Benarkah Garam Laut Himalaya Menyehatkan Tubuh?

Torie Natalova    •    Rabu, 15 Nov 2017 15:56 WIB
Benarkah Garam Laut Himalaya Menyehatkan Tubuh?
Garam Himalaya diklaim tidak diproses dan memiliki rasa yang alami sehingga secara kualitas lebih unggul dibanding garam biasa yang melalui proses kimia. (Foto: Healthpositiveinfo.com/Pinterest)

Jakarta: Kemajuan tak hanya dialami di bidang teknologi tapi juga kuliner. Kini, banyak orang yang memilih hidup sehat dengan menggunakan bumbu dapur atau bahan makanan alami dan organik. Salah satunya adalah garam.

Garam meja atau dapur adalah yang paling banyak digunakan karena mudah didapat dan memang diproduksi banyak. Namun, kini banyak yang beralih dari garam meja ke garam laut pink Himalaya atau Himalayan pink sea salt.

Himalayan pink salt adalah garam yang berasal dari deposit garam laut kuno yang terbentuk lebih dari 250 juta tahun lalu di kaki pegunungan Himalaya. Hal ini diyakini sebagai bentuk paling murni dari garam yang tersedia.

Apakah benar garam ini lebih menyehatkan dibanding garam meja?

Garam Himalaya diklaim tidak diproses dan memiliki rasa yang alami sehingga secara kualitas lebih unggul dibanding garam biasa yang melalui proses kimia. 

(Baca juga: Fakta Menakutkan tentang Garam Laut)


(Himalayan pink salt adalah garam yang berasal dari deposit garam laut kuno yang terbentuk lebih dari 250 juta tahun lalu di kaki pegunungan Himalaya. Foto: Getty Images)

Tetapi, pada kenyataannya perbedaan komposisi kimia antara beragam jenis garam sangat kecil. Sehingga, garam laut, garam batu, garam meja, garam organik dan garam Himalaya, semuanya terdiri dari bahan kimia yang sama, natrium klorida.

Sebuah survei 2011 yang dilakukan Which! magazine membandingkan kandungan natrium klorida dari garam meja dengan berbagai garam batu dan laut. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka mengandung natrium klorida yang sama satu dengan yang lain. Namun, 39 persen orang percaya garam laut lebih sehat daripada garam meja.

Garam laut Himalaya banyak digunakan karena kandungan nutrisinya yang mengandung 84 trace mineral. Meski demikian, belum ditemukan bukti bahwa garam Himalaya ini dapat menurunkan tekanan darah, mendukung penurunan berat badan, menyeimbangkan hormon, memperbaiki sirkulasi dan memungkinkan tubuh melakukan detoksifikasi.

Perlu diingat bahwa mengonsumsi terlalu sering makanan yang mengandung garam dapat memicu risiko tekanan darah tinggi, penyebab utama stroke dan serangan jantung. Karenanya, garam merah muda atau putih, sebaiknya tetap konsumsi garam tidak lebih dari 6 gram sehari.








(TIN)