Perasaan Kesepian Ternyata Bersifat Genetik

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 23 Sep 2016 15:03 WIB
psikologistudi kesehatan
Perasaan Kesepian Ternyata Bersifat Genetik
Sekitar 14-27 persen rasa kesepian berasal dari genetik, sisanya dari pendidikan, lingkungan, dan faktor lainnya. (Foto: Youqueen)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah studi menemukan bahwa perasaan kesepian tenyata tidak berlangsung sementara, namun permanen karena bersifat genetik. 

Para peneliti melihat informasi genetik dan kesehatan pada lebih dari 10 ribu warga Amerika yang berusia di atas 50 tahun, dan mengajukan beberapa pertanyaan, seperti apakah mereka sering merasa kurang ditemani, ditinggalkan, dan terasing dari orang lain. 

Pertanyaan tersebut tidak langsung mengarah pada topik kesepian karena, menurut para peneliti, banyak orang enggan mengakui perasaan tersebut. 

Setelah mereka melihat berbagai variasi genetik, jenis kelamin, usia, dan status perkawinan; para peneliti, dari Universitas California San Diego School of Medicine, menemukan bahwa kecenderungan untuk merasa kesepian selama seumur hidup adalah ternyata diwariskan.

(Baca juga: Ini Keuntungan Punya Pasangan Pria Sensitif)

Faktor yang mempengaruhi
Mereka memperkirakan bahwa sekitar 14-27 persen berasal dari genetik, dan sisanya dari pendidikan, lingkungan, dan faktor modifikasi lainnya. Dengan kata lain, beberapa orang secara genetik diprogram untuk merasa kesepian dalam situasi yang sama di mana orang lain akan merasa senang. 

"Untuk 2 orang dengan jumlah teman-teman dekat dan keluarga yang sama, salah satunya mungkin melihat struktur sosial mereka sebagai sesuatu yang memadai sementara yang lain tidak," kata pemimpin penelitian Abraham Palmer, PhD, profesor psikiatri dan wakil ketua untuk penelitian dasar di UC San Diego, dalam siaran persnya.

Penelitian lain menunjukkan, bahwa perasaan kesepian 37-50 persen itu diwariskan. Penelitian tersebut melihat pada variasi genetik yang lebih sedikit, sehingga hal tersebut bisa menjelaskan mengapa terjadi perbedaan dalam temuan tersebut. 

Kesepian cenderung diwariskan
Studi baru yang dipublikasikan pekan lalu dalam jurnal Neuropsychopharmacology tersebut juga menyimpulkan, bahwa kesepian cenderung diwariskan bersama dengan neurotisme yang merupakan keadaan emosional negatif dalam jangka panjang. Terdapat juga kaitan yang lemah antara kesepian dan skizofrenia, gangguan bipolar, dan depresi klinis.

Palmer mengatakan bahwa kesepian merupakan bagian dari sistem peringatan biologis tubuh yang telah berkembang untuk mengingatkan kita dari ancaman, dengan cara yang sama seperti sakit fisik. Namun, tidak semua orang merasakan ancaman tersebut dengan cara yang sama.

"Sangat penting untuk dicatat bahwa seseorang bisa sendirian, atau hanya memiliki beberapa teman dekat, dan merasa tidak kesepian," ujat Bruce Rabin, MD, direktur dari University of Pittsburgh Medical Center. "Atau, Anda bisa menjadi seseorang yang mudah bergaul, dan keluar dengan teman-teman setiap malam minggu dan masih merasa terisolasi," katanya. 





(TIN)