Pentingnya Dialog dalam Profesi Humas

Putu Radar Bahurekso    •    Selasa, 10 Nov 2015 17:59 WIB
karier
Pentingnya Dialog dalam Profesi Humas
Agung Laksamana (kanan). (Foto:Putu Radar)

Metrotvnews.com, Jakarta: Dialog merupakan hal yang sangat penting dalam profesi Humas. Dialog dianggap merupakan cara yang paling tepat untuk membangun hubungan, keintiman, sehingga memudahkan untuk bertukar pikiran dan informasi.

Perkembangan zaman membuat keadaan berubah, keadaan dimana yang tadinya lebih banyak komunikasi satu arah kini menjadi dua arah. Tidak hanya itu bahkan komunikasi massa maupun publik pun menjadi penting dalam profesi humas.

“Komunikasi dulu kan satu arah, cuma bikin rilis terus diatur kalau berita tuh seperti ini arahnya. Sekarang sudah tidak bisa, dizaman ini udah ga bisa satu arah tapi dua arah sehingga penting sekali melakukan dialog,” ujar Agung Laksamana, Ketua Umum BPP Perhumas saat ditemui di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Selasa (10/11/2015).

“Sekarang memperkenalkan produk itu harus lewat dialog, kita undang ketemuan, kita undang makan, kita undang kopi sore terus menjelaskan tentang produk kita,” lanjut Agung.

Komunikasi satu arah justru dianggap sering merugikan, tidak hanya bagi pencari data dan informasi tapi juga bagi lembaga yang ingin memperkenalkan setiap produknya. Komunikasi satu arah rentan terhadap multitafsir dari si penerima informasi.

“Kalau hanya kirim e-mail kan kadang-kadang bisa ada pemahaman berbeda dari setiap yang baca. Bisa aja dia ada masalah pribadi jadi mengartikan e-mail penjelasan kita dengan berbeda. Dengan dialog kan lebih terbuka dan lebih mendalam. Informasi yang didapat lebih jelas, jadi ada yang lebih berpengaruh,” tambahnya.

Perubahan keadaan ini tentunya menjadi tantangan sendiri bagi profesi Humas dalam melakukan pekerjaannya. Dari yang tadinya melakukan komunikasi satu arah, sekarang meluangkan waktu dan tenaga lebih untuk melakukan dialog.

Tidak hanya dialog, perkembangan zaman juga memberi tantangan-tantangan lain dalam dunia profesi Humas. Beberapa di antaranya adalah perkembangan dunia internet, sosial media, kemunculan MEA, hingga berkembangnya kompetensi.

“Tantangan dunia Public Relations itu banyak, perkembangan jaman yang cepat, ada perubahan channel, muncul MEA, kompetensinya juga berubah. Dengan perubahan yang begitu banyak dan cepat apakah PR kita siap? Kompetensi apa yang dibutuhkan untuk PR kita bisa maju?” ujarnya.

Dengan berkembangnya zaman ini diharapkan kompentensi dari para profesi Humas di Indonesia ini juga ikut berkembang sehingga mampu menghadapi perbahan zaman dan perkembangan teknologi yang begitu cepat apalagi jikalau melihat akan digelarnya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN).

“Saya sih berharap jangan cuma jago kandang doang PR kita, tapi kan kalau bisa juga berjaya di negara lain kalau bisa. Kemampuan juga harus berkembang, jangan cuma bisa nulis aja, kemampuan bahasa lebih diperbaiki, kemampuan berbicara di depan umum juga dikembangkan,” lanjut Agung.

Dalam lembaga pemerintah, Humas berperan penting dalam membangun karakter bangsa. Humas menjadi motor penggerak untuk mengedukasi publik dengan membangun karakter bangsa. Komunikasi Publik yang efektif menjadi salah satu tantangan humas.

“Pemerintah pusat, kementerian, korporasi, pemerintah daerah, serta lembaga negara lainnya sedang giat melakukan model kehumasan dengan dialog yang intensif untuk meningkatkan kepercayaan pada bangsa ini,” ujar Pamungkas Trihatmoko, Ketua Panitia Konvensi Nasional Humas Indonesia 2015.

Pamungkas Trihatmoko juga menambahkan bahwa dialog yang intensif juga berguna untuk meningkatkan kepercayaan terhadap bangsa ini ditengan krisis global maupun krisis kepribadian bangsa.

Seiring berkembangnya era komunikasi, ilmu PR, kemajuan teknologi informasi dan konvergensi media haruslah bersinergi. Maka praktisi Humas dan organisasi mutlak harus beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan kemajuan dunia media digital untuk menelisik potensi jenis dan bentuk media yang tersedia.

“Karena yang namanya pekerjaan Humas adalah berhubungan dengan dialog, percakapan, dan diskusi. Itulah utamanya,” pungkas Agung. (ADV)


(LOV)