Penantian Enam Tahun Ayu untuk Sembuh dari Hepatitis C

   •    Rabu, 19 Aug 2015 15:50 WIB
kesehatan
Penantian Enam Tahun Ayu untuk Sembuh dari Hepatitis C
Ayu Oktariani. (foto:Twitter)

Metrotvnews.com, Jakarta: Setelah divonis positif HIV, Ayu Oktariani juga dinyatakan menderita Hepatitis C pada 2009 silam. Beruntung, virus HIV yang bersarang di dalam tubuhnya bisa diatasi dengan pengobatan gratis dari pemerintah. Akan tetapi, pengobatan tersebut tidak berlaku pada virus Hepatitis C yang diidapnya.

"Saya tidak mendapatkan pengobatan Hepatitis C sama sekali. Dokter memang merekomendasikan saya berobat tapi dampaknya bisa sangat buruk untuk pasien HIV seperti saya," ujarnya saat ditemui tim Metrotvnews.com di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.

Dokter yang menangani wanita yang aktif dalam komunitas ODHA tersebut akhirnya hanya menganjurkan untuk menjaga pola hidup sehat. "Sebenarnya, saat itu tidak ada pilihan lain untuk Hepatitis C selain menyuntik interferon. Tapi, harganya sangat mahal dan lagi efeknya sangat luar biasa bagi saya," tambah Ayu.

Enam tahun menunggu, wanita berkacamata ini akhirnya mendapatkan informasi bahwa telah hadir obat baru yang aman dan terjangkau untuk pasien Hepatitis C.

"Waktu tahu berita itu saya langsung melakukan pemeriksaan lagi, bagaimana detail kondisi Hepatitis C saya," kenang wanita asal Bandung ini.

Jumlah virus Hepatitis C dari tes viralnya mencapai angka 4,8 juta. Meskipun belum mencapai tahap yang agresif, Ayu mengaku sangat terpuruk.

"Ya sedih yah, soalnya HIV saya bisa dikontrol tapi Hepatitis tidak. Hepatitis C itu seperti gunung es, diam-diam namun mematikan, tidak seperti HIV yang gejalanya begitu nampak," lanjutnya.

Karena obat Hepatitis C Sofosbuvir versi generik belum beredar dan tersedia di Indonesia. Ayu dan ketiga rekannya dari Indonesia AIDS Coalition (IAC) memutuskan untuk membeli langsung dari negara Taj Mahal, India. Ketika itu, lanjut Ayu, mereka mengutus salah satu perwakilan IAC pergi ke India untuk membeli obat Sofosbuvir dengan bantuan komunitas ODHA di sana.

"Saya tidak asal memilih obat. Dokter memang sudah merekomendasikan itu untuk mengobati penyakit Hepatitis C saya. Jadi, kami membeli obat setelah diresepkan dokter dan juga membawa rekam medis untuk mengatur porsinya," ungkap Ayu. 

Ayu mulai meminum obat Sofosbuvir mulai tanggal 5 Juli hingga 5 Agustus 2015. Dalam rentang waktu itu, virus Hepatitis C Ayu sesuai tes viral loadnya turun jauh menjadi 800 saja. "Saya sangat optimis untuk lima bulan ke depan, virus saya akan benar-benar hilang," ujarnya.

Satu kali pengobatan Hepatitis C membutuhkan waktu sekitar 12 sampai 24 minggu tergantung jumlah virus yang dideritanya. Sekali treatment sofosbuvir, Ayu hanya mengeluarkan biaya 24 juta rupiah dan itu sudah termasuk dengan obat Ribavirin. Sangat jauh berbeda dengan pengobatan Pegylated Interferon yang memakan harga USD84.000.

Ayu saat ini sedang aktif mengajukan petisi kepada BPOM dan Kementerian Kesehatan untuk segera mengeluarkan izin obat Sofosbuvir dan memasukkannya dalam akses Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Untungnya, petisi itu telah direspon dengan baik bahkan Kemenkes sudah mengeluarkan Permenkes No. 53 tentang penanggulangan virus Hepatitis.

"Saya sudah menunggu enam tahun untuk ini dan buktinya saya berhasil tanpa berefek pada HIV saya. Saya enggak mau sembuh sendiri. Saya mau sembuh bareng-bareng pasien Hepatitis C di Indonesia. Obat ini benar-benar sangat dibutuhkan dan harus segera ada di sini," tutupnya. (Sumarni)


(LOV)