamor Batu Mulia

Triyanisya    •    Rabu, 26 Nov 2014 14:32 WIB
batu akik
Sujatmiko Gigih Asah Pamor Batu Mulia

Metrotvnews.com, Jakarta: Batu, kini menjadi sebuah lambang prestise baru bagi masyarakat Indonesia. Kepopuleran batu, entah mengapa, kian meroket. Tapi, jangan pernah lupa bahwa batu mulia Indonesia sebelumnya pernah benar-benar menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Ahli geologi sekaligus ahli batu mulia, Ir Sujatmiko, segelintir orang yang meyakini betapa batu bisa menjadi investasi yang sangat bagus, sebelum orang-orang menyadari.

Awalnya, pria lulusan Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) 1967 ini hanya iseng mengumpulkan batu-batu saat bekerja sebagai penambang. Namun, saat ini ia memiliki Pusat Promosi Batumulia Indonesia Gem-AFIA di Jalan Pajajaran, Bandung.

Miko sebelumnya tak tahu apa yang akan ia lakukan dengan segunung batu yang ia ambil dari berbagai daerah, karena kesibukannya sebagai geolog. Ceritanya berbeda sekarang. Sejak terjun menggeluti bisnis batu, Miko sangat fasih bicara mengenai jenis dan potensi ekonomi batu mulia.

Kini, rumahnya dipenuhi batu-batuan dalam jenis dan ukuran berbeda. Dibantu sang istri, Ai Mulyati, Keduanya bersama-sama bekerja di galeri Gem-Afia dengan ribuan batu yang sangat berharga.

Batu pertama yang ditemukan Miko adalah batu Krisokola (Chrysocolla). Batu tersebut ia temukan di tebing barat sungai Cipancong, Kampung Cigajah, Kecamatan Caringin, Garut, Jawa Barat sekitar tahun 1989. Batu itu terletak sekitar 30 meter di bawah permukan tanah.

Batu Krisokola berasosiasi dengan fosil kayu yang terjebak dalam satuan gunung api yang berumur kurang lebih 25 juta tahun lalu. Awalnya, Miko ditawari seorang pengumpul kayu untuk membeli beberapa jenis batu Garut yang ketika itu harganya masih Rp300 perkilo.

Ia sempat menolak, karena tidak tahu mengolahnya. Tapi, ketika mendengar bahwa 50-an truk bahan batu mulia dari Garut akan dibeli pengusaha asal Tangerang untuk diekspor mentah ke Taiwan, Miko merasa tak rela. Ia lalu memesan tiga truk batu mulia. Ia lalu membaca buku-buku batu mulia dan banyak belajar dari orang-orang yang lebih dulu memberdayakan batu mulia.


Foto:MI

Batu dengan berat empat kwintal tersebut kini dipajang di depan pintu masuk galerinya. Batu itu kemudian diolah dan dijadikan seperti tempat duduk yang ia sebut sebagai 'Batu Keramat'. Disebut Batu Keramat karena sejumlah tokoh penting seperti mantan presiden B.J Habibie dan istrinya, Ainun Habibie, Ms. Hidayat (mantan Menteri Perindustrian), Rini Soewandi, hingga pasangan artis Anang dan Ashanty telah duduk di batu tersebut saat berkunjung ke galerinya.

Batu tersebut merupakan batu yang paling berharga bagi Miko dan Ai karena merupakan batu yang pertama kali ditemukan hingga akhirnya membawa Miko terseret dalam kecintannya terhadap batu. Sempat ditawar untuk dibeli dengan harga mencapai miliaran rupiah, Miko menolaknya. Ia memilih untuk menjadikan batu tersebut pajangan di galerinya karena memiliki nilai sejarah yang tinggi baginya.

Untuk menampung banyak batu sekaligus mengonservasi batu mulia yang banyak diekspor ke luar negeri, pada 1994 Miko sampai membeli lahan bertingkat seluas 6.000 meter persegi di Jalan Pasir Luhur nomor 20 Desa Padasuka, kecamatan Cimenyan, Bandung.

Lahan tersebut ia jadikan tempat untuk mengonservasi lebih dari seribu ton batu mulia dari seluruh pelosok tanah air. Batu-batu mulia yang masih berbentuk bongkahan itu dipisahkan menurut daerah asalnya seperti Garut, Tasikmalaya, Sukabumi, Lebak Pandeglang, Purbalingga, Pacitan, Ponorogo, Solok Selatan, dan Sulawesi Tenggara.

Di antara batu-batu mulia itu, banyak di antaranya yang berupa artefak batu prasejarah. Tempat konservasi batu-batu itu dilengkapi dengan bengkel pembuatan mesin dan workshop pelatihan batu mulia. Hingga kini, Miko sering menyelenggarakan pelatihan kerajinan batu mulia yang mencakup 5 sampai 30 peserta dari berbagai daerah di tanah air.

Pada 1995, Miko mendirikan perusahaan yang diberi nama CV Gem- Afia dengan jumlah karyawan sekitar 30-an yang bertempat di kediamannya. Kata-kata “Gem-Afia” tersebut diambil dari nama Gem (batu mulia), dan Afia yang merupakan gabungan dari huruf depan nama-nama anggota keluarganya yaitu sang istri Ai, putri pertamanya Feni, dan kedua putranya Iman dan Ari.

