Kekerasan Emosional Terkait dengan Migrain?

Nia Deviyana    •    Kamis, 14 Jul 2016 15:13 WIB
kesehatan
Kekerasan Emosional Terkait dengan Migrain?
(Foto: Wakingtimes)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kekerasan emosional tak hanya memengaruhi psikis anak-anak, tetapi juga berdampak pada kesehatan fisik. Pernyataan tersebut merupakan kesimpulan studi yang dilakukan Gretchen Tietjen, Profesor Neurologi dari University of Toledo.

Studi yang diterbitkan Jurnal Pediatric menemukan, individu yang sering terpapar kekerasan secara emosional saat kanak-kanak cenderung mengalami migrain ketika beranjak dewasa.

Peneliti berusaha menganalisis apa yang terjadi pada tubuh dan otak saat terjadi kekerasan emosional. Rupanya, pengalaman masa lalu mengganggu regulasi hipotalamus, hipofisis, adrenal axis--komponen yang mengatur hormon stres.

Hormon stres yang menumpuk ini dapat mengubah struktur dan fungsi limbik otak, tempat yang mengatur emosi, perilaku, motivasi, dan memori. Berdasarkan scan MRI, ditemukan perubahan limbik otak pada orang-orang dengan riwayat penganiayaan pada masa kanak-kanak.

Lebih dalam, tumpukan hormon stres juga mengganggu produksi sistem kekebalan tubuh, metabolisme, dan kerja sistem saraf otonom. Demikian dilansir Medical Daily.
Terapi perilaku kognitif menjadi salah satu langkah untuk menangani pasien migrain akibat stres.

Dalam konteks ini, dokter diimbau memberi perhatian khusus. Pasalnya, migrain akibat kekerasan emosional bisa berlanjut menjadi masalah kejiwaan, seperti depresi dan kecemasan, serta gangguan kesehatan fisik seperti fibromyalgia dan sindrom iritasi usus besar.



(DEV)