Di masa kejayaan batu mulia, 24 jenis batu Indonesia milik Miko bahkan sempat diabadikan dalam bentuk perangko Indonesia seri khusus batu mulia yang dicetak sejumlah satu juta kopi dan disebar di seluruh dunia.

"Yang sudah masuk perangko koleksi kami sudah ada 24, masuk perangko Indonesia tahun 1997-2001. Dalam satu tahun dicetak empat sampai lima batu, itu ada 24 jenis batuan Indonesia, 23 dari kami, satu jenis dari ibu Tri Sutrisno waktu beliau masih sebagai ibu wakil presiden. Waktu itu, filateli begitu lihat batu-batuan kami ini, langsung putuskan bikin program lima tahun, perangko bergambar batu-batuan kami akan terbit setiap tahun. Bayangkan saja waktu itu berapa banyak orang masih kirim kartu lebaran atau surat pakai pos dan pakai perangko itu," jelas Miko.

Sejak itu, Miko merasa sangat senang bahwa batu mulia Indonesia mulai diperhatikan. Berkat konsistensi dan kegigihan Sujatmiko, pada 2004 popularitas batu mulia Indonesia kian meningkat.

Miko pun bercerita bahwa Rini Soewandi yang kala itu menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) Kabinet Gotong Royong di masa pemerintahan Megawati adalah salah satu orang yang berpengaruh dalam hidupnya.

Rini sempat meresmikan Pusat Promosi Batu Mulia Indonesia dan taman batu mulia yang dikelola Miko. Batu-batu di Gem-Afia yang tadinya berlokasi di kediamannya, akhirnya memiliki 'rumah'nya sendiri.

"Ini (Galeri Pusat Promosi Batumulia) sebenarnya dikontrak 11 tahun yang lalu sehubungan dengan inisiatif dari Menperindag waktu itu, Ibu Rini Soewandi. Saat itu, batu mulia dinilai sebagai potensi yang sangat strategis untuk menciptakan peluang kerja lebih banyak untuk masyarakat, maka dibangunlah galeri ini," ujar Miko.

"Batu-batu di sini," lanjut Miko, "Isinya hampir 90% adalah batu-batu dari seluruh Indonesia, ada dari Lampung, Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, juga dari Sulawesi, ada semua," ujarnya.

Memang, jika orang awam yang tak mengerti batu, tentu akan menanyakan sejumlah batu impor seperti sapphire, zamrud, ataupun ruby jika datang ke galeri milik Miko. Padahal, di brosur galeri pun sudah dituliskan bahwa galeri tersebut berfokus pada batu-batuan lokal.

Jenisnya macam-macam seperti Agates (akik), Amethyst (kecubung), Carnelian (akik darah), Chalcedony (kalsedon), Chrysocolla (krisokola/pirus Garut/bacan), Chrysoprase (krisopras), Citrine, Copper Gems, Jade (giok), Jasper, Obsidian dan Opal (Kalimaya).

Ada lagi beberapa seperti Tektite, Petrified Wood (fosil kayu membatu), Quartz Crystal (kuarsa kristal), Smoky Quartz (kinyang asap). Semuanya telah diolah menjadi berbagai bentuk, seperti perhiasan aksesoris (cincin, anting, kalung, gelang), tropi, souvenir, bingkai foto, plakat, bonsai, patung-patung, kursi, meja, pajangan kecil, dan sebagainya.



Miko mengatakan, pada awalnya ia dan Rini menargetkan galeri tersebut dijadikan museum tertutup khusus berbagai batu dari seluruh daerah di Indonesia. Miko ingin membangun sebuah museum rumahan yang bisa dikunjungi orang dengan membayar karcis masuk untuk mensosialisasikan kekayaan Indonesia.

"Waktu kami mendirikan galeri ini dan terjun di dunia ini (batu mulia), pada saat itu banyak sekali ekspor bahan mentah yang tanpa nilai tambah masuk kontainer, fosil-fosil kayu yang sekian meter dengan diameter yang sampai dua meteran itu masuk ke Cina, Korea, Taiwan, kadang-kadang ke Amerika, sayang sekali. Dari situlah kami sangat konsen sekali dengan hal ini," jelas Miko.

Tentu Miko menyayangkan bagaimana batu-batuan lokal dalam kondisi mentah justru diekspor ke luar negeri. Padahal, masyarakat Indonesia seharusnya bisa mengolah batu-batu tersebut dengan berbagai cara agar mendapatkan nilai tambah.

Atas permintaan dari Sujatmiko, Rini Soewandi bahkan menerbitkan Keputusan Menteri Nomor 385/MPP/Kep/6/2004 yang isinya mengenai larangan ekspor bahan-bahan mentah batu mulia, khususnya fosil kayu. Keputusan tersebut bahkan diumumkan langsung oleh Presiden Megawati saat mengunjungi Rangkasbitung.

"Tapi, sudah sejak Ibu Rini turun dari Menperindag, tidak ada perkembangan yang signifikan. Peraturan larangan ekspor barang mentah itu tidak disosialisasikan, apalagi empat bulan kemudian Presiden Megawati dan para Menterinya lengser.

Setelah itu malah semakin banyak ekspor mentah di mana-mana. Yang paling celaka, Singapura pernah mengimpor dari Indonesia, fosil kayu dari Banten, dipakai untuk reklamasi pantai. Harganya enggak sampai Rp100 ribu perkilo, bayangkan saja, itu sangat mengecewakan," tutur Miko.



Bagaimana tidak sedih, ketika bekerjasama dengan Rini di era 2004, Miko bahkan dikirim ke luar negeri untuk melakukan studi banding batu mulia, salah satunya ke Taiwan. Miko juga melihat mesin ultrasonik yang dipakai di sana untuk mengolah batu, yang tidak bisa dibikin di Indonesia.

"Dulu saya dan teman-teman adalah aset, kita pergi ke mana-mana punya misi, tapi beberapa tahun belakangan, tidak ada lagi misi," terangnya.

Setelah itu, tidak ada lagi perhatian-perhatian pemerintah terhadap batu mulia Indonesia. Miko mengatakan hanya beberapa kali pernah mendapat panggilan, itupun hanya untuk dimintai makalah. Tak ada lagi program pembuatan perangko Indonesia edisi batu mulia.

Sejak itu, Miko berusaha untuk melakukan berbagai sosialisasi untuk memberitahu masyarakat tentang tingginya harga batu mulia jika diproses. Miko berusaha membuat mesin sendiri, dan tetap mencintai batu-batunya.

Meski 10 tahun terakhir batu mulia kurang mendapat perhatian, Miko terus semangat untuk memperkenalkan batu mulia Indonesia. Ia kerap menulis di media cetak maupun materi presentasi untuk mempromosikan batu mulia.

Beberapa tulisannya yang terkenal adalah "Nasib Batupermata Garut, Emas di Negeri Orang, Batu di Negeri Sendiri" yang mampir di halaman utama harian Pikiran Rakyat pada 1991, "Opal from Banten, Indonesia, and its Varieties" dalam Journal of the Deutschen Gemmologischen Gesselschaft (September 2004 sebagai penulis pertama), dan "Chrysocolla Quartz from the Bacan Archipelago, South Halmahera Regency, North Maluku Province, Indonesia" dalam Journal Gemmology (2006, sebagai penulis pertama).

Ia juga tergabung di banyak organisasi pecinta batu yang hingga kini masih aktif dijalankannya. Ia tergabung dalam Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Sekretaris Jenderal Masyarakat Batu Mulia Indonesia (DPP MBI), Ketua Persatuan Penggemar Suiseki Indonesia (PPSI-Bandung), Ketua Masyarakat Batu Mulia dan Mineral (MBM Jabar), anggota Gemmological Association of Hongkong, Wakil Ketua Umum Bidang ESDM Kadin Jabar, Gubernur Rotary International Distrik Indonesia (2006-2007), dan masih banyak lagi.



Rupanya, semangat Sujatmiko berbelas-belas tahun tak mengecewakan hatinya. Kini, batu mulia itu 'booming' lagi. Bukan karena bantuan pemerintah, tapi karena gagasan anak negeri.

"Sekarang batu booming lagi, satu tahun terakhir ini, luar biasa. Seseorang bernama Suwandi Gazali membuat majalah 'Indonesian Gemstone' yang membahas tentang batu-batuan Indonesia. Semuanya tokoh-tokoh penting dengan batu-batuan dibahas di majalah tersebut. Saya sampai memberinya penghargaan. Ini adalah revolusi batu mulia. Semua orang terperangah dengan adanya majalah itu. Semua instansi pemerintahan belum mikirin ini, Suwandi sudah bikin. Sejak itu, yang tadinya galeri saya ini sepi-sepi aja, sekarang banyak mobil yang datang, ramai setiap hari, ini sangat menyenangkan."

"Ada orang yang sama datang setiap hari, ada juga sekumpulan pecinta batu yang rajin datang untuk saling bertukar informasi dengan rekan-rekannya, bahkan pejabat, perwira dan bule datang ke sini sampai ramai sekali. Bahkan filateli kemarin nelfon lagi untuk kembali menawarkan kerjasama dengan kami," ujar Miko.

Dari raut wajahnya yang tak tampak lelah mengurusi batu-batu, juga cinta dan dukungan sang istri kepadanya, Miko rupanya menyimpan berjuta harapan. Salah satunya, menjadikan batu Indonesia tuan rumah di negeri sendiri.

"Saya benar-benar berharap, dengan booming-nya kembali batu mulia Indonesia ini, masyarakat bisa menjadikan batu asal negeri kita ini tuan rumah di negara kita sendiri. Banyak kok batu mulia kita bagus-bagus, bahkan lebih bagus dan lebih bernilai dibanding batu impor. Saya harap, di masa kepemimpinan Presiden Jokowi ini, batu mulia bisa lebih diperhatikan lagi dan kembali mendapatkan dukungan seperti 10 tahun yang lalu," tandasnya.


(FIT)